Archive for September, 2005

Ketika Rindu Merajai Musim….(sebuah kisah usang )

Saturday, September 17th, 2005

Ketika Rindu Merajai Musim….


Bag. 1

Mungkin jalanku sedang buta….

Kutapaki butir-butir kerikil di tanah itu

Satu demi satu terhempas mengudara

Melayang tak tentu lalu jatuh ke tanah

Angin berarak menyapa tanah

Mengajak debu-debu turut menghempas

Bunga itupun tidak diam… ikut menari bersama angin

Mungkin suara itu sedang tak melagu

Mungkin api itu telah padam

Mungkin lorong itu sedang tak bertujuan

Segalanya kosong …

Hanya pekat yang kutemukan…

Dan…. Luka itu terus menjerit…

                Kenangan tak berkesudahan membuai…

                Hinggap… bersemayam …

Dan…. Hanya kalbu yang meneriakkan rindu

Karena sia-sia itu sudah lama bersemi…

Hanya gelap yang tersisa…                                              

Bag. 2

Dia yang tidak Hidup

Gadis itu hanya memandang kosong

Diam dalam gelap dan hampa tanpa makna

Terpenjara dalam romansa…

Dia tertegun…hanya bisu membius

Dia tak hidup…namun nafas masih tergenggam

Dan ruh belum sirna

Dia hanya tidak hidup!

Kini gadis itu berjalan… kembali meniti bayangan

Senyumnya merekah mengingat tawa itu

Kini dia tertunduk…

Teriris luka abadi…

Dan … dia hanya melangkah untuk meniti bayangan

                Seongok bayangan yang sudah usang

                Diselimuti kabut tua waktu lalu

Waktu terus mengalir…

Menghanyutkan hitungan masa…

Detik…detik…berdetak seiring detak jantung

Tak berhenti…tak mengerti….

Namun Nafas masih tergenggam

Ruh pun belum sirna

Hanya, dia tidak hidup …!

Bag.3

Harap

Pernahkah kau tahu…

Tiada kata seindah untaian itu

Bersembunyi sejuta rindu di dasar hati

Memantulkankembali lukisan waktu lalu

Menggoreskan harapan usang

Mungkin engkau hanya bayangan tak berwujud

Terpantul kembali di bilik ingatan

Kapankan kita bertemu kembali…?

Ah.. Semoga umurku masih panjang…

Dan semoga takdir menurutkan mimpiku

Ke berharap…..

Bag.4

Hadirmu Tak Ku Mengerti

Sayang, aku tak tahu

Apa yang membuat bayangmu mengisi malam-malamku

Apakah suatu cobaan yang harus kuambil hikmahnya ataukah

Suatu petunjuk dari-Nya…Menuju jalan abadi itu

Sayang, cangkir itu telah penuh oleh rindu

Rindu yang tak berwarna, karena tak jua kau meminumnya

Karena tak jua diperbolehkan oleh takdir-Nya

Jika masa itu datang

Entah mengapa aku ingin berlari menjauh

Aku tak mengerti… mungkin yang aku mau hanya bayanganmu, lantas

Mari kita kembali ke masa lalu

Aku tak mengerti…

Aku hanya ingin sendiri mendekap bayangmu

Ketika masa itu datang…. Ketika kau menjadi nyata…

Aku ingin secepatnya berlari menjauh

Mungkin selamanya bayanganmu dan masalalu menjajah diriku

Mengukung kebebasanku

Namun dirimu tidak akan pernah menjajahku

Karena aku mencintai dirim,u di masa lalu… ilusi dirimu

Bukan tubuh nyata yang berdiri di hadapanku !

Bag. 5

Kau yang Maha Sempurna di Kelopak Hatiku

Kau adalah nyanyian pertama yang mendendangkan kebesaran hati

Syahdu mendalam hingga melunakkan bongkahan hati terkecil

Kau adalah bait pertama dalam syair kelapangan jiwa, menyentuh takdir-Nya

Jiwamu putih dalam kesederhanaan namun apimu selalu memancar panas

Setiap rongga gelap pekat yang tak tergapai menanti sinar harap yang nyaris sirna

Engkau mengajarkanku untuk meraih keabadian dalam Cinta

Kau  yang mengenalkanku pada cinta yang membebaskan

Kau pula yang menyulut sinarku hingga tegar menyelami rimba hidup

Karena kau adalah sebuah anugrah untuk ribuan bintang di surga

Aku hanyalah bintang kecil yang redup tak bertujuan

Hingga sinarmu datang dalam rangkaian teka-teki takdir-Nya

Sinarmu utuh menerangi hatiku

Namun aku hanyalah bintang kecil di jagat Bumimu

Walau demikian, izinkanlah hati ini untuk mencintaimu

Tidak dengan sederhana namun dengan bijaksana

Cinta yang membebaskan dalam kebijaksanaan

Karena ku tahu….

Kau adalah bintang mimpi terindah yang tak mungkin ku gapai

Bag. 6

Ketika Jiwa dan Hati Bertutur

Ku katakan dengan bisik, ketika jiwa ini berteriak

Melolong keras bak singa yang ingin bebas dari kurungan

Jiwa ini menjerit, bak jeritan mawar ketika tangan kejam mencabut sang bunga dari dahannya

Jiwa ini menangis, airnya menderai turun deras, merah pekat mengalirkan darah kesunyian

Dan… kemudian jiwa ini bertutur….

“aku bosan dengan segala ketiadaan!”

“aku bosan menggenggam harapan!”

“aku pun bosan hanya merengkuh bayang!”

Piluku pun berkata…..

“Aku masih mengasihani diriku, walau yang tersisa hanya luka!”

“ketika jerit ini…luka ini…tangis ini….hanyalah milikku!”

“tidak juga kau, karena kau masih tertawa tanpa merasakan!”

dan suara jiwa ini pun hanya mendesah rintih memadu bisik

“Cukup sampai disini untu semua harap dan mimpi!”

“semua harus mati dan kau kini hanyalah bangkai kenagan yang terkubur jauh di dasar ingatan!”

Karena aku tak rela sinarku redup, hingga sia-sialah ayunan waktu yang berdetak!

Biarlah malam ini berakhir dan langkahku tegap menyongsong terang!

Mungkin hampa lebih baik!!!

Karena….

Aku mencintai diriku dan hari esok….!!!!

Bag 7

SMS

Jika memang SMS mematikan gerak manusia, aroma dan suara. Menghentikan temu kelopak mata, melumatkan kebekuan namun meredupkan keberanian di alam nyata, Lantas… Bagaimana membebaskan diri dari jeruji imajiner dalam ketiadaan yang tidak lebih hanya hiperbola belaka ? Dan disinilah otakku yang telah termutilasi dari barisan kata itu. Aku sakit! Sepertinya……sarafku mencoba menata serpihan puzzle. Dan disinilah aku…terapung di sungai mimpi hingga fajar beranjak, menusuk bawah sadarku…..

-purple-

Bag 8

Politik Cinta

Disuatu titik hitungan waktu ketika magnum opus

massa

menembus batas ruang. Semuanya terhenti. Lalu meledakkan proyeksi yang melintas masuk ke dalam sel-sel otak. Kata-katamu membuat ku tersadar. Aku hanyalah alat politikmu demi libido kuasamu, menancapkan dominasi dalam phalussentris. Ya.. aku hanya alat dan cinta tak hanya permainan namun cinta adalah politik. Politik cinta dimana politik menjadi alat untuk menguasai cinta. Cinta yang hanya dijadikan alat untuk menguasai cinta yang lain. Dan aku muak!!!

Bag 9

Berdiri

 

Ia

Mengakhiri

gadis itu kini tersentak

kembali ia ke alam realitas

Dia tahu dia ada, namun dia hanyalah seongok daging tak bermakna

Dia menangis atas kesia-siaan

Tangisnya mengharap hidup

Namun waktu tak jua luluh… terus angkuh mengalir

Bersatu dengan air mata sesal

Dia berteriak :

“ Aku hanya ingin

Ada

!!!”

“ Aku hanya  ingin hidup!!!”

- indah-

Depok, 2004

THE FAILED OF REFORMATION

Saturday, September 17th, 2005

THE FAILED OF REFORMATION

INTRODUCTION

A.      Background of studies

Reformation a days has become a common word in politics in this country now. The supporter of reformation in politics and economics extend not only student movements and intellectual criticisms but also government. It was begun from House of Representation, Military, and all people who live in

Indonesia

. The purpose of government or House of Representation in supporting the reformation is not clear. They just follow the trend to safe they profession. They just want get profit from this tragedy or they really want

Indonesia

to change to be better.

The reformation period, as one of history phenomenon that replaces Orde Baru. Orde Baru has made Indonesians suffer as long as 32 years with all the policies from The King who hold the authority. Reformation has hold important part in replacing Orde baru.

The reformation period has run as long as 5 years but

Indonesia

still does not change. There are progresses in some aspects in Indonesians life, like democratization, open mind, or freedom to speak your mind but it is not enough to make

Indonesia

becomes stabile in economics or politics like before. All people knew that Soeharto has left debt about 100 trillion rupias and because of that we can see the effect from that. Now Indonesian is controlled by organization that has lent us the money. They are IMF, World Bank, etc.

