Archive for September, 2005

GLOBALISASI DAN KRISIS KAPITALISME GLOBAL

Saturday, September 17th, 2005

GLOBALISASI DAN KRISIS KAPITALISME GLOBAL

Globalisasi merupakan kata-kata yang sering diucapkan akhir-akhir ini. Setiap orang, setiap negara tidak bisa lepas dari globalisasi karena globalisasi adalah bagian dari peradaban manusia. Namun apakah yang disebut globalisasi ? Benarkah globalisasi erat kaitannya dengan kapitalisme ? Mari kita mengarungi globalisasi lebih mendalam lagi serta menyikap hubungan misterius antara globalisasi dan kapitalisme global dan mengapa krisis kapitalisme global dapat terjadi.

Apa itu Globalisasi ?

Globalisasi, menurut Thomas L Friedman, merupakan fenomena pasca-Perang Dingin yang tidak dapat dihindari. Runtuhnya tembok

Berlin

, tidak hanya simbol runtuhnya bangunan fisik perang dingin yang memisahkan manusia dengan manusia lainnya, tetapi juga nilai-nilai yang menyertainya. Perang dingin yang ditandai oleh tembok-tembok yang tebal itu, runtuh bersamaan terbukanya sekat-sekat yang memisahkan bangsa-bangsa sehingga kita (sekarang) hidup di alam tanpa batas. 1

                        Jadi benar bahwa globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Seusai perang dingin negara-negara maju berusaha menanamkan paham ini yang pada akhirnya dapat memberikan keuntungan yang berlimpah bagi mereka sendiri. Globalisasi dapat dibaratkan sebagai rumah tak berdinding. Ketika musuh datang di luar rumah yang masih berdinding kita dengan mudah melindungi diri dari segala ancman musuh tetapi ketika dinding-dinding telah diruntuhkan maka musuh dapat dengan mudah masuk, memporakporandakan segalanya termasuk idealisme, identitas, moral dan segala aspek dalam kehidupan.

William Greider mengamati bahwa globalisasi yang terjadi seperti angin puting beliung itu pada akhirnya hanya menguntungkan segelintir orang, dan menyengsarakan sejumlah besar penduduk planet Bumi ini. Dalam bukunya One World, Ready or Not, The Manic Global Capitalism (1998), ia melontarkan tesisnya bahwa motor di balik globalisasi adalah yang disebutnya "kapitalisme global." 2

Sepintas tentang kapitalisme

Idiologi kapitalisme memiliki fungsi penjelasan yang tepat sama dengan sistem-sistem keyakinan feodal atau upeti. Penegakan idiologi kapitalisme agak mirip dengan suatu revolusi rakyat bukan saja memerlukan bentuk-bentuk baru penjelasan social tetapi pencarian suatu sumber baru . Salah satunya adalah pembentukan suatu sikap baru terhadap kegiatan sentral sistem sosioekonomis kapitalis yaitu pencarian laba.3

Sesuai dengan ideology kapitalisme yang serakah yaitu mengabil semua yang ada untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Penjunjung tinggi idiologi kapitalisme ini adalah negara super power dan negara-negara maju yang dengan memanfaatkan teknologi mereka menerapkan idilogi kapitalisme. Hasil dari pemanfaatan teknologi informasi dan media komunikasi yang diciptakan oleh mereka yang dapat menembus batas-batas negara adalah kapitalisme global.

Global Laissez – faire merupakan sebuah momen dalam sejarah perekonomian dunia yang sedang bangkit, bukan ujung akhirnya… Yang pasti adalah bahwa pengaturan ekonomi dunia sebagai sebuah pasar-bebas-global-tunggal mendorong ketidakstabilan. Pengaturan tersebut memaksa para pekerja menanggung kerugian dari teknologi baru dan perdagangan bebas tak terbatas. Di dalamnya tak ada sarana dengan mana aktivitas-aktivitas yang membahayakan keseimbangan ekologis global dapat dibatasi… (hal itu) pada gilirannya mempertaruhkan masadepan planet ini pada pengandaian bahwa bahaya-bahaya yang amat dasyat ini akan dianggap sebagai sebuah konsekuensi yang tak disengaja dari upaya mengejar keuntungan. 4

Globalisasi = Kapitalisme global ?

Globalisasi bersumber dari sistem liberalisasi ekonomi. Liberalisasi ekonomi yang saat ini berwujud pasar bebas yang telah diagung-agungkan oleh negara-negara maju, padahal apa yang dinamakan pasar bebas tersebut tidak lain adalah kapitalisme global. Seperti yang dirumuskan oleh bapak liberalisme ekonomi Adam Simth dengan bukunya the wealth of nation mencetuskan sebuah ide sistem social ekonomi dengan slogan “ tangan tak kelihatan”. Teori ini menjadi dasar kapitalisme yang mempercayai pasar bebas. Artinya mempercayai bahwa individu yang bertindak bebas dalam rangka pemenuhan kebutuhan pribadi akan berpengaruh baik bagi peningkatan kesejahteraan publik disbanding dengan pasar yang dikendalikan / dimonopoli pemerintah. Jargon kebebasan dalam berusaha inilah yang dipakai para negara kapitalis untuk meluaskan faham ini dan negara penjunjung paham ini sebagai tangan tidak kelihatan.

Negara penjunjung faham ini menciptakan berbagai instrumen untuk menyebarkan faham ini dan memudahkan jalan agar liberalisasi ekonomi dapat terwujud tidak hanya di negaranya tetapi di seluruh dunia. Ketika liberalisasi ekonomi ini sudah mencapai titik terang dan pengaruhnya telah tersebar di seluruh dunia maka liberalisasi ekonomi berganti nama menjadi globalisasi.

