damn Insomnia !!!
Sudah seminggu ini penyakit insomnia ku kambuh. Sulit tidur tanpa tahu penyebabnya. Pernah tergooda untuk membeli pil tidur tapi setelah ku pikir-pikir itu akan membuatku lebih pecundang, menggunakan alat untuk menaklukkan tubuh padahal tubuh sudah di lengkapi alat yang lebih sempurna dari obat-obatan. Namun entah kenapa akhir-akhir ini syaraf lelah pembangkit rasa tidur itu sulit bekerja. Akhirnya setiapi pagi aku mendapatkan diriku terkantuk-kantuk dan akhirnya aku menyerah juga. Aku menggunakan alat pembasmi rasa kantuk. Apalagi kalau bukan kopi. Rasanya kafein itu saat ini telah menyebar mengalahkan syaraf ngantuk. Demi skripsi gw minum juga tuh kopi!
Dini hari tadi untuk mengundang rasa kantuk yang tak kunjung datang, aku menanggapi beberapa blog teman. Ada teman yang menanyakan tentang hidup, saya katakan kepadanya saya tidak tertarik tentang ”hidup”, tetapi saya lebih tertarik ”hidup” dengan huruf besar yaitu” HIDUP” (hhhf filsafat lagi!) HIDUP intinya hanya ada dua cogito ergo sum (aku berfikir maka aku ada), opto ergo sum (aku memilih maka aku ada). Kedua hal ini mengisyaratkan kita untuk jangan pernah berhenti bertanya, jangan pernah berhenti berfikir dan jangan pernah berhenti untuk bertindak. Itulah HIDUP!
Aku mengomentari satu blog temanku lagi, dia percaya bahwa idealisme yang realistis harus mengikuti realitas yang ada agar bisa berpijak pada bumi. Saya membalasnya dengan meminjam pemikiran Comb dan Nimmo yaitu ”bagaimanapun saat ini realitas bukan lagi sebuah kondisi tetapi tidak lebih dari kreasi”, yang faktual hanyalah representasi peristiwa yang di konstruksi. Jadi mempercayakan idealisme pada realitas maka tidak ada bedanya dengan domba digiring masuk ke kandang oleh anjing penggembala. Apa itu orang yang HIDUP, saya kira tidak. Idealisme itu bersemayam di hati nurani yang paling dalam, ia terbebas dari realitas yang terkonstruksi, Ia benar-benar murni, dan ia merupakan cita-cita sebuah realitas yang ideal!
HIDUP berarti mempunyai budaya, manusia yang berbudaya adalah manusia yang mampu mengkritisi segara sesuatu. Karena itu teruslah berpikir-dan berpikir, bukankah otak, kesadaran dan intiusi itu diamanahkan untuk berpikir. Saya rasa hanya orang ediot yang berkata que sera-sera (yang terjadi, terjadilah).
Depok, 29 November 2006, pukul 12 siang, saat melayang diatas kafein