Archive for December, 2006

lagi males..males..malas!

Sunday, December 24th, 2006

Dear blog….Akhir-akhir ini aku sangat malas menulis, malas membaca, malas
makan, malas tidur, malas dan malas.
Tulisanku makin kacau, ejaannya
pada salah, jari ngetik tapi otak ma hati enggak dipake mikir. Baca komik aja
yang biasanya 30 menit satu komik jadi 3 hari bayangin! Kacau! Tapi kekacauan
bukan seperti biasa yang penuh dengan inspirasi dan pergulatan piker, tapi
kekacauan kekosongan! Di otakku hanya terngiang puisi itu! Ah, ternyata intusi hanya
bualan saja, dan dongeng cinta pembodohan tiada

tara

!Yah..thanks
too graham bell yang sudah menciptakan telepon, menghancurkan mitos telepati! Thanks
to edgar alan poe yang tidak pernah membuat dongeng cinta. Kelihatannya aku
reorientasi! Ini sungguh kacau! Aku sudah memikirkan untuk menulis

surat

terakhir, untuk menyelesaikan, tapi tangan sangat malas untuk mengetik!

Hari ini nothing special, Cuma ke
pernikahannya teman lalu pulang trus tidur. Tidak ada yang istimewa, tidak ada
pikiran aneh. Sudah tiga harini ini memang pikiranku kosong, disorientasi, tak bersemangat!tadi
sempat sih ada pikiran aneh sedikit waktu melihat kumuhnya kali sunter, dan
beberapa spanduk partai 16, tapi aku malas berfikir lebih jauh, malas merenung,
malas memberikan refleksi! Pokoknya malas..malas malas !!!!

 

Depok, 24 Desember’06

-indah-

Diberanda rumah teman aku dibiarkannya sendiri.

Sunday, December 24th, 2006

Diberanda rumah teman aku
dibiarkannya sendiri. Ditemani satu gelas nutrisari dan 3 buah pastel.
Disampingku ada 3 tumpuk draft skripsi yang penuh coretan pembaca. Pandanganku
jauh ke luar,. Melihat rumah-rumah berhimpitan. Ya…inilah ibukota. Sesak, sumpek,
penat, suusah, senang. Pandanganku tiba-tiba terfokus pada sekelompok anak yang
bermain larian-larian dalam gang. Aku piker ceria sekali mereka. Mereka
naka-anak kecil, paling besar mungkin berusiha 7 tahun. Lucu sekali mereka,
bermain bebas, tertawa riang. Aku jadi melamun sambil mata mwngikuti kemana
tubuh bereka berlari. Aku berfikir, menerawang jauh, hingga otak kiri
mendaratkan lamunan pada masa lalu. Benakku bertanya kapan aku sepeti itu ?

Usia

SD

? kelas 6 aku sudah penuh dengan les-les
tambahan, bermain aku tidak sempat bahkan aku cendrung menutup diri dari
lingkungan sekitar. Aku lebih suka berdiam dirumah dan membaca komik. Kelas lima SD, kelas empat SD hhm…. aku
lebih senang bermain dengan teman-teman SD.
Aku mempunyai sahabat
bernama Indri, dia baik sekali, ramai, cerewet, kita selalu pergi bersama-sama
kemana-mana. Tapi sayang, setelah SD
lulus dia meneruskan sekolah di tanggerang. Hiks, akhirnya aku kehilangan
satu-satunya sahabat terbaikku. Kelas tiga SD, kelas 2 SD, kelas 1 SD memang
aku sering bermain dengan tetanggaku tapi aku yang lebih sering memanggil
mereka untuk main bersamaku daripada mereka yang memanggil aku untuk bermain
bersama mereka. Kadang aku tidak diperbolehkan ikut bermain bersama mereka
seperti main ”benteng” dan main apa ya… aku lupa pokoknya yang berhubungan
dengan lari-larian. Aku tidak pernah diajak bermain kata mereka aku tidak bisa
lari, aku lemah, mereka takut timnya kalah maka aku tidak diajak main.
Masa-masa TK, ah, aku sudah banyak yang lupa tapi seingatku aku juga sering
tidak diajak main, katanya aku tidak bisa berlari kencang, jadi mereka lebih
sering menjadikanku anak bawang. Aku juga tidak pandai menari, waktu ada
festival di TK aku tidak pernah diajak bu guru. Hanya anak-anak yang lincah dan
pandai menari saja yang diajak ikut. Masa-masa TK-ku aku habiskan dengan main
ayunan. Aku suka sekali dengan ayunan, aku bisa terbang tinggi dengan kayuhan
badanku, tapi aku kesal karena ayunan di TK cuma dua, jadi harus berebutan dan
bergantian. Tapi itu tidak membuatku jera, jutru ada tantangannya. Jika ayunan
sedang dipakai orang, aku lebih sering membaca buku-buku lucu di kantor bu
guru. Waktu masih kecil sebelum TK, aku tidak ingat lagi. Memang aku termasuk
orang yang ingatannya payah. Tapi untungnya ada teknologi canggih yang bernama
kamera. Dari foto-foto dan rekaman suara aku mengetahui, ayah ibuku sangat
menyayangiku. Aku tersadar, memang aku selalu kesepian terkadang tak punya
teman tapi aku sungguh bahagia mempunyai keluarga yang hangat.