Globalisasi pada awalnya menawarkan segala kemudahan-kemudahan  dan kebebasan absolut dalam hidup namun sebenarnya globalisasi menjurus ke arah kapitalisasi. Globalisasi yang didukung oleh instrumen-instrumen seperti teknologi informasi dan media komunikasi menciptakan borderless world yang dapat membuka jalan terciptanya mekanisme transaksi ekonomi yang canggihs ehingga dapat membangun dinamika social lainnya. Hanya negara yang maju saja yang dapat menikmati globalisasi ini selebihnya negara –negara yang berkembang dan terbelakang hanya menjadi korban globalisasi.

Negara-negara maju dengan menggunakan teknologi yang canggih mengeksploitasi habis-habisan sumberdaya negara lain tanpa diketahui negara tersebut. Negara maju menginvestasikan uangnya melalui IMF, WTO, Bank Dunia, dll, yang selanjutnya lembaga-lembaga tersebut memberikan pinjaman berbunga ringan ke negara-negara berkembang dengan syarat-syarat yang menguntungkan negara-negara yang telah menginvestasikan uangnya tersebut. Dengan mudahnya negara-negara maju tersebut mengubah birokrasi suatu negara sehingga menguntungkan baginya untuk membuka cabang-cabang perusahaan atau perusahaan baru di negara berkembang tersebut untuk kemudian di eksploitasi sumber daya alamnya dan memanfaatkan degara berkembang tersebut sebagai pasar yang potensial untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya.

Apakah Globalisasi telah sampai pada tahap “krisis”?

Akibat dari globalisasi ini yang sangat mencolok adalah semakin lebarnya perbedaan antara negara-negara maju yang menciptakan globalisasi dan negara-negara berkembang dan terbelakang yang menjadi objek globalisasi.  Oleh karena itu, berbagai bentuk perlawanan muncul di mana-mana. Di Meksiko, para petani melalui pemberontakan Chiapas menentang perdagangan bebas ala Nafta. Di Eropa, kelompok Neo-Nazi, buruh maupun petani berunjuk rasa menolak Uni Eropa. Di Seattle, Washington, Chiangmay, Melbourne, dan Genoa, berbagai kelompok sosial lintas etnik, agama, kelas, dan negara, berdemonstrasi menolak WTO, IMF, dan World Bank. Jika dikategorikan, sekurangnya terdapat tiga macam gerakan perlawanan, yakni fundamentalisme, nasionalisme, dan anti-globalisasi. Gerakan fundamentalisme mengedepankan "agama" sebagai solusi terbaik untuk mengembalikan kontrol sosial atas ekonomi. Gerakan ini bukan saja melawan ideologi dominan (neo-liberalisme) di balik self-regulating market, tapi juga menentang kekuatan politik (terutama pemerintah Amerika) yang membentengi globalisasi.

Nasionalisme merupakan bentuk perlawanan yang ingin meraih kendali kehidupan ekonomi melalui purifikasi bangsa. Gerakan ini, di antaranya, mempermasalahkan globalisasi karena mudahnya perpindahan manusia melampaui batas teritori membawa kerugian sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Nasionalisme juga ingin mengembalikan (kejayaan) negara-negara yang diterjang habis-habisan oleh self-regulating market. Sementara itu, antiglobalisasi adalah gerakan perlawanan terhadap kapitalisme global. Gerakan ini menganggap globalisasi ekonomi merupakan sumber kemiskinan dan kesenjangan sosial dunia kontemporer. Yang menarik, sekalipun Post-Fordisme dan kebijakan ekonomi neo-liberal terbukti mengandung krisis-krisis bawaan, gerakan-gerakan perlawanan ini belum juga berhasil mengakhiri self-regulating market. Sebaliknya, situasinya menjadi stalemate.

Demokrasi muncul kemabali yang menjanjikan terpenuhinya kesejahteraan buruh dan kepentingan akumulasi kapital diantaranya melalui walfare state.  Diantara banyaknya faham-faham anti globalisasi, krisis kapitalisme  global mulai mulai terlihat karena gagal memenuhi janjinya memberikan kesejahteraan, resistensi terhadap ekspansi pasar bebas tidak cukup kuat untuk memenangkan pertarungan.

Siapa yang bisa selamat dari Globalisasi dan Kapitalisme global ini?

                        Bangsa yang bisa selamat dari globalisasi dan kapitalisme global ini adalah bangsa yang mengetahui strategi menghadapi masalah ini:

1.      Kemampuan suatu bangsa dalam mengelola globalisasi

Dalam menghadapi globalisasi kita harus merubah cara pandang kita dari statis menjadi dinamis yaitu dengan mengubah birokrasi yang terlalu sulit dalam berusaha dan mengembangkankan industri baik di dalam maupun di luar negeri, mempertahankan asset-aset milik negara yang menguasai hajat hidup orang banyak serta merubah dan restrukturlisasi  sistem perusahaan milik negara seperti BUMN agar dapat menghasilkan keuntungan sekaligus tetap mengutamakan kemakmuran untuk rakyat, menghapus birokrasi yang sulit dalam ekspor sebaliknya memperkuat birokrasi dalam impor agar masyarakat lebih mencintai hasil karya bangsanya, menghapus segala hambatan investasi, memberi peluang sebesar-besarnya kepada setiap warga negara untuk berkompetisi dalam menghadapi globalisasi.

