Ketika Rindu Merajai Musim….(sebuah kisah usang )

Ketika Rindu Merajai Musim….


Bag. 1

Mungkin jalanku sedang buta….

Kutapaki butir-butir kerikil di tanah itu

Satu demi satu terhempas mengudara

Melayang tak tentu lalu jatuh ke tanah

Angin berarak menyapa tanah

Mengajak debu-debu turut menghempas

Bunga itupun tidak diam… ikut menari bersama angin

Mungkin suara itu sedang tak melagu

Mungkin api itu telah padam

Mungkin lorong itu sedang tak bertujuan

Segalanya kosong …

Hanya pekat yang kutemukan…

Dan…. Luka itu terus menjerit…

                Kenangan tak berkesudahan membuai…

                Hinggap… bersemayam …

Dan…. Hanya kalbu yang meneriakkan rindu

Karena sia-sia itu sudah lama bersemi…

Hanya gelap yang tersisa…                                              

Bag. 2

Dia yang tidak Hidup

Gadis itu hanya memandang kosong

Diam dalam gelap dan hampa tanpa makna

Terpenjara dalam romansa…

Dia tertegun…hanya bisu membius

Dia tak hidup…namun nafas masih tergenggam

Dan ruh belum sirna

Dia hanya tidak hidup!

Kini gadis itu berjalan… kembali meniti bayangan

Senyumnya merekah mengingat tawa itu

Kini dia tertunduk…

Teriris luka abadi…

Dan … dia hanya melangkah untuk meniti bayangan

                Seongok bayangan yang sudah usang

                Diselimuti kabut tua waktu lalu

Waktu terus mengalir…

Menghanyutkan hitungan masa…

Detik…detik…berdetak seiring detak jantung

Tak berhenti…tak mengerti….

Namun Nafas masih tergenggam

Ruh pun belum sirna

Hanya, dia tidak hidup …!

Bag.3

Harap

Pernahkah kau tahu…

Tiada kata seindah untaian itu

Bersembunyi sejuta rindu di dasar hati

Memantulkankembali lukisan waktu lalu

Menggoreskan harapan usang

Mungkin engkau hanya bayangan tak berwujud

Terpantul kembali di bilik ingatan

Kapankan kita bertemu kembali…?

Ah.. Semoga umurku masih panjang…

Dan semoga takdir menurutkan mimpiku

Ke berharap…..

Bag.4

Hadirmu Tak Ku Mengerti

Sayang, aku tak tahu

Apa yang membuat bayangmu mengisi malam-malamku

Apakah suatu cobaan yang harus kuambil hikmahnya ataukah

Suatu petunjuk dari-Nya…Menuju jalan abadi itu

Sayang, cangkir itu telah penuh oleh rindu

Rindu yang tak berwarna, karena tak jua kau meminumnya

Karena tak jua diperbolehkan oleh takdir-Nya

Jika masa itu datang

Entah mengapa aku ingin berlari menjauh

Aku tak mengerti… mungkin yang aku mau hanya bayanganmu, lantas

Mari kita kembali ke masa lalu

Aku tak mengerti…

Aku hanya ingin sendiri mendekap bayangmu

Ketika masa itu datang…. Ketika kau menjadi nyata…

Aku ingin secepatnya berlari menjauh

Mungkin selamanya bayanganmu dan masalalu menjajah diriku

Mengukung kebebasanku

Namun dirimu tidak akan pernah menjajahku

Karena aku mencintai dirim,u di masa lalu… ilusi dirimu

Bukan tubuh nyata yang berdiri di hadapanku !