As long as the formation period,

Indonesia

has changed the president for three times. Every president owns “unique” story when he/she holds the authority. First example is Habibie. He was third the president after Soeharto. In his authority period, he succeeds in selling Timor-Timor. Let’s forget about his background, whether he came from economic community that all things are counted by money or whether he came from military that all things are expected by winning or losing. However, he succeeds making new

Indonesia

history. He made

Indonesia

lost one of its “children”. The readers maybe knew that to have Timor-Timor in the past we needed sacrifice and not few people had killed. The fourth president after Habibie is KH. Abdulrahman Wahid or usually we called him Gusdur. In his authority period, he spent it with going around the world. The purpose of why he did it is not clear. He did it to get support from other countries or to get support that related to him self and his authority, but one thing that the readers have to know that the vocation is not free. He used exchequer for his vocation. The fifth president of

Indonesia

is Megawati Soekarno Putri. She is Soekarno’s daughter and she inherits Soekarno’s talent in speech. Her mistake in her authority period is that she sold some major state’s asset like Indosat Pertamina (only half of share) and now she will sell PLN and Telkom share. She does not know that Indosat and Telkom are important because they are relating with information. If foreigners have taken information that easily, our country can be controlled. Information can be used as tools to make propaganda and it creates war, crime, and other negative things will be happened

THEORY

In this chapter, we talk about the things that in connected with Reformation. The things like Politic, Democracy, Authority and Reformation it self.

Politic is The art of living together, despite differences (Seery,John Evan. 1990. 340) Politic is so connected with all revolution and all change it’s include Orde Baru fall, Reformation period, student and people movement, etc.

Politic reformation period realized because of democracy in

Indonesia

is disappearing. Now let’s talk about Democracy Definition. In much-quoted statement, Abraham Lincoln described democracy as government of the people, by the people and for the people. The statement is good, thought it is not as sharp as it might be in distinguishing democracy from other forms of government. All governments are “of the people” in the sense that they rule over people, all governments have people as their subjects. Most or all governments claim to be “for the people “ in the sense that they serve the interest of the people, if not their desires.

Lincoln

’s control phrase is thus the key one: Democratic government is government “by the people” democracy provides for self-government (Dyke, Vernon Van.    1992. 9)

The criteria and ideal standard to value democracy process is:

1.        Enlightened understanding

Democracy as government by people, it means People can get all things that they want to have, They want to do and what they see that is better for them. However people must be enlightened and must be educated in order to decided what they want. Government must give people freedom like Freedom to talking and writing, Freedom to expression and freedom to speak their mind.

2.        Effective Participation

There are two steps to taking over decision. The first is appointment plan and appointment result. Before go to final decision in democracy nation, People must active in appointment policy, influence and decide the result process.

3.        Controlling in planing decision.

People must have exclusive opportunity to decide steps and priority in that planning. People hold ended word or the last control in everything policy.

4.        Equality in taking over decision.

a.        Everybody have equality in taking over. Individual as Autonomous agent who has ability in rational thinking to developing them self.

b.       There are choices to be chosen

5.        Economic development must be done with democratization because of possessor production factor must be done with fair and spread. Nation holds authority in authorizing the important branches of the Nation that influence to Indonesian life in order to losing monopolist. (Panggabean, Samsu Rizal. 1996. 3 - 7)

Power is a relationship in which one person or groups are able to determine the action of another in direction of the farmer is own ends (Laswell and Kapian. Op.cit. 74) It is thread of sanctions which differentiates power from influence in general. Power is a special case of exercise of influence: It is the process affecting policies of others with help of actual or threatened severe deprivation on non- – comfornity with the policies intended (Lasswell and kaplan. Op.Cit. 76)

Reformation period is also called resurrection democracy period. President B.J Habibie on

August 15th 1999

said that reformation is correction that institutional and continuously in all deviations in economics, politics, and laws, in order to Indonesian get up again in open situation and democracy situation. (Budiyanto.2000. 165)

ANALYSIS

A.      The Reformation Background

Reformation now becomes a common word that the most people said and write. That word actually has simple meaning but now it keeps complex problem and contains the biggest energy to change nation destiny to be better (Maruto and Arwani. 2002.vii). Reformation appears because of the long crisis. Start from monetary crisis and it becomes expansion. That crisis because of system that is made by Orde Baru government but in the end, Orde Baru Authority can not hold on and fall in the middle of 1998.

Orde Baru has been able to stand up for so long because it has ability in organizing it self and in public controlling (Wahid, salahudin. 2003. 2). The system that has been created by Orde Baru has been growing and become public culture in Indonesian. Most system has been created to make easy government and people to do Corruption, Collusion and Nepotism (CCN). One of reformation aimS is to make CCN disappear from our government political system. However, it is not easy because it has become a culture in

Indonesia

. It impossible to make CCN disappeared only in short time but since reformation begun it can decrease. CCN can disturb reformation process.

Orde Baru produces the big disparity in economy, politic, social and culture. Disparity between the authorize and unauthorized. The difference expansion between element nation, and ethnic (SARA).

Because of that situation, reformation movement has larger room to fought and appeared.

B.      The Obstacles Democratization Process in

Indonesia

The Indonesian now look up upon many difficult choices in coordinating and running the strategic direction to bring up people’s life in all aspects in their life. One of the progress that can be decreased the totality of broken is changed in politic. In politic, Indonesian has succeed in doing some corrections that are very useful.

Politic process that happened for 2 years since 1998 to 1999 has made democratic in

Indonesia

growing up and standing up far enough. We can see the progress like the change House of Representation structure, freedom in press, freedom to speak their mind and correction in general election system. That means democratization process in

Indonesia

has run far enough from 1998 to 1999. People can see and feel some effects from democracy in

Indonesia

in of nation or out nation. Although some corrections have happened, one question should be answered. The question is, did

Indonesia

have done the real democratization? To answer that question we can look democratization problem in

Indonesia

.

         Democratization problem in

Indonesia

is:

1.        Democracy in

Indonesia

is not widely spread, democracy appears only in big cities and some area. We can see the observation from laboratory political science in University of Indonesia cooperate with Ohio State said that more than 86% elector does not know who is their representation to sit down in house of representation. Democracy becomes sustainable only in some area and some element in this nation that means that democracy in

Indonesia

so far from sustainable.

2.        Many people use Democracy to do anything to get profit, to conquer their rival in competition and conflict. Even at the same moment, some democracy elements appear decline to some other elements like crime and anarchism.

3.        The fall of Orde Baru and economic crisis that have been caused unstabile politic since 1998 to 1999 that cause acceleration of democracy in

Indonesia

. That means democracy since 1998 to 1999 is not happen because people have full knowledge about democracy but it is “compulsory democracy”. With that condition like that we can see after 1999 democracy decline and even come the anti democracy element.

C.      The Obstacles of Reformation that Cause the Failed of Reformation

Reformation that has happened in

Indonesia

is not following reformation concept and principles. Reformation in

Indonesia

is:

1.        Reformation in

Indonesia

is not able to discriminate between old bad value and new value that can change old bad value to be better. Other means that reformation in

Indonesia

does not have clear concept.

2.        Reformation in

Indonesia

is not able to identify what system that must be changed and tred to make alternative system. New System usually is old system that is packed by new way without clear alternative.

3.        Reformation in

Indonesia

not changes old behavior and old mind set with new behavior and new mind set. “Old people” with old behavior and old mind set exist more because they are very smart in put theim self as “servant” and “the king”

4.        Reformation in

Indonesia

is not able to separate between old power and new power. Because of that there are not clear rules to punish them and we can not “wash” all the old power

5.        Reformation in

Indonesia

is walking on the power share and power shift and is not walking on the power change. This is proved that fact after conflict is general election (PEMILU) and not reconciliation and clearing

6.        Reformation is not lead by reformation and revolution leader who the leaders really want to do systematic correction and in the right reformation ideology. Most of leader is people who want to get authority. They are marginal group in old authority system and not opposition group.

By that, social change means that reformation that is happened in

Indonesia

is pseudo reformation. Reformation like that can not fulfil reformation aim that has systematic in makes disappear CCN (KKN), politic and economic democratization and stand up the rules.

All dynamic and social problems now can read in some context in the failed of reformation get all aim and targets. Salahudin Wahid in

Indonesia

conference student in Balai sidang BNI University of Indonesia said that the important things that causes of failure of reformation is:

1.       Social distrust

Social distrust is general phenomenon, which we can see easily in non-formal or formal situation. This social distrust can be categorized in three kinds:

a.        The leader distrust

The cause of leader distrust are:

-          Objective causes

The crisis of leadership in every level in local or national. The new CCN (KKN), economic and political crisis that makes people distrust to government

-          Subject causes

Indonesian misses the strong leader like in Orde baru this is like anomaly in the unpredictable situation, people misses old way that give them save.

b.       Distrust to system

This distrust because of the failed of old system that give certain in arrangement in nation life.

c.        Distrust to fellow man

This distrust comes from the marginalisasi people process since Orde baru. People always be object by the authorize in Orde baru. The opportunity that had been given a number of people makes the distrust fellow man.

2.       Social Violence

Radical effect from social distrust is violence in social community. Most of people like right action by violence when they feel disturbed or have a problem. That causes people become distrust system.

3.       Instability politic

Another effect from social distrust in elite politic level is character assassination culture between politician. Character assassination is the most donator instability in politic that is included political life today. Instability comes from unclear all rules and priority their self and their group.