2. Memperkuat akar kebangsaan

                        Untuk dapat memperkuat akar kebangsaan di era globalisasi rasa cinta kepada tanah air dan kepada budaya bangsa harus dipupuk dan diperkuat hanya saja caranya tidak radikal tetapi mengikuti aturan di era globlisasi ini yaitu dengan nasionalisme yang lebih kosmopolitan. Athony Giddens mengatakan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang percaya diri dalam menerima batas-batas baru kedaulatan. Era globalisasi di sebut era tanpa batas (borderness) lalu seperti apakah batas-batas baru kedaulatan? Batas baru kedaulatan adalah batas-batas yang dibuat suatu negara untuk melindungi negaranya dari ancaman globalisasi denagan tetap mengikuti globalisasi seperti pembuatan aturan-aturan, birokrasi-birokrasi yang dapat melindungi negaranya dari disintegrasi bangsa dan dampak-dampak globalisasi lainnya.

Identitas-identitas nasional harus dipertahankan dalam lingkungan yang kolaboratif, dimana mereka tidak akan memiliki tingkat inklusivitas seperti yang mereka miliki sebelumnya, dan dimana bentuk – bentuk loyalitas lainnya menyertai mereka. Yang tersirat adalah pembangunan identitas nasional yang lebih terbuka dan refleksif yang menandai keistimewaan suatu bangsa beserta segala aspirasinya, tetapi yang tidak dianggap sebagai sesuatu yang semestinya terjadi seperti pada masa sebelumnya.5

3.      Memperkuat Hubungan dan kerjasama dengan bangsa lain

Dalam menghadapi globalisasi, sangat diperlukannya kerjasama regional, multilateral atau bilateral terutama kerjasama antara bangsa-bangsa “senasib” atau bangsa-bagsa yang mempunyai tingkat perekonomian yang sama. Kerjasama ini sangat di perlukan untuk menciptakan perlindungan, peraturan-peraturan dan kemampuan bagi negara negara tersebut untuk melindungi dirinya untuk menghadapi dan agar tidak tertindas bangsa-bangsa pencipta globalisasi ini.