Bag. 5

Kau yang Maha Sempurna di Kelopak Hatiku

Kau adalah nyanyian pertama yang mendendangkan kebesaran hati

Syahdu mendalam hingga melunakkan bongkahan hati terkecil

Kau adalah bait pertama dalam syair kelapangan jiwa, menyentuh takdir-Nya

Jiwamu putih dalam kesederhanaan namun apimu selalu memancar panas

Setiap rongga gelap pekat yang tak tergapai menanti sinar harap yang nyaris sirna

Engkau mengajarkanku untuk meraih keabadian dalam Cinta

Kau  yang mengenalkanku pada cinta yang membebaskan

Kau pula yang menyulut sinarku hingga tegar menyelami rimba hidup

Karena kau adalah sebuah anugrah untuk ribuan bintang di surga

Aku hanyalah bintang kecil yang redup tak bertujuan

Hingga sinarmu datang dalam rangkaian teka-teki takdir-Nya

Sinarmu utuh menerangi hatiku

Namun aku hanyalah bintang kecil di jagat Bumimu

Walau demikian, izinkanlah hati ini untuk mencintaimu

Tidak dengan sederhana namun dengan bijaksana

Cinta yang membebaskan dalam kebijaksanaan

Karena ku tahu….

Kau adalah bintang mimpi terindah yang tak mungkin ku gapai

Bag. 6

Ketika Jiwa dan Hati Bertutur

Ku katakan dengan bisik, ketika jiwa ini berteriak

Melolong keras bak singa yang ingin bebas dari kurungan

Jiwa ini menjerit, bak jeritan mawar ketika tangan kejam mencabut sang bunga dari dahannya

Jiwa ini menangis, airnya menderai turun deras, merah pekat mengalirkan darah kesunyian

Dan… kemudian jiwa ini bertutur….

“aku bosan dengan segala ketiadaan!”

“aku bosan menggenggam harapan!”

“aku pun bosan hanya merengkuh bayang!”

Piluku pun berkata…..

“Aku masih mengasihani diriku, walau yang tersisa hanya luka!”

“ketika jerit ini…luka ini…tangis ini….hanyalah milikku!”

“tidak juga kau, karena kau masih tertawa tanpa merasakan!”

dan suara jiwa ini pun hanya mendesah rintih memadu bisik

“Cukup sampai disini untu semua harap dan mimpi!”

“semua harus mati dan kau kini hanyalah bangkai kenagan yang terkubur jauh di dasar ingatan!”

Karena aku tak rela sinarku redup, hingga sia-sialah ayunan waktu yang berdetak!

Biarlah malam ini berakhir dan langkahku tegap menyongsong terang!

Mungkin hampa lebih baik!!!

Karena….

Aku mencintai diriku dan hari esok….!!!!

Bag 7

SMS

Jika memang SMS mematikan gerak manusia, aroma dan suara. Menghentikan temu kelopak mata, melumatkan kebekuan namun meredupkan keberanian di alam nyata, Lantas… Bagaimana membebaskan diri dari jeruji imajiner dalam ketiadaan yang tidak lebih hanya hiperbola belaka ? Dan disinilah otakku yang telah termutilasi dari barisan kata itu. Aku sakit! Sepertinya……sarafku mencoba menata serpihan puzzle. Dan disinilah aku…terapung di sungai mimpi hingga fajar beranjak, menusuk bawah sadarku…..

-purple-

Bag 8

Politik Cinta

Disuatu titik hitungan waktu ketika magnum opus

massa

menembus batas ruang. Semuanya terhenti. Lalu meledakkan proyeksi yang melintas masuk ke dalam sel-sel otak. Kata-katamu membuat ku tersadar. Aku hanyalah alat politikmu demi libido kuasamu, menancapkan dominasi dalam phalussentris. Ya.. aku hanya alat dan cinta tak hanya permainan namun cinta adalah politik. Politik cinta dimana politik menjadi alat untuk menguasai cinta. Cinta yang hanya dijadikan alat untuk menguasai cinta yang lain. Dan aku muak!!!

Bag 9

Berdiri

 

Ia

Mengakhiri

gadis itu kini tersentak

kembali ia ke alam realitas

Dia tahu dia ada, namun dia hanyalah seongok daging tak bermakna

Dia menangis atas kesia-siaan

Tangisnya mengharap hidup

Namun waktu tak jua luluh… terus angkuh mengalir

Bersatu dengan air mata sesal

Dia berteriak :

“ Aku hanya ingin

Ada

!!!”

“ Aku hanya  ingin hidup!!!”

- indah-

Depok, 2004

Leave a Reply