4.       The economy crisis

Until now, the rehabilitation of economic nation so far from people hopes. The economy growth is so difficult to predicted and more consumption that production or invitation in this nation. Pure people are the major sacrifice from economy crisis and the fact of this is there are more unemployment in

Indonesia

today.

5.       The disintegration Threat

a.        Social disintegration

Disintegration causes from unfair from criminal cases to humanism in the past.

b.       National disintegration

National disintegration is the separated nation that is caused the difference between center and town as ten years and until now, we can not found the solution.

CONCLUSION AND SUGGESTION

                                                             

CONCLUSION

Reformation in

Indonesia

starts since Orde Baru authority fall that has authorized as long as 32 years. Until today reformation run about 5 years, but it is not produce real things, the great things and it so far from Indonesian’s hope. Some President after Orde Baru fall is not producing the rational leaders but dictator leaders. Dictator leaders or bad condition now is better than Orde Baru

Many scandals have been done to defend their authority. From the out side,

Indonesia

is seen stabile than in transition period but it is not true the fact say that it is not full stabile but just “like stabile”. Political Party as formal institution is not useful like democracy symbol. They are not hear people’s hope, they are only to get authority and than they get opportunity to do Corruption, Collusion and Nepotism. Situation in

Indonesia

become worst, to corrects all, that is needed cooperate and union from people and government. Beside it, That is needed control to government in order to government still in the reformation right way. Today, reformation has failed but reformation does not die. It is time to wake up from the fault to the New Indonesia.

SUGGESTION

The failed of reformation is caused by social problems that we knew in Part three. The social problems are so complex and need long time change it all. Proof, Dr, Nurcholis Madjid said that process to democracy is like to climb sky-scraper building from first floor to the last floor without lift. It means that to go to Democracy Nation needs more energy, more times, more power and more concentration. The major thing is Reformation is not realized without democracy. Democracy and reformation is not realized if the process to go them is run by violence, because of that consolidation democracy process must be run by peace way without violence.

Social problems like social distrust, social violence, instability politic, the economy crisis and the disintegration threat can be solved by this ways:

1.       Social Distrust

Social distrust can be solved by education is based by multicultural that enable Indonesian to understand the meaning of difference and it must socialize since early. Justice in law to all people is needed to decrease social distrust.

2.       Social Violence

Social distrust factor and fault in conflict solution cause social violence. The long-term solution is, it must be given love and peace feeling in daily life. The short term solution, social distrust can be prevented if all institution formal and non formal can do cooperate together and do educative in socialize the important of obey to the law.

3.       Instability Politic

Ineffective elite political and government work cause instability politic. This is can solved by perfecting political system and do that system with consistent. Government must wind with people in decide policy process in order to democracy in

Indonesia

can be realized.

4.       Economy crisis

Today is too difficult to recovery economy because all natural sources are just authorized with some people, if they are failed so economy will be paralytic. The solution for this problem is, government must decrease centralization and try to create the real otonomy for each province. In short term government must increase economy development to invite foreign investor to invest their money and government must decrease complex law in export and import commodity in order to get many devisa to our country.

5.       Disintegration Threat

National disintegration is the separated nation that is caused the big difference between center and town. In Orde Baru is happened centralization so only big city and the capital of nation that become progress. In reformation period, autonomy must be increase in order to spread everywhere will realize.

Depok

2002

Pencarian

Saturday, September 17th, 2005

Pencarian

Tertegunku menatap layar biru

Inginku menuliskan sedikit haru

Dari jiwa yang membeku

Akankah ini segera berlalu?

Kegelisahan merayap masuk kehatiku

Menguasai seluruh jiwaku

Satu pertanyaan terbersit dalam hatiku

Apakah ini jalan hidupku?

Sekian lama aku mencari

Tapi tak tahu apa yang kucari

Hanya menunggu sesuatu yang berarti

Apakah diriku sesuatu yang berarti?

19 tahun telah kulalui

Mencoba terus mengalir laksana air

Segala rintangan ku coba lalui

Siapa diriku ini?

Semua pertanyaan menyeruak dalam diriku

Tak terjawab hingga kini

Yang kutahu hanyalah terus melangkah

Hingga ku menemukan sipa diriku

Depok

2004

Wajah dan Topeng

Saturday, September 17th, 2005

Wajah dan Topeng

Aku adalah angin

Berhembus………bergerak …………

Kemanapun aku suka

Aku adalah angin

Terbang bebas menggerakan semua benda

Menghembuskan kebahagiaan alam semesta

Sejukku menerpa hati setiap orang

Hangatku menghapuskan kesedihan

Gerakku membangkitkan semangat

Siang……….malam……hari berganti

Tak henti-hentinya……….

Senyumku, menyapa bumi

Tak henti-hentinya

Tawaku, menerpa bumi

Menggerakkan semua yang ada hingga bangkit berdiri……

Tersenyum dan tertawa seperti diriku

Aku bosan………….

Sungguh, Aku bosan…………

Walau aku tahu……

Inilah diriku…….

Hujan turun perlahan

Tik…….tik……….tik………

Aku tetap tertawa

Walau …….

Hujan menetes dari hatiku

Aku tetap tersenyum

Walau…………….

Gemuruh badai menerpaku

Aku tertawa dan tersenyum

Dalam kesedihan yang tidak mereka tahu

Aku hanya ingin

Ada

………….

DEPOK

2003

seorang Feminis

Saturday, September 17th, 2005

seorang Feminis

Aku adalah setangkai bunga kecil

Hidup sendiri ditengah gurun pasir

Kala badai gurun menerjang……….

Kala panasnya matahari menyengat………

Kala dinginnya malam menerpa 

Aku tetap tegar berdiri ………

Berusaha tetap berdiri………..

Mencoba bertahan seorang diri

            Aku adalah bunga kecil yang sedang tumbuh

Tumbuh dengan kasih Sang Pencipta

            Berusaha tetap berdiri seorang diri

            Di gurun pasir yang sepi ini

            Aku adalah bunga yang beranjak mekar

            Tumbuh dengan kasih Sang Pencipta

            Bangga akan ketegaranku menghadapi rintangan

            Karena aku kini telah mampu berdiri kokoh

            Aku adalah bunga yang beranjak mekar

            Berdiri kokoh di gurun yang luas

            Berusaha menipu hatiku

Bahwa…………………

            Aku sanggup berdiri sendiri

            Matahari……….Bulan……….

            Bintang………… Pasir………..

            Mengakui ketegaranku

            Seorang diri tetap kokoh berdiri

            Menghadapi ujian dari Sang Pencipta

            Mereka tidak mengetahuinya…….

            Tidak, mereka tidak mengetahuinya

            Bahwa…………….

                                    

Hati bunga ini  ……………

            Telah lama memimpikan pohon

            Yang selalu melindunginya

            Sampai akhir hayatnya

REVOLUSI PENDIDIKAN INDONESIA

Saturday, September 17th, 2005

REVOLUSI PENDIDIKAN

INDONESIA

Kita tidak bisa memiliki pendidikan tanpa Revolusi, Kita telah mencoba Pendidikan Damai selama seribu sembilan ratus tahun. Mari kita coba revolusi dan kita lihat apa yang dapat dilakukan sekarang !!!”

- Hellen Keller -

Memasuki tahun ajaran baru, senyuman bahagia nampak dari wajah-wajah polos tunas-tunas bangsa terutama bagi mereka yang telah diterima di sekolah atau PTN favorit di kotanya atau bahkan di

Indonesia

. Jerih payah masalalu sudah terlupakan dan menjadi kenangan manis untuk merangkai cita dan impian di masa depan. Kebahagiaan terdalam juga dirasakan oleh orangtua siswa/siswi, melihat buah hatinya dapat memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan di sekolah negeri /PTN favorit di

Indonesia

. Namun kebahagiaan itu harus bertekuk letut pada realitas yang ada. Krisis moneter 1998 yang lalu masih menyisakan permasalahan yang terus menghantui dunia pendidikan di

Indonesia

. Garis liner yang dijejalkan kaum kapitalis bahwa Pendidikan erat  dengan kualitas dan kualitas identitik dengan kata mahal masih menjadi opini yang dimaklumi dimasyarakat, belum lagi masalah kurikulum dimasuki kepentingan politik dan kekuasaan, sistem pendidikan yang tidak jelas falsafah, tujuan, sistem, metodologinya dan menejemen pendidikan yang tidak ditangani dengan professional, semua itu menambah suramnya dunia pendidikan di Indonesia. Proses berbanding lurus dengan hasil. Jika prosesnya buruk, jangan pernah berharap mendapatkan hasil yang baik kecuali mengharap datangnya mukzizat dari Tuhan. Hasil dari pola pendidikan semerawut khas gaya Indonesia hanya mampu menghasilkan generasi ‘kacung’ dengan daya kualitas SDM yang semakin turun, daya saing yang rendah dan mentalitas yang lemah. Refleksi dari ini semua adalah sebuah bentuk keprihatinan yang mendalam bagi dunia pendidikan di

Indonesia

.