Depok

2004

aIR MAta Di SuDuT Jakarta

Saturday, September 17th, 2005

                                   AIR MATA DISUDUT JAKARTA

Sore itu, senja temaram kemerah-merahan menutupi seluruh jagad raya. Perpaduan merah dan kuning terpantul pada setiap benda menjadi elok…keemasan. Namun indahnya senja tidak merubah suasana di perkampungan kumuh di pasar minggu. ciprat air sisa hujan yang kemarin membasahi sendal jepit anak itu. Dia tidak peduli, yang dia pikirkan hanyalah berlari secepatnya, sesegera mungkin menemui ibunya. “Bu…Bu…aku di terima!” teriak anak itu sambil menerobos masuk ke sebuah rumah sederhana. Sebuah rumah yang terbuat dari setengah papan dan setengah tembok, keadaannya tidak lebih baik seperti rumah-rumah lain di kampung tersebut. Ibu anak itu kaget tersentak dari tikar, tempat dia membuat adonan donat, ibu itu menghampiri anaknya ketika anaknya menghampiri mendekat. “ada apa le, teriak-teriak seperti itu? Malu di dengar tetangga!”sahut ibu itu dengan tangan masih berlumuran tepung dan telur. “kepala sekolah bilang aku diterima PMDK, ini suratnya!” dengan wajah gembira sang anak menyodorkan kertas putih yang dianggapnya berharga itu. Sehelai kertas yang akan membawa pada perubahan nasib yang diimpikan. Ibu anak itu segera mengambil kertas dan membacanya dengan perlahan. Selagi ibu itu membaca, anaknya berkata dengan semangat “aku di terima di Fakultas teknik Universitas Negeri A, mak. Jurusan arsitektur, entar jadi insinyur kalo udah lulus, seperti yang di impikan almarhum bapak dulu” Ibu itu tersentak kaget, kata-kata Universitas Negeri A sudah cukup mengiris hatinya. Terbayang almarhum suaminya yang pernah bekerja sebagai tukang bangunan di lokasi tersebut. Terbayang wajah almarhum suaminya yang diketemukan sudah tak bernyawa di samping rel kereta stasiun Universitas A. Bayangan masa lalu itu ditepisnya perlahan lalu dipandangnya wajah putra pertamanya,buah hati yang sudah merasakan pahitnya kehidupan sejak suaminya pergi, laki-laki satu-satunya yang menjadi panutan ketiga adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dan seseorang yang diharakan dapat merubah nasip keluarganya. Hati ibu itu tak tega hati melenyapkan senyum polos penuh bahagia yang terpancar dari wajah nyaris tanpa dosa. “ tapi le, uang untuk masuk sebesar ini emak dapet dari mana?” Sambil menaruh kertas tersebut diatas meja dan kembali sibuk dengan adonan donatnya. “Kamu tau sendirikan untuk biaya kebutuhan sehari-hari saja kita sudah sulit padahal ibu sudah kerja serabutan…ya…nyuci, jualan dan kamu sendiri bisa sekolah sampai saat ini suatu mukzizat dari gusti Allah. Adikmu, dewi belum bayar uang bangunan sekolahnya, belum rini lagi yang kemaren malu kesekolah lantaran belum beli buku.” “Ibu enggak usah khawatir, pagi ahmad kuliah dan sorenya tetep kerja di bengkel pak somad” sahut ahmad sambil menuangkan air ke gelas untuk sekedar melepaskan dahaganya sejenak. Sebelum ibunya bereaksi dia sudah berkata, “kata pak kepala sekolah ada keringanan kok, terus katanya lagi beasiswa itu berlimpahan disana, pokoknya Ibu ga usah takut deh! selesai minum, ahmad bergegas pergi .”aku ke rumah pak somad dulu ya,mak! katanya order lagi banyak, ahmad disuruh kesana tadi” Tanpa menunggu jawaban anak itu bergegas keluar rumah. Ibu anak tersebut hanya memandang punggung anaknya yang makin lama makin menghilang dalam temaramnya petang di sertai helaan nafas panjang dari lubuk hati yang terdalam. “jadi berapa butuhnya ?” sahut seseorang yang terkenal denagn nama Pak Margo di kampung itu. “sekitar 5 juta pak?” sahut ibu itu dengan mata menunduk “ kalau cuma lima juta, saya ada, tapi seperti biasa bunganya 30 % dan kalau tidak dikembalikan dalam jangka waktu 5 bulan rumah ibu akan disita, gimana?” “baik, akan saya usahakan” sahut ibu itu sedikit ragu, terbayang wajah ceria putra putrinya yang haus akan ilmu pengetahuan. Kemudian Pak margo masuk ke ruang lainnya dan membawa keluar segepok uang kontan. “ ini lima juta saya berikan kontan dengan jaminan surat tanah ibu beserta bangunannya” ibu itu menerima uang itu dan memberikan surat-surat tanahnya. Lalu keluar dari rumah itu denagn langkah lesu. Sebetulnya tiada niatan bagi ibu itu untuk pergi ke lintah darat namun itu adalah jalan terakhir. Berhari-hari ibu itu pergi dari sanak saudara yang satu ke yang lain hingga saudara terjauh untuk meminta pinjaman uang untuk membayar senyum ceria di wajah keempat anakmya, namun hanya senyum manis dan kata “maaf” yang Ia terima. Perhiasan peninggalan suaminya yang hanya beberapa pun telah di lepas di penggadaian namun uang dengan sejumlah itu belum cukup untuk merubah masadepan keluarganya dan anak-anaknya. Kehidupan ini sungguh tidak adil. Membiarkan orang kaya makin kaya sedangkan yang miskin makin tertindas oleh kemiskinan yang tidak akan berubah. Tinggallah Takdir yang disebut nama akhir dari sebuah keputusasaan. Dunia sungguh tidak adil! Siang nan terik kian membakar kemelut Jakarta, seiring denyut nadi pembangunan, pergolakan permasalahan tidak pernah berhenti di jantung kota Indonesia, selalu menyertai dalam ketimpangan yang semakin merajai dogmatis antara kemewahan dan keterbelakngan, menyikap tirai realita yang selama ini tertutupi dalam kepastian yang semu. Siang nan terik juga membakar semangat para pedagang di sekitar kawasan pasar minggu. Para pedagang tidak henti-hentinya menawarkan barang dagangannya ke semua pemakai jalan. Bau busuk sayuran, lalat-lalat yang berterbangan hingga kucing-kucing yang mengeong meminta ikan-ikan busuk tidak menghentikan semangat pedagang untuk meneruskan hidupnya di pinggiran kota Jakarta. Tidak juga menyurutkan para tukang sapu jalan. Para pahlawan berbaju biru ini serasa berjuang di padang sahara. Berjuang dari terik mentari yang membakar setiap hari, berjuang daru asap dan debu yang tak terkira, berjuang dari lingkungan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kebersihan, dan berjuang untuk sekedar mempertahankan hidupnya dari keganasan ibukota.Ibukota bukan ibu pertiwi, bukan pula ibukandung pun juga tidak seperti ibu tiri hanya seperti hutan rimba bahwa siapa yang mampu bertahan hidup dia yang selamanya tetap tinggal. Kejam memang, tapi di dunia ini tidak ada yang lebih kejam selain kehidupan itu sendiri. Panasnya siang ini juga membakar gang-gang kecil tepat dibelakang ramainya pasar minggu. Gang itu nampak panjang tak berujung di hiasi dengan deretan rumah-rumah alakadarnya . Tawa-riang anak-anak berderai, akan abadikan tawa itu? hanya realita yang dapat meramalkannya dan hanya waktu menunggu kepastian-Nya! Seorang anak setengah baya bersemangat berjalan di tengah gang itu. Menuju ke satu rumah yang sangat sederhana …. “ Bu….aku sudah terima gaji nih…..” sahutnya lantang penuh semangat “rin, mana Ibu ?” sahutnya sambil mengambil air minum “Ibu belum pulang, sudah seminggu ini emak selalu pulang sore” sahut adiknya acuh tak acuh yang sedang meniti huruf-demi huruf pekerjaan rumahnya. “ aku baru aja gajian neh, lumayan lah buat keperluan kamu, dewi dan tini jadi Ibu enggak perlu minjem uang ke rentenir itu lagi, kamu sudah masuk sekolah lagi ? sahut ahmad lagi “ belum… aku masih malu sama teman-terman lagian percuma saja aku masuk kalau tidak ada yang bisa kumahami tanpa buku!” sahut adiknya ketus. “ Berapa biaya yang dibutuhkan ?! sahut akhmad tak kalah ketus “ 300 rb rupiah kontan, enggak pake nyicil, katanya kalau nyicil baliknya pada lama jadi sekarang sistemnya ada uang baru ada buku !” ‘” ya sudah, besok kamu sekolah lagi ya…. Nih ada uangnya” sambil menyerahkan uangnya ahmad berlalu pergi menyisakan kebahagian yang terdalam dihati Rini. “ mas, mau kemana ?” Tanya rini melihat kakanya pergi “ mau nyamperin ibu di rumah encik, mungkin dia masih disana, sekalian beli makan siang. Kamu belum makan, kan?” Tanya ahmad yang langsung pergi sebelum pertanyaannya dijawab. “Pesen gado-gadonya dua bungkus mbak, gak pake lama ya..” ahmad berkata dengan riang “tumben, lagi dapet duit ya….? Tanya mbak mira sambil mengambil sayuran rebus “ya…lumayan hasil kerja selama liburan” sahut ahmad sambil membolak-balik Koran di yang ada Cuma-Cuma di depan matanya. “ masyaAllhah !!!” teriak mbak mirah spontan dan langsung berlari ke sebrang jalan. Begitu juga orang-orang di sekitar lingkungan itu yang melihat kejadian yang tidak sengaja terlihat dan terjadi dalam hitungan detik. Ahmad yang sedang membaca Koran juga terkejut dan berlari mengikuti kerumunan orang. Nampak dari jauh seorang tukang sapu dengan muka tertutup caping sudah tergoleg berlinangan darah. Ahmad penasaran ingin melihat wajah di balik caping itu. “ ibu………!!!” teriak ahmad sekencang-kencangnya diiringi tangis pilu yang tak tertahankan. Jatuh lemas melihat seseorang yang sangat disayanginya sudah tak bernyawa….