Aku mendapati diriku masih di beranda rumah teman. Temanku datang, kami
mengobrol soal event orgenaizer, soal sidang hingga soal penerbitan buku. Namun
nampaknya mendung semakin menjadi. Akupun pamit pulang.

Dalam perjalanan aku berfikir, kapan aku tertawa bebas sepertoi anak kecil
tanpa dosa. Mungkin pernah. Aku pernah mempunyai teman-teman terbaikku di BBC.
Aku pernah mempunyai teman-teman terbaikku di JIP UI, Aku bernah mempunyai
teman-teman terbaikku di BEM UI, Aku pernah punya teman-teman ternaikku di SMP
(yeyen, kiting, piting, apa kabarmu?), aku pernah punya teman-teman terbaikku
di pandawa lima, Aku pernah punya teman-teman terbaikku di FIB UI.
Aku pernah punya teman-teman terbaikku di SMU. Ya…setidaknya aku pernah punya, setidaknya aku pernah tertawa bodoh lepas,
nyaris tanpa hipokrisi! Tapi itu hanya sekejap, membuatku bahagia sesaat lalu
pergi dan menghilang, berganti dengan yang baru dan tawa pun berlanjut,
terkadang tawa itu tidak jujur, sedikit sekali yang dapat lepas. Satu-satunya
teman yang abadi hanyalah Dia dan Mereka. Dia sang penciptaku, tempat aku
meminta, tempat aku berkeluh kesah di setiap dini hari. Mereka adalah kedua
orang tuaku, keluargaku, tempat aku mendapatkan kehangatan kasih sayang yang
tak ternilai harga. Sesungguhnya aku sangat beruntung. Terimakasih
ya..Alloh…..terimakasih aku telah dilahirkan.

 

Depok, 22 Desember’o6

-indah-

Dia, perempuan

Thursday, December 21st, 2006

Dia, perempuan

mendekap bocah kecil di pangkuan

menggigil di tenda pengungsian

berharap hari depan pada rintik hujan

 

Dia perempuan

mata lebam, duduk terdiam

disamping tiga asuhan terpejam terkapar

dibalik reruntuhan Libanon selatan

 

Dia perempuan

menunggu anak dan suami datang

matahari turun, gelap pun datang

dalam cemas dan harapan

 

Dia perempuan

Hidup untuk kebebasan

lahir tak bertuan tumbuh dengan kesadaran

melawan kemanafikan dalam ketidakberdayaan

 

Dia perempuan,

Awal semua kehidupan…..

Dia perempuan

Bukan untuk tuan !!!

 

LabKomJIPUI, 22 Desember’o6

-indah-

Sore di Angkot 41

Tuesday, December 19th, 2006

Aku duduk, diam membisu

Disebuah angkot nomor empat satu

Mendengarkan lagu

Penumpang hanya satu

 

10 menit berlalu

Angkot berhenti, lalu berlalu

5 orang duduk, berbicara seru

Pakaian mereka putih Abu-abu

 

Satu orang berkata

Serial Jomblo, Januari tayang perdana

Berkisah 4 orang muda

Mencari cinta remaja

 

Mereka berbicara

Lagi-lagi tentang cinta

Impian punya pacar segera

Wujudkan kisah cinta

seperti drama-drama remaja

 

Aku terpaku

Tetap membisu

Lagu jadi tak seru

Hati ikut  ngilu

 

Inilah generasi muda

Ditangan hanya mimpi hampa

Terperangkap dongeng cinta

Tersaji di media-media

 

Inilah generasi muda

Yang mengganti generasi tua

Otak diisi angan-angan cinta

Dari drama-drama remaja

Adaptasi telenovela dan drama Korea

 

Mereka lupa, Ada dunia realita

Sejuta bencana, sejuta tetes air mata

Sejuta peristiwa, sejuta derita

Tiada cinta di dunia fana

Sadarlah, itu bukan gosip belaka

 

Maka menangislah, ketika

Kau tidak dibutuhkan bangsa

Dan menangislah ketika

Kau bukan apa-apa

 

Depok, 19 Desember 2006

-indah-

http://indah_fib_ui.blogs.friendster.com/my_blog/

 