Menilik sejarah pendidikan

Indonesia

sejak zaman sejarah hingga saat ini ternyata pola “sejarah selalu berputar” kian nyata dan realitasnya dapat dilihat saat ini. Pada masa raja-raja berkuasa, hanya calon raja-raja dan bangsawan yang berhak mengenyam pendidikan untuk bekal mereka dalam memerintah negeri. Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat berharga pada masa itu meskipun pendidikan yang dimasud hanya berorientasi untuk meningkatkan kekuatan fisik dan pengelolaan administrasi negara dalam ruang lingkup yang masih sangat sederhana. Hal ini terulang kembali pada masa penjajahan. Pada masa Belanda berkuasa di Indonesia Kelas social di bagi tiga yaitu Kelas bangsa Asing-Eropa, Kelas Bangsa Asia-Timur tengah dan yang menempati kelas terbawah adalah bangsa Pribumi Hindia Belanda. Hanya anak-anak Asing-Eropa dan bangsawan yang dapat menikmati  pendidikan sedangkan rakyat jelata harus menerima takdir sebagai kaum yang lemah, tertindas dan tak berpendidikan. Kesadaran bahwa Pendidikan dapat memajukan suatu bangsa mulai dirasakan R.A Kartini dan teman teman sejawatnya. Secara intuitif beliau menyadari bahwa bangsa yang mandiri dapat terbentuk jika Ilmu pengetahuan dapat dikuasai. Atas dasar itulah beliau dengan dorongan dari saudari-saudarinya mendirikan sekolah gadis yang khusus diperuntukkukan untuk perempuan yang pada masa itu sangat dibedakan haknya daripada pria. Kartini tidak hanya sebagai sosok feminist yang membela hak perempuan tetapi lebih dari itu beliau sebagai orang pertama yang menyadari pentingnya pendidikan untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya. Jejak beliau diteruskan oleh Suryadi Suryaningrat atau kihajar Dewantara dan Dowes Dekker. Dengan membuka sekolah umum bagi rakyat jelata berharap pendidikan dapat membuka cakrawala berfikir dalam bertindak dan bertingkahlaku. Kesadaran untuk merdeka seutuhnya  dan ketidak inginan tertindas oleh bangsa lain serta kesadaran politik yang tinggi perlahan akan timbul dalam suatu bangsa yang terus menerus meningkatkan pendidikannya. Hasilnya muncul manusia-manusia yang kelak dapat membangun sebuah gerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan

Indonesia

.

            Sejarah masa lampau

Indonesia

telah membuktikan kontribusi pendidikan dalam mencapai kemerdekaan. Yah….memang pendidikan seharusnya seperti matahari yang menyinari bumi, menghangatkan jiwa-jiwa kosong tak berarti menjadi jati diri yang kuat dan mandiri. Tapi yang sesungguhnya terjadi di tanah air kini, sebuah wajah pendidikan yang dilukiskan dalam penampakan yang suram, terselebung kepentingan & keegoisan dan terkandung keserakahan serta Pemerasan. Cita-cita untuk ‘tinggal landas’ pada 2010 nampaknya pupus sudah menjadi ‘tinggal di landasan’ mengingat SDM yang semakin turun kualitasnya bahkan menurut IMD (2000) Indonesia memasuki peringkat ke 45 dari 47 negara dalam daya saing, sungguh menyedihkan!

            Sejak krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998 silam, program wajib belajar 9 tahun makin terlupakan ataukah sengaja dilupakan mengingat banyak sektor diluar pendidikan harus dibangun. Anggaran untuk pendidikan hanya dianggarkan 13,6 triliun atau sekitar 4 % dari anggaran APBN padahal untuk mencapai pendidikan yang murah dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia setidaknya diperlukan 20 % dari APBN untuk anggran pendidikan. Akibatnya dapat dirasakan hingga saat kini yaitu biaya pendidikan yang semakin mahal. Fakta membuktikan 42 % SD mahal, 45% pendidikan di SMP/SLTP mahal dan 51 % pendidikan di SMU tergolong mahal (kompas,Juni 2003) dan sudah pasti pendidikan tinggi jauh lebih mahal. Apakah pendidikan yang berkualitas mesti mahal? Semua yang kompleks bisa disederhanakan jika pemerintah bekerja dengan hati dan otak bukan dengan nafsu! dan anehnya trend mahal menjadi suatu pemakluman masal. Opini ini sengaja di bentuk oleh kaum kapitalis yang ingin merambah ke dunia pendidikan. Hasilnya hanya segelintir orang yang dapat mengenyam pendidikan itupun hanya berhasil mencetak generasi ‘kacung’ sedangkan sisanya menjadi kaum proletar abad 21 yang bersiap untuk ditindas zaman. Inilah pola ‘sejarah selalu berputar’. Jika hal ini terus berlanjut bersiaplah menghadapai proses pemiskinan global di Indonesia.

Pendidikan merupakan Investasi. Hal ini sudah disadari perancis setelah masa Revolusi bahwa semua warga mempunyai hak yang sama dalam pendidikan dan pendidikan ditangani langsung oleh pemerintah sehingga membuka kesempatan bagi semua warga untuk memperuleh pendidikan. Jepang dengan Restorasi Meji sesudah Perang dunia II. Setelah perang tersebut, reformasi pendidikan diterapkan dan bertujuan untuk membangun masyarakat yang demokratis, meniru sistem pendidikan Amerika Serikat. Konstitusi baru Jepang menetapkan prinsip-prinsip dan kebijakan-kebijakan dasar pendidikan untuk menjalankan reformasi ini. Contoh keberhasilan negara-negara tersebut dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan tidak terlepas dari komitmen pemerintahnya sejak awal dan terus berkelanjutan.

Kembali kita melihat kembali wajah pendidikan

Indonesia

saat ini. Jika ditinjau dari falsafah, tujuan hingga metodoliginya

Indonesia

sama sekali tidak mempunyai itu semua apalagi komitmen dari pemerintah, hasilnya pendidikan di

Indonesia

tidak terarah dan mudah rapuh. Tidak terarah, karena tidak mempunyai tujuan yang jelas. Realias yang selama ini berkembang di masyarakat bahwa orang mendapatkan pendidikan untuk sekolah bukan berpendidikan untuk mempertahankan hidup. Paradigma ini mendorong seorang anak terasing dari lingkungan sosialnya dan mebuat anak hanya dapat menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sudah ditaur tidak menjadi seseorang yang kritis dan memecahkan persoalan dirinya dan masyarakatnya sesuai denagn lingkungan tempat dia berada.  Mudah rapuh, Sistem pendidikan

Indonesia

tanpa tujuan dan falsafah dasar dapat menjadi rapuh. Mudah dimasuki pihak-pihak yang berkepentingan. Contohnya jelas terlihat dari Liberalisasi Pendidikan yang tawarkan oleh IMF. Saran ini bukan menjadi obat justru menjadi racun bagi dunia pendidikan di

Indonesia

. Dengan menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga otonomi menyebabkan banyaknya peluang pihak swasta untuk mengeruk keuntungan di bidang pendidikan. Hasilnya pendidikan menjadi komuditas seperti layaknya cabai atau bawang di pasar. Dalam pasar terjadi jual beli, semakin mahal maka semakin bagus kualitas barangnya dan ini terjadi di dunia pendidikan saat in. Lelang kursi PTN favorit di legalkan, jual beli gelar sudah menjadi hal biasa, uang pangkal yang semakin meningkat setiap tahunnya terus dilakukan. Melihat kacaunya dunia pendidikan di

Indonesia

lantas kita bertanya, di mana peran Departemen Pendidikan Nasional yang konon katanya sebuah lembaga yang mengatur pendidikan di

Indonesia

? Dimana pula komitmen pemerintah untuk mengatur ini semua?. Sesuai denagan pasal 31 UUD bahwa kewajiban pemerintah untuk membiayai pendidikan dasar bagi setiap warga dan pasal 31(2) bahwa pemerintah dan DPR memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 %. Maka pemerintah melalui kebijakannya bertanggung jawab atas ini semua!

Hanya ada dua kata “Revolusi Pendidikan”. Revolusi ini dilaksanakan oleh objek dan subjek pelaku pendidikan. Momen pemilihan presiden RI saat ini sangat tepat untuk menyodorkan ide Revolusi Pendidikan. Hendaknya dibuat Lokakarya Nasional yang melibatkan perwakilan tokoh pendidikan, pelaku pendidikan dan penikmat pendidikan dari seluruh wilayah

Indonesia

dengan tema besar yaitu “Revolusi Pendidikan”. Tujuan dari lokakarya nasional ini jelas untuk menjawab segala persoalan di bidang pendidikan yang hingga kini masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Masalah tersebut berkisar pada dasar, tujuan metodologi,sistem, kurikulum samapai pembiayaan pendidikan dari tingkat pusat hingga daerah terpencil. Hasil keputusan Lokakarya ini disodorkan sebagai rekomendasi untuk dijalankan oleh pemerintahan yang baru.