Depok 2004

DUA WAJAH SALING BERCERMIN…MANAKAH YANG ASLI???

Saturday, September 17th, 2005

DUA WAJAH SALING BERCERMIN…MANAKAH YANG ASLI???

Pendidikan

Pendidikan…..

Laksana matahari yang menyinari bumi

Menghangatkan jiwa-jiwa kosong tak berarti,

Menjadi jati diri yang kuat dan mandiri

Pendidikan…..

Laksana udara…tak terbatas namun terasa

Memberi kehidupan dan warna asa

Hingga akhir zaman manusia

Pendidikan….

Seperti ibu dengan kasih tak kenal lelah

Menyentuh tangan-tangan kecil, polos tak bermakna

Mengubah menjadi kaya dan nyata

Pendidikan…..

Seperti air mengalir tak bermuara

Penuh kekayaan alam tak ternilai harga

Menghilangkan dahaga semua makhluk ciptaan-Nya

Tak peduli siapa…..

Karena Pendidikan adalah

Sebuah jembatan untuk memahami KeEsaan-Nya

                                             Depok

2004

Wajah Pendidikan Indonesia-ku

Sebuah wajah pendidikan terlukis

Suram…terselebung kepentingan & keegoisan

Kotor…Terkandung keserakahan & Pemerasan

Sebuah wajah Pendidikan terbersit

Indah…dalam Penampakan & warna

Namun kosong, hampa & tak bermakna

Sebuah wajah Pendidikan terlintas

Kabur…tak terlihat…tak berbentuk

Tercipta dari tangan tak terdidik yang terkutuk

Sebuah wajah pendidikan tercipta

Terlihat …namun jauhdan kian menjauh…

Tak tersentuh dan semakin tak tersentuh…

Bagi tangan-tangan mungil yang memelas dan menunggu

Wajah pendidikan itu kian nyata

Semakin mengerikan….buruknya

Menghisap materi hingga tulang sum-sumnya

Adakah yang menyadarinya???

Tidak…

Mereka hanya tersenyum dan memakluminya….

Depok

2004

                                                

