Archive for May, 2006

“Minority”

Saturday, May 20th, 2006

I want to be the minority
I don’t need your authority
Down with the moral majority
‘Cause I want to be the minority

I pledge allegiance to the underworld
One nation under dog
There of which I stand alone
A face in the crowd
Unsung, against the mold
Without a doubt
Singled out
The only way I know

I want to be the minority
I don’t need your authority
Down with the moral majority
‘Cause I want to be the minority

Stepped out of the line
Like a sheep runs from the herd
Marching out of time
To my own beat now
The only way I know

One light, one mind
Flashing in the dark
Blinded by the silence of a thousand broken hearts
"For crying out loud" she screamed unto me
A free for all
F*** ‘em all
You are your own sight

I want to be the minority
I don’t need your authority
Down with the moral majority
‘Cause I want to be the minority

via-greenday

depok, 20 mei 2006

angin, sinar dan gelap

Saturday, May 20th, 2006

Aku telah melihat mata itu…mata yang sama seperti pertemuanku pertamakali. Kemarin mata itu kembali aku lihat walau serabut-serabut saraf lelah memenuhi sudut mata, namun sinar itu tetap ada. Sinar yang sama seperti setiap aku melihat ke dalam matanya. Sinar yang tak pernah redup walau terkadang hati sering luka.. Rasanya aku percaya sinar itu akan menerangi gelap. Aku percayakan itu padanya. Kutuliskan tentang gelap disuatu kertas putih lalu melalui perantara angin kuserahkannya kepadanya. Entah mengapa, harapku sinar menjawab tanya itu. Dan mimpiku menanti sinar itu kembali akan membebaskan gelap dari kegelapan. Aku meniti sajak sinar itu, entahlah mungkin hasrat mendorongku untuk sekali lagi melihat sinar itu berkobar, tentu saja aku melihat dari sisi gelap. Suatu sisi di sudut ruang dimana tiada yang kukenal sementara mata ini tak lepas. Angin menepis wajahku. Dia menguasai seluruh atmosfer. Apakah dia juga menguasai atmosfer di ruang hatimu? Entahlah… yang pasti aku tetap berada pada sisi gelapku sedangkan angin seakan berhembus semakin kencang menyapu daun-daun di ruang lalu menyibak gelapku, membawaku pada ruang dan dimensi dunianya. Dalam dunianya aku tetaplah gelap dan dia adalah angin, dia bangga akan hal itu. Entahlah… namun mata hatiku tetap melihat sinar itu dalam gemuruh sang taifun. Melalui angin, kini sinar itu berhadapan dihadapanku. Entahlah…s…sepertinya sepercik sinarnya hinggap di suatu bagian di tubuhku. Entah dimana ia bersemanyam? Yang kutahu itu seperti virus yang kian menyebar hingga ke sel tubuhku yang terkecil. Namun perkembangannya perlahan-lahan mengikuti sebuah takbir yang telah disusun teramat rapih oleh-Nya. Aku hanya bisa berbisik….aku sedang sekarat…!!! tolong….Aku kembali sekarat !!!!

30 Januari 2005
Pukul 23.00 WIB

Bantahan untuk spinoza

Sunday, May 14th, 2006

Aku percaya adanya tuhan yang menciptakan alam. Seperti apa yang dikatakan Spinoza, seorang filusuf abad ke 17 yang mengatakan bahwa tuhan adalah segalanya dan segalanya terdapat dalam diri tuhan. Namun aku tidak sependapat  bahwa Tuhan itu alam beserta fenomenanya,jika memang demikian lantas siapa yang menciptakan Tuhan (alam) beserta fenomenanya? Tidak mungkin segala sesuatu terjadi sendiri termasuk segala sesuatu yang gaib. Pasti ada yang mengaturnya. Dia haruslah satu karena Dia adalah rja tunggal. Tapi aku merasakan Tuhan bukan seperti Raja dalam arti kehidupan duniawi. Bukan pula sesebagai penguasa tunggal yang identik dengan tirani, menindas yang lemah dan memegang kekuasaan mutlak!Aku    melihat tuhan seperti seorang Ibu yang kasih sayangnya sangat besar tanpa ada rasa benci sdikitpun. Betapapun jauhnya kita denganNya dia selalu menyayangi kita denagn segenap cintaNya. Menganugrahi kenikmatan tanpa hentinya . Jika telah jatuh murkaNya kepada makhluk yang telah jauh dariNya maka azab itu teramat perih namun Dia tetaplah Maha Pengasih dan Penyayang. Dia selalu menunjukkan jalan untuk kembali ke jalanNya. PetunjukNya seperti sesuatu yang tak terduga dan terbaca, itulah yang disebut Hidayah. Itu seperti setitik sinar terang ditengah pekatnya gelap. Ketika kita berniat untuk menggapai titik terang itu, Dia telah terlebih dahulu menerangi hati kita, menghapuskan kabut yang menutup mata untuk menuju jalanNya. Maka merugilah orang yang tak ingin menggapai cintaNya!Ah…Aku jadi teringat akan lagu rohani Crisye…Jika surga dan neraka tak pernah ada,berarti  tak akan ada pula pahala dan dosa, apakah semua makhluk mencintainya?

Aku sering bertanya kepada setiap orang yang melakukan ritual ini dan itu, mengapa engkau melakukannya? Mereka pun menjawab bahwa mereka ingin mendapatkan pahala dan meraih surga. Ketika pertanyaan itu berbalik kepadaku maka aku akan menjawab ”aku hanya ingin meraih CintaNya!”