Ilmu pengetahuan menentukan peradaban suatu bangsa. Kemajuan Ilmu Pengeathuan ditentukan proses berjalannya pendidikan. Dan Pendidikan yang murah, meata dan Berkeadilan bagi seluruh Rakyat adalah jawabannya

Depok

2004

untitled

Saturday, September 17th, 2005

kadang aku berfikir. Perjuangan mahasiswa
sekarang tidak lebih dari sekedar seorang artis
yang sepanjang hidupnya mencari pamor dan
popularitas di balik hingar-bingar gemerlap dunia
hiburan. Gerakan mahasiswa saat ini hanya
menjadi sekedar hiburan sejenak dalam nyanyian
panggung perpolitikan.
Gerakan mahasiswa sudah kehilangan
substansinya sebagai gerakan moral dan
intelektual. Sudah kehilangan nilai sosialnya!
sudah kehilangan jati dirinya!
semenjak pergerakan mahasiswa 1998 setelah
itu pergerakan mahasiswa hanya sekedar
kumpulan orang yang bergerak dsalam
penyikapan sementara dan tidak ada bentuk
kongkret sebagai salah satu komunitas berharga
di masyarakat!!!
Pergerakan mahasiswa sudah mati!
Sebagian dari mereka terkungkung dalam
perjuangan semu untuk eksistansi semata sedang
sisanya menjadi pecundang dan penghianat
gerakan mahasiswa!!!!
kasihan…..sungguh kasihan….
ketika nilai perjuangan hanya dihargai untuk
eksistansi semata tanpa jiwa & ruh yang tulus
dalam hati nurani yang bersih yang semata-mata
sebagai pembelaan atas nasib rakyat yang
tertindas, maka gerakan mahasiswa tidak lebih
dari artis yang sepanjang hidupnya mencari
popularitas!!
gimana tidak jika parameter usaha,aksi&
kegiatan hanya berparameter pada peliputan
media semata!!! mestinya ada semacam
paramater keberhasilan yang jauh lebih luhur
daripada itu!!! saya selalu percaya jika setiap
tindakan yang didasari dengan nilai kebaikan dan
niat tulus maka apa yang akan kau dapatkan akan
jauh lebih berharga dari apa yang kau harapkan!!!
Jika masyarakat sudah bisa ber-aksi dalam
menyuarakan pendapatnya, semestinya
mahasiswa bisa melakukan hal yang lebih
kongkrit daripada ber-aksi dan berdemonstrasi!!!
gerakan mahasiswa yang spontanitas dalam
bentuk penyikapan-penyikapan itu hanyalah
jargon-jargon kuno yang bisa diterapakan pada
masa-masa 66 - 98 ketika demokrasi masih mati
suri!!! Pada saat itu terdapat larangan
menyatakan pendapat dalam kebasan pers yang
masih terpenjara!!!
namun sekarang kondisinya sudah lain!!!!
in the end pesan saya selaku aktivis yang hampir
kecewa adalah jika kau berjuang jangan
berorientasi pada eksistensi semata tapi cobalah
berniatlah dari kesadaran, dari lubuk hati yang
terdalam!!! cobalah pikirkan cara yang lebih
konkrit, bermanfaat bagi diri dan rakyat banyak!!!
kita harus berpikir dan bertindak, karena kita
adalah MAHASISWA !!!!

Penindasan Perempuan dalam Kerangka Dongeng Cinderella

Saturday, September 17th, 2005

Penindasan Perempuan dalam Kerangka Dongeng Cinderella

Alkisah, disebuah negeri antah berantah hiduplah seoang gadis yang cantik jelita namun dia menderita hidupnya akibat ulah ibu tiri dan saudara-saudara tirinya. Dia menjadi pelayan bagi Ibu tiri dan kedua saudara tirinya. Suatu ketika pangeran mengumumkan akan mengadakan pesta dansa 3 hari 3 malam untuk mencari Isteri.

Para

gadis di desa itu sibuk mempersiapkan diri dengan mempercantik diri mereka, membeli gaun yang indah untuk pergi ke pesta dansa itu. Tak terkecuali kedua saudara tiri Cinderella. Harapan para gadis-gadis itu hanya satu, menjadi yang tercantik, dapat memikat hati sang pangeran, dan selanjutnya dapat menjadi isteri pangeran, dan dapat hidup sampai akhir hayat denagn bergelimangan kemewahan dan kekayaan….

Cuplikan resensi Film diatas diambil dari film yang  berjudul Cinderella Story, diputar di salah satu setasiun Televisi Swasta,18 November 2004 lalu, sangat memiriskan hati saya, ini bukan nilai moral yang sering di ceritakan guru-guru TK kepada murudnya atau seorang nenek menjelaskan nilai moral cerita ini seusai mendongeng tidak lebih dari nilai moral klasik yang cendrung seragam dari dongeng yang satu dengan dongeng yang lain dimana yang baik selalu menang dan yang jahat selalu kalah. Namun tanpa kita sadari penciptaan dari dongeng-dongeng Putri dan Raja atau dongeng-dongeng kepahlawanan seperti ini mempunyai misi tersembunyi dibalik penciptaannya. Saya akan mengambil kisah Cinderella sebagai contoh untuk menjelaskan misi tersembunyi tersebut melalui perspektif feminis.

Yang menarik untuk dibicarakan disini dimana para gadis bersusah payah  mempercantik diri mereka hanya  untuk pergi ke pesta istana. Mengapa ? Karena Mereka ingin mengikat hati pangeran Lalu apa ?Selanjutnya dapat menjadi isteri pangeran, dan dapat hidup sampai akhir hayat denagn bergelimangan kemewahan dan kekayaan. Dongeng picisan seperti ini di wariskan dari generasai ke generasi, tidak hanya cerita dan tokohnya saja tetapi juga nilai-nilai moralnya. Dongeng-dongeng semacam ini sengaja diciptakan sebagai penegasan bahwa perempuan adalah 1)Makhluk inferior yang tidak bisa hidup tanpa mengandalkan penampakan fisik mereka.2)Makhluk lemah, tidak dapat hidup mandiri, dan selalu berada di bawah kekuasaan laki-laki.3)Makhluk  yang tidak mempunyai pilihan dan selalu menjadi objek. Dalam budaya patriarkhi, seorang perempuan dikatakan bernilai hanya dilihat dari segi fisik sepertti kecantikan, ke anggunan, mengusasi pekerjaan domestik, dsb. Hal tersebut menjadi syarat mutlak bagi seorang perempuan untuk meningkatkan status sosialnya di masyarakat. Perempuan yang memiliki syarat-syarat ini diharapkan dapat memikat pria-pria dan kemudian keinginan mereka tercapai. Namun tanpa disadari mereka telah memasuki ‘Penjara Kaca’, terkungkung oleh suatu dominasi dan kekuasaan laki-laki. Seperti apa yang dikatakan Ann Forman seorang feminis Marxis bahwa laki-laki mencari pembebasan alienasinya melalui hubungannya dengan perempuan, sedangkan untuk perempuan tidak ada jalan pembebasan lain karena hubungannya dengan laki-laki merupakan struktur utama penindasannya.

Saya jadi teringat pandangan-pandangan misoginis para filusuf  terkenal yang mungkin sedang tertawa di alam kuburnya melihat doktrin-doktrin misoginis mereka masih mengakar kuat hingga kini. Aristoteles dalam bukunya De Generatione Animalium yang mengatakan bahwa terdapat pihak yang menguasai dan dikuasai dalam negara rumah tangga, dimana posisi penguasa (Raja) diisi oleh laki-laki (suami) dan posisi yang dikuasai (budak) diisi oleh perempuan (istri). Imanuael Kant dalam bukunya yang berjudul Observation on the feeling of the Beautiful and the sublime (1764)  bahwa perempuan mempunyai perasaan yang kuat dari dalam tentang apa yang cantik, anggun dan kesesuaian dekorasi, sejak kecil mereka menyenangi saat mereka dikagumi. Atau menurut Schopenhaver yang mengatakan bahwa  perempuan adalah makhluk yang senantiasa kanak-kanak karena memiliki karakter sembrono dan picik, tidak memiliki keadilan, memiliki kekuarangan  dalam cara bernalar dan juga mempunyai kualitas kebodohan.

Doktrin-doktrin itu masih mengakart kuat karena ada dukungan dari budaya yang kini dapat dilihat di alam realitas. Para Ibu sibuk mempercantik anak gadisnya di hari raya untuk diperkenalkan kepada relasi-relasinya yang lebih mapan atau para remaja putri sibuk mempercantik dirinya dengan aneka rupa acessoris dan bergaya bak artis local atau mengimpor

gaya

artis luar. Atau satu kasus yang baru saja saya temukan yaitu berkuliah dengan niat khusus untuk mendapatkan jodoh. Mereka yang punya niatan tunggal dalam berkuliah, pergi ke kampus dengan dandanan seperti orang pergi ke klub malam, pakaian yang tak layak dipakai di lingkungan intelektual akademis!Semua itu mereka lakukan denagan 1 tujuan, memikat hati laki-laki yang lebih mapan untuk meningkatkan status social mereka. Memang kebanyakan kasus seperti ini banyak terjadi di daerah dan terus berjalan hingga kini karena mendapat dukungan dari budaya masyarakat setempat. Seorang anak gadis diharapkan cepat mendapatkan jodoh dari kemampuannya di bidang domestik atau kempauannya mempercantik diri mereka. Ketika gadis itu menikah, para orang tua bisa bernafas lega karena bisa lepas dari tanggung jawab dan sang gadis itu kini masuk dalam kekuasaan  suaminya, Ia menjadi ibu bagi anak-anak mereka, terus mempercantik diri mereka yang sudah cantik untuk sekedar menpertahankan Rumah tangga, melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, dsb. Keterperangkapan  perempuan adalah jika dia hanya bekerja di bidang-bidang yang tidak menghasilkan komoditi atau hanya menghasilkan pekerjaan-pekerjaan domestik yang selalu dianggap remeh oleh kaum laki-laki.

