Cermin
Cermin
Malam itu tepatnya 1 Oktober 2004. Jaket kuning kami telah kami masukkan di tas. Kini kami nyaman duduk di dalam patas AC nomor 81 jurusan Slipi-Depok. Sayup sayup terdengar nyanyian pengamen jalanan yang meminta sedikit bagian dari kemewahan semu
Jakarta . Mereka orang-orang pemimpi yang tersisihkan dari gemerlapnya
Jakarta . Jakarta….begitu yang kulihat di balik kaca kelabu bus ini….meskipun pekatnya malam telah menyapu keseluruhan jagat Indonesia namun hingar bingar Jakarta tetap menari ditengah canda tawa semu tak terkendali, sementara disudut Jakarta kaum dhuafa yang disebut sampah Ibukota tidur tanpa dosa di emperan ruko sedang sebagiannya lagi mengais-ngngais tempat sampah di dekat restoran fastfood itu.
Jakarta ……
“ Bu… bangun Bu….. ada kamera ke arah kita….. kita harus jaga ‘Image’ di hadapan masyarakat…..”
Aku terbangun seketika mendengar suara orang yang baru saja berbicara. Aku kaget seketika ketika kulihat aku berada di dalam gedung yang baru saja aku Demo tadi siang…Gedung yang angkuh penuh kemunafikan tak beda denagn orang-orang yang ada di dalamnya. Mereka adalah Duta-duta Penguasa yang menyesatkan bukan wakil-wakil Rakyat seperti sebutan puitis yang sering kita lihat di buku-buku pelajaran atau di Koran-koran yang secara-diam-diam dijadikan alat propaanda mereka!
“Kenapa aku berada di sini ?” tanyaku segera setelah ku tersadar dari alam bawah sadarku
“Wah…. Ibu lupa ya……kita
kan sudah 1 tahun menjadi wakil rakyat…. Yah… lumayan lah proyek jadi lancar….kerjaan sampingan makin banyak….apalagi jika calon dari koalisi kita jadi presiden gantiin si Boneka dungu itu ya bu….”
Saat itu aku baru sadar bahwa aku anggota DPR dari partai A. Balutan kain merah yang menutupi tubuhku saat ini. Disampingku duduk seorang laki-laki yang baru saja membangunkan aku. Laki-laki itu memakai jas hitam, sebuah pakaian elit lambang ‘kemapanan’ seseorang. Pakaian itu dipakai seluruh orang di gedung ini yang saat ini sedang berprofesi sebagai ‘Wakil Rakyat’. Dia membolak-balik halaman majalah otomotif. Mungkin dia berniat akan menambah koleksi mobilnya. Mata awasku kembali melihat laki-laki disebelah kiriku. Pria gendut berkacamata itu nampak sibuk berdiskusi dengan pria di sebelahnya. Sayup-sayup kudengar mereka sedang membicarakan pembebasan tanah di Bandung Selatan. Tiba-tiba raut mereka berubah, mereka teringat posisi mereka yang saat ini tidak aman. Mereka takut proyek
Bandung city dengan 2 menara mewah dan mall di tengahnya, tidak akan terealisasikan. Aku hanya diam dan mengamati. Melihat ketua MPR itu berbicara layaknya seorang aktor di depan kamera. Baru ku ketahui saat ini aku tengah berada di ‘dagelan’ bertajuk Sidang Istimewa untuk menurunkan Presiden yang 20 Oktober 2004 lalu dilantik. Selama 1 tahun kepemimpinan Presiden itu tidak dapat melaksanakan janji-janjinya. Rakyat yang sudah mulai kritis selain terhimpit oleh keadaan yang memprihatinkan entah sengaja diciptakan oleh oknum-oknum yang ‘belum kebagian’ kekuasaan ataukah presidennya sendiri yang tidak peka terhadap masalah rakyat. Ya… aku pun sadar presiden itu diangkat karena dukungan orabng-orang dibalik layar maka secara otomatis dia membalas budi kalau tidak ya… orang dibalik layar akan berbalik menyerang!
“tadi malam ide Ibu benar-benar brilian”sahut laki-laki disebelah kananku itu.Aku hanya tersenyum seolah-olah mngerti apa yang terjadi semalam.