Matinya Seorang Tukang Kritik

Sunday, December 17th, 2006

Aku masih
terbayang monolog Butet Kertarajasa yang judulnya ”matinya seorang tukang
kritik” kemarin. Aku berfikir, kapan tukang kritik itu mati? Di monolog itu di
jelaskan, matinya tukang kritik jika dunia telah damai, aman dan sejahtera.
Tapi aku fikir itu didak akan pernah terjadi. Kritik, mencari kesalahan,
implikasi kritik adalah kebenaran absolut.
Jika tiap kepala melakukan kritik maka banyak
kebenaran-kebenaran absolut ditawarkan. Perbaikan terjadi namun perusakan juga
tidak akan pernah berhenti. Itulah evolusi!. Jika tukang kritik mati, evolusi
tidak akan terjadi, perusakan tidak terkendali, perubahan tidak akan terjadi.
Kapan tukang kritik mati ? Aku kira tidak pada saat dunia damai dan sejahtera karena itu sangat
mustahil terjadi! Matinya tukang kritik jika dunianya, dunia tukang kritik
sendiri yang telah damai dan sejahtera. Bisa jadi karena materi berlebih atau
mengalir sogokan tutup mulut. Karenanya, tukanng kritik dilarang kaya! Walaupun
kaya, Ia harus berbagi! Jangan sampai tenggelam dalam hipokrit-hipokrit yang Ia
bangun sendiri. Daripada menjilat ludah sendiri, lebih baik mati muda seperti
Soe Hoek Gie!

 

Depok, 17
Desember’o6

-Indah-

http://indah_fib_ui.blogs.friendster.com/my_blog/

Potret Negara Mati

Sunday, December 17th, 2006

Potret Negara
Mati

 

Harga beras makin
meninggi

Sehari makan satu
kali

1 liter beras,
air 6 gelas

 

Lumpur semakin
menjadi

Rakyat marah,
uang ganti tak jadi

Negara merugi

Pengusaha angkat
kaki

 

Ada lagi yang
mati

Si biduan cantik
Alda Rixma Elvariani

Dengan Narkoba Ia
mengakhiri

Mati penuh kontroversi

Semua berita
mengabari

Menduduki rating
tertinggi

Diatas perdebatan
poligami

Yang tak kunjung
henti

 

Iklan sinting
lewat lagi

Kali ini tentang
Elpiji

Rakyat di bodohi
tak henti-henti

Habis di bodohi,
ya…dikerjai

 

Inilah
potret negara mati…..

 

Depok, 17
Desember’o6

- Indah-

http://indah_fib_ui.blogs.friendster.com/my_blog/

Sepi (2)

Saturday, December 16th, 2006


Jika benar ada
intuisi

Aku butuh
telepati

Tidak untuk berkomunikasi

Sekedar untuk
berbagi

Mari, kita bicara
dengan hati

Tanpa tarif, biar
tanpa kendali

Setidaknya
membunuh sepi

Celah sempit ruang
hati

 

Knock….knock hello….

Anybody there?

 

Depok, 16
Desember’o6

Sepi (1)

Saturday, December 16th, 2006


 

Sia-sia semua
lagu yang mengalun

Karna tak
kutemukan keramaian

Semua berawal
dari ada menjadi ketiadaan

Keabadian adalah semu,
kala

Tirai
pertunjukkan menutup

 

Perempuan muda
memandang congkak

Ruang bisu dalam
tabung

Akhirnya ia
terbangun

lalu menangis
seketika

 

Hening
…… 

 

Depok, 16 Desember’o6

Tanda Tanya

Saturday, December 16th, 2006

Aku menyerah!

Mencari jawaban
teka teki itu

Biar semesta yang
menjawabnya

Namun, biar aku
menikmati petunjuknya

Jika memang
intuisi ada,

Kau pasti
mendengarku

Tidak lewat sms, telepon, fax bahkan email

Tetapi lewat hati

Mari kita bertelepati!

 

Depok, 10 Desember’o6

PERJALANAN

Wednesday, December 13th, 2006

 

Ada orang memilih
berkendaraan,

Melewati jalan
bebas hambatan

 

Ada orang memilih
berkereta,

Melewati
terowongan sepi dan gelap

 

Ada orang memilih
pesawat,

Terbang menembus awan
putih di angkasa luas

 

Tetapi aku
memilih berjalan,

Menyusuri hutan,

Diatas tapak
kecil tak bertuan.

 

Matahari terbit
dan tenggelam

Bunga-bunga liar
tumbuh dan bermekaran

Embun jatuh
diatas daun kering  berguguran

Ilalang membuai
kulit tangan

 

Tidakkah itu
indah, sayang ?

 

Kelak, jika kita
bertemu di gubuk peristirahatan

Bersama satu poci
teh hangat yang manis,

Akan banyak hal
pasti kuceritakan

Akan banyak hal
pasti ku kan dengar

Tidak sekedar
melepas kerinduan

Jadikan ini teman
dalam perjalanan

 

Depok, 13
Desember’o6, sore hari ketika hujan turun

-Indah Survyana-