Mungkin R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Betty Fridan, Marry Wollstonescarft dan Elizabeth Cady Stanton sedang menangis di alam kuburnya melihat hasil perjuangan mereka tidak dimanfaatkan oleh para perempuan kini. Terjadinya degradasi bahwa para perempuan hanya berorientasi untuk menikah dan mengurus rumah tangga, hal tersebut semakin mempertegas bahwa perempuan sebagai makluk inferior yang selamanya tergantung pada laki-laki seperti perkatannya Simone de Beauvoir, seorang feminis Eksitensialis yang mengatakan “perempuan selalu menjadi ‘the others’ (yang lain). Perempuan selalu mencari referensi kepada laki-laki. Laki-laki disini jelas menjadi subjek, Ia absolute sedangkan perempuan adalah objek”.

Hendaknya perempuan perlu membebaskan dirinya dari ketergantungan para laki-laki. Seorang perempuan harus kuat, mandiri, mempunyai keterampilan dan kemampuan untuk menghidupi diri sendiri. Keterampilan dan kempuan bertahan hidup diperlukan untuk membebaskan diri dari ketergantungan, dapat mempunyai pilihan dan menemukan jati dirinya. Perempuan juga merupakan manusia sama halnya dengan laki-laki, berhak memililih dan mempunyai pilihan dalam menjalini hidupnya dari awal hingga akhir. Hendaknya pernikahan bukanlah menjadi orientasi utama seorang perempuan karena itu akan semakin mendekatkan perempuan menjadi ‘the others’.

Depok

2005

POLIGAMI

Saturday, September 17th, 2005

POLIGAMI

Banyak orang salah paham mengenai poligami. Frame berpikir yang telah lama terbentuk dan penafsiran yang dihasilkan tentang poligami tidak terlepas dari subjektifitas dan budaya. Seperti kita ketahui ilmu dan filsafat telah lama dikuasai oleh jenis laki-laki sedangkan perempuan pada awal peradaban dianggap sebagai makhluk yang pasif, mesin reproduksi dan cendrung diabaikan. Mereka dalam memperlakukan perempuan sama halnya dengan perlakuan mereka terhadap binatang dan tumbuhan.Begitu juga penafsiran fikih yang cendrung memihak dan menguntungkan ke salah satu jenis padahal Islam ada sebagai rahmat bagi semesta alam dengan menekankan pada nilai-nilai persamaan (al-musawah),persaudaraan(al-ikhaa’) dan menjanjikan kebebabasan terhadap kaum yang diperlemah (al-hurriyyah). Oleh karena itu diperlukannya sebuah dekonstruksi untuk menggali kembali esensi dari nilai-nilai luhur ajaran agama tetap dapat bertahan sebagaimana mestinya.

Menyimak kembali masalah poligami, mungkin kita dapat berangkat dari sifat inferioritas kaum perempuan yang tercantum dari asal-muasal kaum perempuan itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, hawa (perempuan pertama) berasal dari tulang rusuk Adam. Adakah hal ini dalam Qur’an? Banyak sekali penjelasan tentang asal manusia yang dapat kita lihat pada (Al-hujurat[49]::13, Al-Nisa[4]:1, Al-zummar[39]:6,Fatir[35]:11, Al-Mukminun[23]:12-16,Al-Hajj[22]:5. Dari ayat-ayat tersebut tidak ada yang mengatakan bahwa perempuan berasal dari bagian tubuh laki-laki, yang ada hanyalah keduanya diciptakan dari sari pati tanah, lalu berukutnya setelah manusia mulai berkembang biak, keduanya lahir dari kandungan seorang permpuan (Ibu) yang prosesnya melibatkan air mani (sperma dari laki-laki). Lalu dari manakah ayat tersebut berasal hingga tidak hanya kaum Islam yang banyak meyakininya namun juga kaum nasrani dan yahudi, Ternyata hadis itu berasal dari kitab perjanjian lama (kejadian II : 21-22) sebelum Al-Quran diwahyukan. Kembali kepada masalah poligami bahwa banyak orang yang beranggapan bahwa Poligami lahir karena Islam, hal itu terdapat dalam Al-Nisa[4]:3. Anggapan seperti ini lahir dari penafsiran ayat yang setengah-setengah dan tidak menafsirkan keseluruhan

surat

. Jika ditelaah lebih lanjut pendapat-pendapat tersebut maka ada beberapa hal yang patut dipertanyakan. Yang pertama adalah sejarah poligami.

Poligami telah ada sejak ratusan abad sebelum Islam lahir. Banyak para penguasa yang memiliki puluhan Istri bahkan hingga ratusan. Ini dapat dilihat dari bukti-bukti sejarah yang berasal dari yunani&romawi kuno, mesir kuno dan banyak bukti-bukti sejarah yang dapat menjelaskan ini semua. Masa yang paling banyak disebut-sebut dan puncak dari segala kebodohan adalah zaman zahiliyah, masa dimana Nabi Muhammad SAW lahir. Poligami pada masa itu tidak hanya mengambil perempuan lain(tidak memiliki hubungan kerabat) tetapi perempuan yang diwalikan, anak angkat bahkan para budak dapat dijadikan isteri. Dan pada masa itu hal tersebut merupakan hal yang sudah biasa dan sudah dapat dipahami mengingat superioritas laki-laki pada waktu itu sangatlah mendominasi hingga kaum perempuan berada pada posisi yang lemah dan diperlemahkan oleh lingkungan dan peradaban. Makin lama poligami menjurus pada perselingkuhan lalu berkembang menjadi pelacuran yang terang-terangan. Semestinya jika di masa modern ini dimana tingkat kecerdasan manusia sudah melampaui manusia-manusia di zaman tersebut tetapi masih membolehkan poligami maka pelegalisasian poligami sama halnya dengan pelegalisasian perselingkuhan dan pelacuran!. Islam sebagai Rahmat bagi semesta Alam dan Nabi Muhamad Lahir sebagai Nabi&rosul pembawa kabar gembira dan kebenaran. Mulai dari sini adanya pembebasan kaum perempuan dari ketertindasan. Ajaran Cinta yang membebaskan dari Rosulullah mampu meningkatkan harkat dan martabat perempuan. Beliau mengajarkan tentang kasih sayang antar sesama umat manusia. beliau juga mengajarkan tentang kesetaraan gender bahawa perempuan adalah mitra sejajar dengan laki-laki, bahwa setiap manusia adalah sama kecuali keimanannya yang membedakan satu dengan yang lainnya di mata Allah. Tidak hanya demikian, pada masa itu penindasan perempuan yang terjadi lebih banyak di ruang-ruang privat dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ruang-publik yang lebih didominasi oleh kaum laki-laki. Banyak pelecehan dan konflik rumah tangga yang muncul dan dalam hal ini yang diperlemah adalah kaum perempuan mengingat posisinya yang tidak mempunyai pilihan dan terdapat dukungan dari factor budaya timur tengah yang kental dengan patriarkhinya. Disini Rosulullah mengajarkan prinsip-prinsip perkawinan yang baik dimata Allah. Salah satunya mengenai poligami. Islam berusaha untuk menghilangkan poligami namun ini berjalan perlahan-lahan karena Islam bukan agama yang radikal dan prinsip-prisip yang dilahirkan selalu terdapat kemudahan-kemudahan bagi yang menjalaninya. Quraishihab menjelaskan bahwa

surat

An-Nisa turun untuk menjelaskan prinsip-prinsip perkawinan dan prihal anak yatim.

Surat

ini turun pada saat keadaan pada saat memprihatinkan dimana banyak para wali yang merampas hak anak yang diwalikannya denangan jalan menikahinya. Melalui hadis yang diriwayatkan Bukhori, Muslim, Nasa’I dan Baihaqi, Aisyah ra menjelaskan tentang sebab munculnya ayat ini bahwa ayat ini turun mengenai anak yatim yang berada dalam pemeliharaan walinya. Kemudian, walinya itu tertarik akan kecantikan dan harta anak yatim itu lalu wali itu mengawininya. Riwayat lain mengatakan ayat ini diturunkan berkenaan dengan laki-laki yang mempunyai banyak isteri lalu ketika hartanya habisdia tidak sanggup menafkahkan isteri-isternya. Ia berkeinginan mengawini anak yatim yang berada dalam perwaliannya  untuk mengambil hartanya dan membiayai ister-isterinya. Pernikahan dengan hanya 4 isteri yang terdapat dalam ayat tersebut untuk membatasi poligami agar hal seperti ini tidak akan terjadi dan agar anak yatim tersebut tidak dapat menjadi korban oleh seorang wali yang bangkrut sedang ia mempunyai banyak isteri. Jadi ayat tersebut tidak khusus membahas tentang poligami, menganjurkannya apalagi mewajibkannya. Ayat tersebut justru sebagai titik awal Islam untuk mencegah poligami. Logikanya seperti ini, Zaman ketika turunnya ayat ini banyak para laki-laki terutama yang memiliki harta yang berlimpah mempunyai puluhan isteri dan anak-anak yang diwalikannya. Ketika dia bangkrut maka tiada jalan lain untuk menghidupi isteri-isterinya yang banyak segala jalan ditempuhnya termasuk merampas hak anak yatim. Maka turunlah ayat ini dengan tujuan untuk mengurangi jumlah isteri yang dinikahi dan larangan untuk merampas hak anak yatim. Dalam menikahi empat orang isteri ini pun masih ada syarat yang sulit untuk di lakukan yaitu adil. Dan disini juga terdapat sebuah solusi dan anjuran yang sangat tepat untuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa yaitu mengawini seorang saja atau hamba sahaya. Pada saat ini hamba sahaya sudah tidak ada lagi, hak-hak manusia tidak hanya anak yatim banyak yang dirampas oleh oknum-oknum yang ingin berkuasa sedangkan peluang seseorang untuk melakukan perbuatan dosa melalui poligami yang dinilai sebagai perselingkuhan yang dilegalkan, makin tinggi maka anjuran untuk monogami yang diberikan pada ayat tersebut sangatlah tepat. Pada ayat 129 masih dalam