“Orang itu memang pantas kita jadikan boneka!. Setelah lobi-lobi yang partai kita lakukan sejak pagi dengan partai-partai lainnya yang juga sepaham dengan kita (maksudnya sama-sama haus kekuasaan? Sahutku dalam hati) akhirnya mereka setuju mencalonkan dia sebagai presiden kedua!
“Posisi dia aman bukan?” sahutku mencoba memancing
“sudah tentu, Politikus-politikus dan media yang sudah kita bayar telah berhasil mem-frame pikiran rakyat!” sahutnya setengah berbisik
“bagaimana prediksi bapak selanjutnya?” sahutku masih mencoba memancing dalam hati aku berkata “bangsat banget ni orang!”
“otomatis itu memperkuat posisi kita! Tapi kita masih bermasalah dengan segelintir Mahasiswa. Mereka ingin kepemimpinan yang sudah setahun berjalan ini runtuh karena ketidakbecusan pemerintah sangat terlihat tapi mereka juga tidak setuju denagn capres yang kita ajukan! Daya ingat mereka masih tinggi! Tapi itu bukan masalah yang berarti, selama media masih ditangan kita, opini rakyat bisa kita bentuk, mereka itu tidak lebih hanya sekumpulan anjing yang menggonggong sesaat, tinggal nyuruh apart keamanan mukulin mereka, entar juga mereka terkaing-kaing lari ha….ha….ha….”(tawa sang wakil rakyat di tengah persidangan)
(“bangsat nih orang!!!”) sahutku dalam hati.
“Tapi bukankah mereka banyak, jangan sampai tragedi ksejatuhan Soeharto dan Gusdur terulang lagi disini” sahutku kembali bertanya
“ah…seperti yang sudah saya bilang mereka itu sekarang tinggal segelintir anjing-anjing yang Cuma bisa nge-gong-gong doang tanpa usul kongkrit! Rakyat juga sudah bosan dengan aksi mereka yang cuma bisa bikin macet jalan! Lagipula mereka tidak sekuat dulu! Sebagian dari mereka sudah kita peralat untuk memperkuat legitimasi kita di tengah rakyat! Lumayanlah ….uang ga seberapa keluar tapi dapet banyak keuntungan!”
“ maksud bapak ??” sahutku ingin lebih memancing, dalam hati aku berkata (“bangsat ni orang!”)
“ Masa situ ndak ngerti ?(bener-bener bego ni ibu-ibu, udah dirumah aja lu ngurus anak,ngurus rumah, ndak pantes lo duduk disini ndak kayak gua pinter maksudnya pinter ngibulin orang…ha…ha…)
“Dengan perantara politikus tenar yang setiap hari nongol di TV kita bisa memperalat mahasiswa ediot itu yang kerjanya Cuma ngejar eksistensi belaka! Pentolannya kita kasih duit biar betah bergerak dengan kita dan ketika mereka beraksi media-media yang udah kita bayar kita suruh ngeliput mereka! Yah… itung-itung mereka juga jadi alat propaganda kita!mereka itukan ndak lebih dari artis yang cari pamor, tampangnya nongol di Koran aja senengnya minta ampun ha….ha…ha…”
PRAKKKKK……..DUARRR….DUARRRRR……..
Semua yang hadir terkejut mendengar itu namun masing-masing sudah menyadari apa yang terjadi kemudian situasi normal lagi…drama kembali berjalan lancar…meskipun suara-suara gemuruh itu terus berlanjut.
“keributan sudah terjadi… jangan-jangan mahasiswa yang menuntut presiden jatuh dan ga setuju sama usul kita itu mencoba masuk kesini???” sahutku gugup
“mereka sudah dihalau oleh aparta keamanan lagipula mahasiswa bayaran kita tidak akan tinggal diam! Suara tadi pasti suara mahasiswa yang bentrok dengan aparat dan mahasiswa bayaran kita yang ahli tawuran!
DUARRRRRRRRR……………………………..
“Rin…Rin….bangun….dah nyampe kober….lu mau turun dimana???”
sejenak ku buka mata….aku masih berada di Bus patas AC. SELAMAT DATANG DI KOTA DEPOK terlihat di depan mata. Puji syukur aku panjatkan ternyata tadi hanya mimpi. Dibayarpun tak sudi hati menjadi Duta Penguasa yang menyesatkan yang tak lebih dari tikus-tikus parlemen!!!
Depok
2 Oktober 2004, 01.00 WIB