Manusia-manusia Kerbau

Saturday, September 17th, 2005

                                             Manusia-manusia Kerbau

Dua orang tukang sapu (TS) sedang menyapu di jalan kampus UI mereka melihat………mendengar…… “nunduuuk!!!!!!!!!!!!! Semuaaaaaaaa!!! Matanya jangan belanja ya. Yang mau mampus bilang!!!!!! Yang mampus matanya jangan belanja ya!!!!!!!!!” TS 1 : Lagi ngapain ya mereka itu? Kok diomelin gitu ya? Kaya binataang aja? Mereka kan orang terpelajar (TS 1 berkata dengan logat Tegal) TS 2 : O…a.la….sampeam ndak tau ya mereka itu lagi diplonco? Tau ndak diplonco? (TS 2 Berkata dengan logat madura) TS1 : Wah……..wong saya belom pernah makan bangku kulihan…..Jangankan kuliahan smp aja ndak tamat, mbak TS2 : 0…….begitu to kasian bener sampean. Saya aja sarjana lo…….. TS1 : (dengan muka bego keheranan) Sarjana, loh kok jadi tukang sapu disini? TS 2 : Lah, saya sarjananya di kampung. Saya cari kerjaan di kota itu susah buanget ya akhirnya ya seperti ini. Saya juga pernah di pelonco. Pelonco itu penyiksaan sebelom masuk kuliahan. Gitu lo…….. TS1 : Tapi kok di plang tulisannya Pengenalan Sistem Akademik Universitas ya? Katanya pengenalan tapi kok disiksa gitu? Apa sistemnya kali ya yang begitu? Mereka yang pake jaket kuning itu lah kok ga bisa mengartikan tulisan GEDE-GEDE di plang itu ya? TS2 : Oh, itu karena mereka masuk lebih dahulu. Mereka dendam soalnya mereka juga diperlakukan seperti itu dulu. Ngerti sampean???? TS1 : Walah tradisi yang ndak putus-putus toh dibumbui dendam lagi. Weleh…..weleh……Eh tapi kalau dipikir-pikir sama ya kaya pancasila? TS2 : Alaaaaaaaaaah………. Tau apa sampean dengan pancasila? Wong smp aja ndak tamat kok TS1 : Walaupun saya SMP ndak lulusan tapi saya masih bisa mikir, mbak. Gini loh mbak, Pancasila itu bagus namanya tapi mengartikan dan penerapannnya salah, ya sama kaya apaa tuh…..PSAU itu. TS2 : (mengangguk-angguk bego) bener juga sampean. Kirain pinter ya yang pake jaket kuning itu ternyata guoblok. Pinteran sampean donk. Mereka itu dungu kaya kerbau TS1 : Pantas orang Indonesia sekarang banyak yang bermental sayur. Pada ga percaya diri. Lah wong dari dulu baru-baru masuk aja udah dimarahin, salah sedikit dimarahin kayak anak yang kuncir dua itu. Liat ga situ anaknya tuh…..(sambil menunjuk) TS 2 : Ngerti saya…….Tapi (belagak pinter) itu juga yang menyebabkan orang Indonesia kaya kerbau semua. Di picut dulu baru kerja. TS1 : Oh saya ngerti. Masuk mbak kan, kebanyakan orang Indonesia itu ada bencana dulu baru kerja. Ndak ada kesadaran untuk bangkit. Diteriakin dulu sama atasan baru kerja. Gitu kan maksud sampean? TS2 : Tul betul tak iya. Lah bego juga mahasiswa. Katanya terpelajar, lah kok tradisi kuno gini dipertahankan ya? Mahasiswa bisa ngejatohin Soeharto, bisa ngerubah zaman lagi. Lah kok tradisi kuno kaya gini tetap dipertahankan ya? Katanya pinter, mana???? Pengawas TS : EH……..!!!! KALIAN BERDUA!!! KEMBALI KERJA!!! NGOBROL AJA PAGI-PAGI!!!!!!!! Guoooooooblok……..Dasar kerbau…………!!!!!!!!!!! TS 1& TS 2 : Eh iya Pak………..ini lagi nyapu…………. Pengawas TS : Ah………….santai dulu ah………. Mumpung belum ada Pak Direktur Tukang Sapu………

Depok

2003

KERAJAAN BUDAYA

Saturday, September 17th, 2005

                                                     KERAJAAN BUDAYA                        

Alkisah, di sebuah negri antah berantah berdiri suatu kerajaan bernama kerajaan Budaya. Kerajaan ini merupakan bagian dari suatu kerajaan yang bernama Uninda Raya yang sangat luas dan  besar yang terkenal di seluruh dunia khususnya di benua Ina. Konon kerajaan Budaya ini terkenal karena wilayahnya yang paling luas dan pendudunya yang besar jumlahnya. Seperti namanya,  kerajaan budaya terdapat berbagai suku bangsa yang rakyat-rakyatnya mengkhuskan diri untuk mempelajari berbagai macam budaya di dunia untuk persiapan di kehidupan kedua mereka yang penuh dengan tantangan dan rintangan.

Kerajaan budaya ini terkenal  sangat berbudaya, selalu aman serta tentram. Namun, ada yang ingin mengacaukan   kerajaan ini. Kelompok ini menamakan dirinya Gerakan Budaya Merdeka (GBM) yang bermarkas di Kedai Budaya (Kebud). Gerakan ini bermaksud memisahkan diri dari Kerajaan kesatuan Uninda.

Tahun 2003 GBM berhasil menancapkan kekuasaannya di Kerajaan Budaya. Dengan cara yang melenceng dari konstitusi yang telah ditetapkan selama berabad-abad yang lalu, GBM ini berhasil memperoleh kekuasaan tertinggi pada pemerintahan di kerajaan Budaya. Semula rakyat kerajaan Budaya tidak menyadari ancaman dibalik mulut manis yang  telah diucapkan oleh para sesepuh GBM pada serangkaian pidato kenegaraannya di Pusat Kegiatan Rakyat (Pusgira). Baru, setelah terjadinya tragedi 14 april 2003 para rakyat di kerajaan budaya ini mulai mencium adanya niat jahat dari GBM ini.

Tragedi ini berawal dari keinginan pemerintah pusat Kerajaan Uninda Raya untuk mengadakan Kampanye calon Raja Uninda. Pawai kampanye ini singgah ke semua negara bagian di Uninda Raya. Pawai kampanye ini mempunyai tujuan baik agar seluruh rakyat kerajaan Uninda Raya mengetahui perihal tentang calon-calon Raja yang akan mereka pilih serta visi dan misi mereka untuk memajukan kerajaan Uninda Raya.

Pawai ini masuk ke semua negara bagian dengan terlebih dahulu meminta izin ke MPR dan Pemerintah di seluruh negara bagian. Prosedur permintaan izin seperti tahun-tahun sebelumnya dilakukan dengan cara Formal yaitu melayangkan

surat

ke MPR setelah itu MPR dengan cara non formil menyampaikan ke pemerintah. Apabila semua telah sepakat, pawai kampanye ini baru bisa memasuki area negara bagian tersebut. Begitu juga dengan proses perizinan ke kerajaan Budaya. Setelah MPR setuju dan pemerintah menyatakan mendukung acara ini (hal ini disampaikan oleh mentri sosial politik kerajaan Budaya) akhirnya pawai ini masuk ke kerajaan. Namun GPM ternyata punya rencana jahat yang telah direncanakan 3 hari sebelumnya.