surat

yang sama sudah mulai terlihat adanya penjelasan mengenai adil yang sesungguhnya dan dari ayat tersebut dijelaskan bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang dapat berbuat adil karena adil juga meliputi hati dan perasaan ini dijelaskan oleh Abdullah ibn Abbas. Quraishihab juga menjelaskan bahwa adil yang dimaksudkan berkaitan dengan immaterial (cinta). Adil disini hendaklah juga jangan diukur dari perasaan pihak laki-laki saja tetapi justru harus diukur dari pihak perempuan. Allah adalah tuhan pencipta makhluk manusia dan semua yang ada di dunia dan alam semesta. Dia mengenal karakter setiap makluk yang di ciptakannya. Melalui ayat 129 dia mengatakan “Kamu tidak akan kuasa berlaku adil antara perempuan-perempuan itu, meskipun kamu yang sangat ingin demikian” Nabi juga mengecam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Barang siapa yang mempunyai dua isteri , lalu berat sebelah keapada salah satunya, maka kelak dia akan datang pada hari kiamat dengan salah satu bahunya miring. Dari

sana

kita dapat melihat essensi dari ayat tersebut bahwa Islam sangat menjung tinggi nilai-nilai keadilan dan pembebasan bahkan hingga pada prinsip-prinsip perkawinan yang banyak diremehkan orang awam. Untuk mencegah dari perbuatan dosa dan ketidakadilan dianjurkannya sebuah bentuk perkawinan yaitu monogami. Di negara Turki (sebelum berubah menjadi negara sekuler) dan

Tunisia

yang menganut hukum Islam sebagai landasan negara melarang poligami dalam perundang-undangan perkawinan karena poligami justru lebih mendekatkan diri dari perbuatan dosa, disamping itu banyak segi-segi lain yang mengikuti penetapan ini terkait dengan perilaku sesual, kriminalitas dan generasi muda (terkait dengan konflik rumah tangga dan psikologis anak)

Dari penjelasan diatas, lalu kita lantas bertanya mengapa Nabi melakukan poligami. Sebelum menjawab ada baiknya kita melihat sejarahnya. Nabi Muhammad menjalani kehidupan monogami bersama Istrinya hampir 28 tahun  yaitu 17 tahun sebelum kerosulan dan 11 tahun sesudah kerosulan. Perkawinan membahagiaakan merupakan masa yang penuh dengan perjuangan dan kemenangan. Nabi Muhammad yang memilliki pesona terbaik seorang figure laki-laki walau demikian beliau tetap bertahan untuk menjalankan kehidupan monogaminya padahal banyak sahabat rosul yang menganjurkan beliau untuk menikah lagi. Kebahagiaan ini berakhir ketika Khadijah wafat. Nabi Muhammad sangat terpukul hatinya ketika isterinya wafat. Masa pahit ini harus dilaluinya dalam situasi yang panas dan penuh perjuangan. Pada masa itu Rosul harus hijrah ke madinah hingga wafatnya kurang lebih selama 10 tahun. Menurut sumber-sumber histories menyebutkan bahwa Rosul berpoligami selama 5 tahun sebelum wafatnya, jadi kira-kira sekitar 7 tahun Nabi menjalani kehidupan dudanya sendiri. Baru kemudian Rosul memperistri seorang perwan yang muda bernama Aisyah. Untuk selanjutnya kehidupan poligami Rosul dimulai dengan menikahi janda-janda dari sahabanya yang telah meninggal. Sebagian besar diantaranya adalah janda-janda yang

sudan

tua. Jika ditelusuri satu persatu motif perkawinan Rosul dengan isteri-isterinya yang berjumlah sebelas itu, maka sangat kental dengan motif dakwah atau kepentingan dakwahnya. Sangat jauh dari tuntutan kepuasan biologis. Dari kesebelas isterinya Rosul tidak lagi dikaruniai anak. Pernah Rosulullah ditanya mengapa dia tidak menikahi perempuan dari kalangan Anshar yang dikenal karena kecantikannya? Lalu nabi menjawab bahwa mereka perempuan-perempuan yang memiliki rasa pencemburu yang besar  dan tidak akan bersabar untuk dimadu. Rosulullah kembali berkata bahwa dia tidak ingin menyakiti perempuan berkaitan denagn hal itu.

Jawaban Rosul diatas mengandung pengertian bahwa poligami pada hakekatnya menyakiti kaum perrempuan apalagi perempuan-perempuan pada masa-masa menikah (19 – 40 tahun). Hal yang menarik bahwa nabi berpoligami untuk kepentingan dakwah dan keselamatan umat menuju tegaknya masyarakat Mdinah yang didambakan. Hal yang lebih menarik lagi diutarakan bahwa Rosullullah tidak mengizinkan menantunya, Ali ibn Abi Thalib untuk memadu putrinya Fatimah Al-Zahra’. Dalam hal ini Nabi mengatakannya di mimbar pidato seusai Shalat Jum’at “ Sesungguhnya anak-anak Hisyam ibn Mughirah meminta izin padaku untuk menikahkan putrinya denagn Ali. Ketahuilah bahwa aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, kecuali jika Ali bersedia menceraikan putriku dan menikahi anak mereka. Barangsiapa yang menyakitinya (Fatimah) berarti Ia menyakitiku.” Hadis ini diriwayatkan oleh shahih Bukhori dan Shahih  Muslim. Jika dianalogikan mengapa Rosul melarang hal yang selama ini dilakukannya. Hal ini dapat dijelaskan bahwa janda-janda yang dinikahi oleh rosulullah hanyalah seorang diri sementara itu janda-janda itu mempunyai anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang seorang bapak sedang suami dari janda-janda tersebut telah gugur di

medan

perang. Selain itu Rosulullah juga ingin menyelamatkan hak-hak anak-anak yatim tersebut. Allah telah menetapkan Muhammad sebagai Nabi & rosul sekaligus menjadikannya sebagi nabi penutup dan penyempurna ajaran. Karakter Muhamammad ini sengaja diciptakan sebagai karakter yang sempurna yang dapat dijadikan contoh bagi para umatnya. Kejujuran dan keadilannya dalam memutuskan kasus-kasus membuktikan kesempurnaannya maka rosulullah melampaui karakter orang-orang biasa, sahabatnya sekalipun. Sifat adil sudah tentu dimilikinya sedang seperti yang terdapat dalam An-Nisa[4]:129, manusia tidak akan mungkin mempunyai sifat adil. Maka dapat dikatakan sangat tidak logis bahwa banyak masyarakat yang menggunakan kata adil yang dimiliki oleh rosulullah sama dengan sifat adil yang dimilki oleh manusia biasa. Poligami yang dilakukan oleh Rosulullah dapat diibaratkan sebagai pintu darurat untuk membebaskan janda-janda tersebut dari bahaya kebakaran dan yang dapat melakukan ini hanyalah Rosulullah karena beliau mempunyai peralatan (karakter) yang tidak diragukan lagi.

Sebagai catatan terakhir mengenai alasan pelegalan poligami yaitu berkaitan dengan jumlah perempuan yang jauh melebihi pria, sangat menarik diutarakan disini bahwa menurut data statistik memang jumlan perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Perempuan yang dimaksud adalah perempuan diluar usia nikah & produktif yaitu perempuan diatas usia 60 tahun. Hal ini sangat logis terjadi mengingat usia perempuan lebih panjang daripada usia laki-laki. Maka jika laki-laki yang tetap kukuh melakukan poligami dengan alasan jumlah perempuan yang melampaui jumlah laki-laki dan dengan mengatasnamakan hak setiap manusia untuk mendapatkan pasangan hidupnya, maka untuk kasus-kasus seperti ini kita mempersilahkan kaum laki-laki yang kukuh dengan alasan tersebut untuk menikahi perempuan diluar usia nikah& produktif (lebih dari 60 tahun). Namun untuk menyelesaikan kasus banyaknya perempuan diluar usia nikah adalah dengan memperkuat solidaritas antara perempuan. Yaitu dengan menjadikan mereka sebagai saudara bahkan ibu angkat untuk membahagiakan mereka di hari tuanya.

