Diberanda rumah teman aku dibiarkannya sendiri.

Diberanda rumah teman aku
dibiarkannya sendiri. Ditemani satu gelas nutrisari dan 3 buah pastel.
Disampingku ada 3 tumpuk draft skripsi yang penuh coretan pembaca. Pandanganku
jauh ke luar,. Melihat rumah-rumah berhimpitan. Ya…inilah ibukota. Sesak, sumpek,
penat, suusah, senang. Pandanganku tiba-tiba terfokus pada sekelompok anak yang
bermain larian-larian dalam gang. Aku piker ceria sekali mereka. Mereka
naka-anak kecil, paling besar mungkin berusiha 7 tahun. Lucu sekali mereka,
bermain bebas, tertawa riang. Aku jadi melamun sambil mata mwngikuti kemana
tubuh bereka berlari. Aku berfikir, menerawang jauh, hingga otak kiri
mendaratkan lamunan pada masa lalu. Benakku bertanya kapan aku sepeti itu ?

Usia

SD

? kelas 6 aku sudah penuh dengan les-les
tambahan, bermain aku tidak sempat bahkan aku cendrung menutup diri dari
lingkungan sekitar. Aku lebih suka berdiam dirumah dan membaca komik. Kelas lima SD, kelas empat SD hhm…. aku
lebih senang bermain dengan teman-teman SD.
Aku mempunyai sahabat
bernama Indri, dia baik sekali, ramai, cerewet, kita selalu pergi bersama-sama
kemana-mana. Tapi sayang, setelah SD
lulus dia meneruskan sekolah di tanggerang. Hiks, akhirnya aku kehilangan
satu-satunya sahabat terbaikku. Kelas tiga SD, kelas 2 SD, kelas 1 SD memang
aku sering bermain dengan tetanggaku tapi aku yang lebih sering memanggil
mereka untuk main bersamaku daripada mereka yang memanggil aku untuk bermain
bersama mereka. Kadang aku tidak diperbolehkan ikut bermain bersama mereka
seperti main ”benteng” dan main apa ya… aku lupa pokoknya yang berhubungan
dengan lari-larian. Aku tidak pernah diajak bermain kata mereka aku tidak bisa
lari, aku lemah, mereka takut timnya kalah maka aku tidak diajak main.
Masa-masa TK, ah, aku sudah banyak yang lupa tapi seingatku aku juga sering
tidak diajak main, katanya aku tidak bisa berlari kencang, jadi mereka lebih
sering menjadikanku anak bawang. Aku juga tidak pandai menari, waktu ada
festival di TK aku tidak pernah diajak bu guru. Hanya anak-anak yang lincah dan
pandai menari saja yang diajak ikut. Masa-masa TK-ku aku habiskan dengan main
ayunan. Aku suka sekali dengan ayunan, aku bisa terbang tinggi dengan kayuhan
badanku, tapi aku kesal karena ayunan di TK cuma dua, jadi harus berebutan dan
bergantian. Tapi itu tidak membuatku jera, jutru ada tantangannya. Jika ayunan
sedang dipakai orang, aku lebih sering membaca buku-buku lucu di kantor bu
guru. Waktu masih kecil sebelum TK, aku tidak ingat lagi. Memang aku termasuk
orang yang ingatannya payah. Tapi untungnya ada teknologi canggih yang bernama
kamera. Dari foto-foto dan rekaman suara aku mengetahui, ayah ibuku sangat
menyayangiku. Aku tersadar, memang aku selalu kesepian terkadang tak punya
teman tapi aku sungguh bahagia mempunyai keluarga yang hangat.

Aku mendapati diriku masih di beranda rumah teman. Temanku datang, kami
mengobrol soal event orgenaizer, soal sidang hingga soal penerbitan buku. Namun
nampaknya mendung semakin menjadi. Akupun pamit pulang.

Dalam perjalanan aku berfikir, kapan aku tertawa bebas sepertoi anak kecil
tanpa dosa. Mungkin pernah. Aku pernah mempunyai teman-teman terbaikku di BBC.
Aku pernah mempunyai teman-teman terbaikku di JIP UI, Aku bernah mempunyai
teman-teman terbaikku di BEM UI, Aku pernah punya teman-teman ternaikku di SMP
(yeyen, kiting, piting, apa kabarmu?), aku pernah punya teman-teman terbaikku
di pandawa lima, Aku pernah punya teman-teman terbaikku di FIB UI.
Aku pernah punya teman-teman terbaikku di SMU. Ya…setidaknya aku pernah punya, setidaknya aku pernah tertawa bodoh lepas,
nyaris tanpa hipokrisi! Tapi itu hanya sekejap, membuatku bahagia sesaat lalu
pergi dan menghilang, berganti dengan yang baru dan tawa pun berlanjut,
terkadang tawa itu tidak jujur, sedikit sekali yang dapat lepas. Satu-satunya
teman yang abadi hanyalah Dia dan Mereka. Dia sang penciptaku, tempat aku
meminta, tempat aku berkeluh kesah di setiap dini hari. Mereka adalah kedua
orang tuaku, keluargaku, tempat aku mendapatkan kehangatan kasih sayang yang
tak ternilai harga. Sesungguhnya aku sangat beruntung. Terimakasih
ya..Alloh…..terimakasih aku telah dilahirkan.

 

Depok, 22 Desember’o6

-indah-

Leave a Reply