Setelah pasukan kampanye datang dengan damai memasuki area Parkit Budaya dan memulai kampanyenya di teater terbuka, sejumlah warga kerajaan budaya menyerang panitia dan orang-orang yang sedang berkampanye. Penyerangan ini dilakukan oleh rakyat yang tidak berdosa yang telah terprovokasi oleh GBM. Tragedi berdarah ini telah mengakibatkan 1 orang rakyat budaya dilarikan ke rumah sakit dan beberapa orang mengalami luka-luka. Tragedi ini memberikan pengalaman menyakitkan bagi Rakyat Baru (RABA) dan mengakibatkan kerugian moril dan materil Kerajaan budaya.

Dalam pernyataan tertulis, Pemerintah budaya telah mengklaim pernyataan panitia pawai Uninda Raya. Pemerintah Budaya membantah telah memberikan izin diadakannya kampanye padahal sudah jelas-jelas pemerintah memberikan pernyataan mendukung. Alasan tidak memberi izin pawai tersebut singgah ke kerajaan budaya cukup sepele dan terlihat tidak logis dan tidak rasional.  Alasan menurut beberapa

surat

kabar yaitu karena pawai tersebut mengganggu ketentraman para rakyat yang sedang menimba ilmu di Istana no. 8. Kalau itu alasannya lalu bagaimana dengan kegiatan hura-hura yang sering dilakukan oleh pemerintah di kawasan teater terbuka yang memang berdekatan dengan Istana no. 8 ini. Dan Pemerintah menyatakan bahwa kerajaan budaya akan membentuk kerajan sendiri terlepas dari kerajaan kesatuan Uninda Raya. Pernyataan terakhir itu sangat menggemparkan kerajaan budaya. Sebagai kerajaan kesatuan yang telah berabad-abad berdiri dan bersatu berkat jerih payah para pejuang-pejuang terdahulu.

Ketika KEPERCAYAAN telah DISALAHGUNAKAN……

Ketika DEMOKRASI akan DI MUSNAHKAN dari ‘negeri’ ini………………………………

Ketika PREMANISME dan ANARKI memasuki sel darah pemerintahan ‘negeri’ ini……….

Ketika PERSAUDARAAN dan KESATUAN mulai retak…..

APAKAH KITA HANYA DIAM SAMBIL MENUNGGU 1000 TRAGEDI YANG AKAN TERJADI dan 100 KORBAN YANG TAK BERDOSA AKAN TERLUKA ????

Apakah kita membiarkan nasib kita seperi nasip bangsa

Indonesia

ini???

Apakah Kita sebagai komunitas penggerak, perubah bangsa dan pembela bangsa RELA DI JAJAH  ‘di rumah’ kita sendiri ???

Jawabannya ada pada dirimu WAHAI RAKYAT KERAJAAN BUDAYA YANG PEDULI AKAN NASIB RUMAH TEMPAT KITA BELAJAR TENTANG ILMU DAN KEHIDUPAN……………

   

-DEPOK-

2003                        

Gelap

Saturday, September 17th, 2005

               NILAI SEBUAH PENGABDIAN DAN PERJUANGAN

Senja perlahan tenggelam  di pangkuan ibu pertiwi. Bulan bersiaga menggantikan sang surya. Perlahan merayap ke angkasa menerangi jagat raya. Satu-persatu kaki-kaki para pengabdi dan penimba ilmu pengetahuan keluar dari tempatnya menuju ke peraduan masing-masing. Malam semakin larut. Krik……krik……..suara jangkrik memecah kesunyian malam kemudian kembali sunyi……….sepi……..tak ada satupun manusia di kompleks UI tak terkecuali di Fakultas Ilmu Budaya. Namun demikian terdengarlah 2 makhluk sedang bercakap-cakap. Ya, tak lain adalah para gedung di kompleks FIB.

“Selamat malam Gelap….Sejak tadi mengapa engkau bermuram durja. Perihal apa yang sedang bergejolak dalam hatimu hingga engkau begitu sedih wahai temanku Gelap???” Ujar Kerucut memecah kesunyian malam.

“Saya sedih…….teramat sedih…..rasanya air mata ini mengalir bak sungai di hati ini. Mungkin dikarenakan fisik semakin menua sehingga saya tidak berguna lagI“ Ujar Gelap.

“Wahai temanku Gelap, engkau semestinya bangga telah melahirkan beratus-ratus pengabdi ilmu pengetahuan yang memelihara ilmu pengetahuan. Wahai temanku Gelap, engkau didirikan bukan tanpa keringat dan perjuangan, engkau didirikan bukan tanpa harapan dan impian, engkau didirikan bukan tanpa tujuan yang tidak pasti tapi engkau didirikan untuk tempat bernaungnya para pengabdi dan penimba ilmu pengetahuan. Tidakkah kau bangga dengan semua itu???” Ujar Kerucut berkata dengan bijaknya.

Gelap berkata dengan sedih dan mengiba  “Saya sangat sedih rasanya kesedihan ini tak dapat tergambarkan dengan kata-kata. Saya telah mengabdikan diri selama bertahun-tahun dan saya bahagia dengan apa yang telah saya lakukan karena saya dipergunakan sebagaimana mestinya. Saya telah melahirkan manusia-manusia berguna. Saya ingin tetap mengabdi………”

“Lalu temanku Gelap apa yang membuatmu tiada bercahaya lagi? Dahulu engkau bercahaya ditengah kesepian namun semenjak adanya Aku dan Pusgiwa mengapa engkau terlihat semakin muram ditengah keramaian??” Ujar Kerucut prihatin.