Diakhir tulisan saya ingin menyatakan Islam mendukung penghapusan poligami karena praktek pelaksanaan hal tersebut sangat bertentangan denagn nilai-nilai Islam. Menurut Tuniasia, perbudakan dan poligami hanya diizinkan pada masa awal perkemabangan Islam dan setelah Islam dapat membangun masyarakat yang beradab maka poligami dan perbudakan sudah selayaknya dihapuskan. Saya pribadi ingin mengatakan bahwa pemikiran yang saya tulis ini merupakan sebuah pemikiran yang belum selesai. Wallahu alam Hanya Allah lah yang Maha mengetahui kebenaran dan kesalahan, tugas manusia hanyalah menjadi khalifah, menggunakan rasio, akal dan fikirannya yang semata-mata untuk mecari ridhonya. Jika terdapat suatu kebenaran dari tulisan ini maka kebenaran itu datangnya karena petunjuk dari-NYA dan jika ada yang salah maka saya selaku penulis mohon maaf karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan pemikiran yang belum selesai ini.

Tulisan ini terinspirasi dari : Islam Menggugat Poligami, Filsafat berperspektif feminis, 100 hadis pilihan, Perempuan di Mata Sufi dan Panggil aku Kartini saja.

Depok

2005

Cermin

Saturday, September 17th, 2005

Cermin

Malam itu tepatnya 1 Oktober 2004. Jaket kuning kami telah kami masukkan di tas. Kini kami nyaman duduk di dalam patas AC nomor 81 jurusan Slipi-Depok. Sayup sayup terdengar nyanyian pengamen jalanan yang meminta sedikit bagian dari kemewahan semu

Jakarta

. Mereka orang-orang pemimpi yang tersisihkan dari gemerlapnya

Jakarta

. Jakarta….begitu yang kulihat di balik kaca kelabu bus ini….meskipun pekatnya malam telah menyapu keseluruhan jagat Indonesia namun hingar bingar Jakarta tetap menari ditengah canda tawa semu tak terkendali, sementara disudut Jakarta kaum dhuafa yang disebut sampah Ibukota tidur tanpa dosa di emperan ruko sedang sebagiannya lagi mengais-ngngais tempat sampah di dekat restoran fastfood itu.

Jakarta

……

“ Bu… bangun Bu….. ada kamera ke arah kita….. kita harus jaga ‘Image’ di hadapan masyarakat…..”

Aku terbangun seketika mendengar suara orang yang baru saja berbicara. Aku kaget seketika ketika kulihat aku berada di dalam gedung yang baru saja aku Demo tadi siang…Gedung yang angkuh penuh kemunafikan tak beda denagn orang-orang yang ada di dalamnya. Mereka adalah Duta-duta Penguasa yang menyesatkan bukan wakil-wakil Rakyat seperti sebutan puitis yang sering kita lihat di buku-buku pelajaran atau di Koran-koran yang secara-diam-diam dijadikan alat propaanda mereka!

“Kenapa aku berada di sini ?” tanyaku segera setelah ku tersadar dari alam bawah sadarku

“Wah…. Ibu lupa ya……kita

kan

sudah 1 tahun menjadi wakil rakyat…. Yah… lumayan lah proyek jadi lancar….kerjaan sampingan makin banyak….apalagi jika calon dari koalisi kita jadi presiden gantiin si Boneka dungu itu ya bu….”

Saat itu aku baru sadar bahwa aku anggota DPR dari partai A. Balutan kain merah yang menutupi tubuhku saat ini. Disampingku duduk seorang laki-laki yang baru saja membangunkan aku. Laki-laki itu memakai jas hitam, sebuah pakaian elit lambang ‘kemapanan’ seseorang. Pakaian itu dipakai seluruh orang di gedung ini yang saat ini sedang berprofesi sebagai ‘Wakil Rakyat’. Dia membolak-balik halaman majalah otomotif. Mungkin dia berniat akan menambah koleksi mobilnya. Mata awasku kembali melihat laki-laki disebelah kiriku. Pria gendut berkacamata itu nampak sibuk berdiskusi dengan pria di sebelahnya. Sayup-sayup kudengar mereka sedang membicarakan pembebasan tanah di Bandung Selatan. Tiba-tiba raut mereka berubah, mereka teringat posisi mereka yang saat ini tidak aman. Mereka takut proyek

Bandung

city dengan 2 menara mewah dan mall di tengahnya, tidak akan terealisasikan. Aku hanya diam dan mengamati. Melihat ketua MPR itu berbicara layaknya seorang aktor di depan kamera. Baru ku ketahui saat ini aku tengah berada di ‘dagelan’ bertajuk Sidang Istimewa untuk menurunkan Presiden yang 20 Oktober 2004 lalu dilantik. Selama 1 tahun kepemimpinan Presiden itu tidak dapat melaksanakan janji-janjinya. Rakyat yang sudah mulai kritis selain terhimpit oleh keadaan yang memprihatinkan entah sengaja diciptakan oleh oknum-oknum yang ‘belum kebagian’ kekuasaan ataukah presidennya sendiri yang tidak peka terhadap masalah rakyat. Ya… aku pun  sadar presiden itu diangkat karena dukungan orabng-orang dibalik layar maka secara otomatis dia membalas budi kalau tidak ya… orang dibalik layar akan berbalik menyerang!

“tadi malam ide Ibu benar-benar brilian”sahut laki-laki disebelah kananku itu.Aku hanya tersenyum seolah-olah mngerti apa yang terjadi semalam.

“Orang itu memang pantas kita jadikan boneka!. Setelah lobi-lobi yang partai kita lakukan sejak pagi dengan partai-partai lainnya yang juga sepaham dengan kita (maksudnya sama-sama haus kekuasaan? Sahutku dalam hati) akhirnya mereka setuju mencalonkan dia sebagai presiden kedua!

“Posisi dia aman bukan?” sahutku mencoba memancing

“sudah tentu, Politikus-politikus dan media yang sudah kita bayar telah berhasil mem-frame pikiran rakyat!” sahutnya setengah berbisik

“bagaimana prediksi bapak selanjutnya?” sahutku masih mencoba memancing dalam hati aku berkata “bangsat banget ni orang!”

“otomatis itu memperkuat posisi kita! Tapi kita masih bermasalah dengan segelintir Mahasiswa. Mereka ingin kepemimpinan yang sudah setahun berjalan ini runtuh karena ketidakbecusan pemerintah sangat terlihat tapi mereka juga tidak setuju denagn capres yang kita ajukan! Daya ingat mereka masih tinggi! Tapi itu bukan masalah yang berarti, selama media masih ditangan kita, opini rakyat bisa kita bentuk, mereka itu tidak lebih hanya sekumpulan anjing yang menggonggong sesaat, tinggal nyuruh apart keamanan mukulin mereka, entar juga mereka terkaing-kaing lari ha….ha….ha….”(tawa sang wakil rakyat di tengah persidangan)

(“bangsat nih orang!!!”) sahutku dalam hati.

“Tapi bukankah mereka banyak, jangan sampai tragedi ksejatuhan Soeharto dan Gusdur terulang lagi disini” sahutku kembali bertanya

“ah…seperti yang sudah saya bilang mereka itu sekarang tinggal segelintir anjing-anjing yang Cuma bisa nge-gong-gong doang tanpa usul kongkrit! Rakyat juga sudah bosan dengan aksi mereka yang cuma bisa bikin macet jalan! Lagipula mereka tidak sekuat dulu! Sebagian dari mereka sudah kita peralat untuk memperkuat legitimasi kita di tengah rakyat! Lumayanlah ….uang ga seberapa keluar tapi dapet banyak keuntungan!”

“ maksud bapak ??” sahutku ingin lebih memancing, dalam hati aku berkata (“bangsat ni orang!”)

“ Masa situ ndak ngerti ?(bener-bener bego ni ibu-ibu, udah dirumah aja lu ngurus anak,ngurus rumah, ndak pantes lo duduk disini ndak kayak gua pinter maksudnya pinter ngibulin orang…ha…ha…)

“Dengan perantara politikus tenar yang setiap hari nongol di TV kita bisa memperalat mahasiswa ediot itu yang kerjanya Cuma ngejar eksistensi belaka! Pentolannya kita kasih duit biar betah bergerak dengan kita dan ketika mereka beraksi media-media yang udah kita bayar kita suruh ngeliput mereka! Yah… itung-itung mereka juga jadi alat propaganda kita!mereka itukan ndak lebih dari artis yang cari pamor, tampangnya nongol di Koran aja senengnya minta ampun ha….ha…ha…”

PRAKKKKK……..DUARRR….DUARRRRR……..

Semua yang hadir terkejut mendengar itu namun masing-masing sudah menyadari apa yang terjadi kemudian situasi normal lagi…drama kembali berjalan lancar…meskipun suara-suara gemuruh itu terus berlanjut.

“keributan sudah terjadi… jangan-jangan mahasiswa yang menuntut presiden jatuh dan ga setuju sama usul kita itu mencoba masuk kesini???” sahutku gugup

“mereka sudah dihalau oleh aparta keamanan lagipula mahasiswa bayaran kita tidak akan tinggal diam! Suara tadi pasti suara mahasiswa yang bentrok dengan aparat dan mahasiswa bayaran kita yang ahli tawuran!

DUARRRRRRRRR……………………………..

“Rin…Rin….bangun….dah nyampe kober….lu mau turun dimana???”

sejenak ku buka mata….aku masih berada di Bus patas AC. SELAMAT DATANG DI KOTA DEPOK terlihat di depan mata. Puji syukur aku panjatkan ternyata tadi hanya mimpi. Dibayarpun tak sudi hati menjadi Duta Penguasa yang menyesatkan yang tak lebih dari tikus-tikus parlemen!!!

Depok

2 Oktober 2004, 01.00 WIB