“Mereka, para pemimpin-pemimpin bodoh itu telah memaksaku menanggalkan pengabdianku, menghancurkan kesetiaanku secara perlahan-lahan, mengalihkan tugas dan fungsiku, menambah acessoris yang seharusnya tidak berada pada diriku. Hingga mungkin pada akhirnya aku bukan lagi sebuah gedung tempat bernaungnya insan-insan penimba ilmu. Aku tidak rela dijadikan perwujudan komersialisme di lingkungan pendidikan. Sungguh teramat mengenaskan nasibku………”Gelap mencurahkan kesedihannya.

Kerucut bertanya “Tetapi bukankah kau didirikan dengan satu tujuan dan fungsi yang jelas???”

“Ya, mereka para pemimpin-pemimpin bodoh, menyelesaikan masalah dengan jalan pintas. Menjual aset-aset fisik fakultasnya bukanlah penyelesaian masalah untuk menutupi ketidakmampuan diri dalam menghadapi otonomi. Mereka seharusnya melihat negeri mereka sendiri tentang apa yang terjadi setelah aset-aset negeri ini dijual. Sebagai pemimpin yang bergelar banyak semestinya mereka tidak bertindak gegabah” Gelap berusaha menuangkan seluruh amarah di hatinya.

“Ya, kamu benar aku turut merasakan kekecewaan dan kesedihanmu. Pendidikan berbasis komersialisme dan materialisme akan melahirkan Robot-Robot hampa tak berjiwa” Sahut Kerucut.

Gelap berkata dengan Berapi- api “Mereka tidak berfikir sebelum bertindak. Mereka tidak menghargai keringat dan perjuangan para pendiri saya yang telah berjuang demi cita-cita yang luhur. Masih layakkah mereka disebut para pimpinan pendidik jika tindakan mereka tidak terdidik”.

“Tapi setidaknya kau masih beruntung, para pejuang kecilmu dan para pendukungmu rela berkorban, rela mempertaruhkan masadepan mereka demi semua pengabdianmu. Mengembalikanmu ke posisi semula. Memang mereka betul-betul bangsa perubah yang tidak mau ada penjajahan di tempat mereka belajar” ujar Kerucut

“Ya, para pejuang kecilku akan memperjuangkanku  sampai titik darah penghabisan” Ujar Gelap menutup pembicaraan.

23 Ramadhan

Saturday, September 17th, 2005

23 Ramadhan

Malam ini tiada hitam hanya pekat

Tajamnya Menara, menusuk kubah langit

Tiada lagi hitam hanya biru pekat berpercik sinar

Tiada bulan tersembul, tiada pula bintang menggelantung

Hanya angin mencumbu, menyusup, membelai wajah

Damaikan hati….

Tarian senyap…nyanyian pekat hadir berangkai

Suara itu menggema, menyanyikan syair indah dari wahyu-Nya

Mengalun sahdu, membuai jiwa

Dendang malam seribu malam, seribu nikmat tertumpah ruah

Hingga….

Cangkir duniawi penuh dengan air surga

Alam tiada berdetak….

Dan suara itu kian sahdu, tentramkan jiwa

1/3 malam nan sahdu

Ku bersimpuh, sujud di atas Bumi-Mu

Teringat dosa di waktu lalu, momohon ampun pada-Mu

Wahai Penguasa Alam Yang Pengasih Lagi Penyayang

Betapa dahaga tlah terpuas dari seper seribu tetes anugrah-Mu

Anugrah terindah ketika ku dekat Dengan-Mu

Dan suaraku….Suara itu….suara alam, berbaur

Tercipta harmonisasi musik maha Indah, Abadi…

Hingga pekatnya biru memudar putih

Hingga lampu-lampu padam tenggelam

Namun suara ku…suara suara itu….suara alam itu…

Tetap bernyanyi…bersyair kebesaran-Mu

Hingga Semuanya Hancur berkeping…

Hingga semua kembali kepada-Mu

Semoga…

Att-Tin, 2004

One Hand In My Pocket

Saturday, September 17th, 2005

I’m broke but I’m happy
I’m poor but I’m kind
I’m short but I’m healthy, yeah
I’m high but I’m grounded
I’m sane but I’m overwhelmed
I’m lost but I’m hopeful baby
What it all comes down to
Is that everything’s gonna be fine fine fine
I’ve got one hand in my pocket
And the other one is giving a high five
I feel drunk but I’m sober
I’m young and I’m underpaid
I’m tired but I’m working, yeah
I care but I’m restless
I’m here but I’m really gone
I’m wrong and I’m sorry baby
What it all comes down to
Is that everything’s gonna be quite alright
I’ve got one hand in my pocket
And the other one is flicking a cigarette
What it all comes down to
Is that I haven’t got it all figured out just yet
I’ve got one hand in my pocket
And the other one is giving the peace sign
I’m free but I’m focused
I’m green but I’m wise
I’m hard but I’m friendly baby
I’m sad but I’m laughing
I’m brave but I’m chicken shit
I’m sick but I’m pretty baby
What it all boils down to
Is that no one’s really got it figured out just yet
I’ve got one hand in my pocket
And the other one is playing the piano
What it all comes down to my friends
Is that everything’s just fine fine fine
I’ve got one hand in my pocket
And the other one is hailing a taxi cab…