EKOFEMINISME
Ekofeminisme
salah satu cabang feminis gelombang ketiga yang mencoba menjelaskan keterkaitan alam dan perempuan terutama yang menjadi
titik fokusnya adalah kerusakan alam yang mempunyai keterkaitan langsung dengan
penindasan perempuan. Dalam Ekofeminisme perempuan ditempatkan sebagai “sosok
yang lain” sejajar dengan sosok yang lainnya yang diabaikan dalam patriarkhi
seperti kelompok ras berwarna, anak-anak, kelompok miskin dan alam.[1]
Budaya Patriarkhi menyebabkan adanya dominasi terhadap perempuan, kelompok ras
berwarna, anak-anak, kelompok miskin dan alam, dan menempatkan mereka sebagai
subordinate dibawah laki-laki yang
mempunyai sifat yang unggul, netral, pengelola “sah” bumi dan seisinya.
Dalam menggali keterkaitan antara
penindasan “sosok yang lain” (perempuan, kelompok ras berwarna, anak-anak,
kelompok miskin), kerusakan alam dan dominasi patrarkhi, ekofeminisme
menggunakan pendekatan analisis gender dan lebih memfokuskan keterkaitan ini
pada penindasan perempuan, kerusakan alam serta dominasi patriarki sebagai
penyebabnya. Hal tersebut disebabkan
Pertama, Ekofeminis melihat yang paling dirugikan dari kerusakan alam adalah
perempuan. Kedua, Peranan gender perempuan (sebagai pengatur dari economi
domestik) bertindihan (overlap)
dengan permasalahan kerusakan alam dan lingkungan. Ketiga, beberapa ideologi
barat berisikan konsep-konsep pendominasian alam oleh gender laki-laki.[2]
Pergerakan
ekofeminis yang pertama dimulai sekitar tahun 1974 oleh sekelompok perempuan di
utara India, mereka menamakan dirinya ”chipko Movement”. Mereka memprotes
penebangan hutan yang dilakukan oleh kolonial Inggris. Gerakan Chipko merupakan
manivestasi dari filsafat Gandhian
Satyagrahas yang mencoba menyelamatkan dan melestarikan hutan tradisional atau
”forest culture”. Hutan tradisional menjadi begitu penting bagi masyarakat
india karena dari dalamnya mengandung tanah, air dan oksigen[3]
yang sangat diperlukan bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup
terutama sangat berkaitan erat dengan keberlangsungan hidup perempuan, mengapa? Alasan yang pertama
karena sebagian besar perempuan timur dalam kehidupannya sangat bergantung pada
pohon-pohonan dan hasil hutan. Tingkat ketergantungan mereka terhadap alam
sangat tinggi yaitu tercatat 60 % di 32 negara di Afrika, 80% di 18 negara di
Asia dan 40% di Amerika Latin dan kepulauan Karibia.[4]
Ketika para laki-laki menghabiskan waktunya di ladang atau berburu, para
perempuan tinggal bersama anak-anaknya di hutan, mereka mengandalkan
pohon-pohonan serta hasil hutan untuk keberlangsungan hidup mereka.
Pohon-pohonan dan hasil hutan tidak hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan
pangan mereka tetapi dapat memenuhi hampir semua kebutuhan di ranah domestik.
Yang kedua, Ada sejumlah kebiasaan, hal yang tabu dan sah dan waktu yang menghambat
yang dihadapi perempuan sedang kan laki-laki tidak menghadapinya. Hal tersebut
seperti perempuan dan laki-laki memiliki akses yang berbeda atas sebidang
tanah. Di Tanzania, perempuan tidak memiliki hak sama sekali untuk mendiami
sebidang tanah, mereka harus meminta izin kepada suami mereka atau laki-laki
lain untuk mengolah sebidang tanah. Perempuan di sebagian besar negara
berkembang tidak memiliki dukungan hukum untuk berpartisipasi dan ikut
mengelola lingkungan lokal mereka.
”Di daerah rural (pedesaan), perempuan sebagai buruh upah yang sangat
miskin-menyiangi, mengangkut air dan kayu, dan melakukan pekerjaan rumah
tangganya. Mereka hidup tanpa pendidikan, status, organisasi untuk melindungi
atau hak kepemilikan tanah yang dapat menjadikan mereka turut serta dalam
pengontrolan lingkungan.”[5]
Yang ketiga, pendapat dari pendatang khususnya
pengelola hutan dari barat mengenai ketidak beruntungan perempuan di dunia
ketiga, sangat berbeda.mereka menganjurkan beberapa teknik untuk menghadapi
kekurangan pohon-pohonan. Akan tetapi hal tersebut tidaklah benar sebab mereka
hanyalah pendatang, perempuan-perempuan
itu sendiri yang mengetahui bagaimana cara mempertahankan hidupnya dalam alam
dan lingkungan yang sudah ia kenal dengan baik.[6]
Sejak produksi berskala kecil yang menjadi prioritas lokal banyak dilakukan,
peranan perempuan sangatlah penting untuk menyokong itu semua, namun jika
kehidupan alam terancam akibat munculnya komersialisasi perambahan hutan, maka
dengan demikian kehidupan perempuan akan terganggu dan implikasinya juga akan
mengakibatkan punahnya perempuan secara tidak langsung
Selain
berkonsentrasi pada penyelamatan hutan, ekofeminis juga peduli pada kondisi air
tanah dan berbagai bencana yang berkaitan dengan itu seperti kekeringan dan
banjir yang dapat merusak suatu ekosistem. Di negara-negara dunia ketiga, air
sangat penting artinya bagi perempuan dan anak-anak. Di Afrika dan Asia
tercatat perempuan dan anak-anak dapat menghabiskan sekitar 4-3 jam perminggu
untuk mengangkut air dalam memenuhi kebutuhan keseharian keluarganya.[7]
Semakin langkanya air akibat semakin berkurangnya sumber air tanah maka kerja
dari perempuan dan anak-anak semakin berat.
” jumlah perempuan yang hidup di daerah rural yang menjadi akibat
kelangkaan air mencapai 55% di Afrika,
32 percent di Asia, dan 45% di Amerika Latin. Walaupun air terlihat berlimpahan
banyaknya di seluruh dunia, namun demikian masih ada di daerah tertentu di
beberapa negara yang memiliki musim kering teramat panjang yang mengakibatkan
banyak peempuan menghabiskan banyak waktu untuk mengangkut dan mengumpulkan
air.”[8]
Kualitas air yang semakin menurun akibat
polusi air oleh limbah pabrik atau zat kimia juga menjadi masalah tersendiri.
Menurut Joni Seager, sekitar setengah populasi dunia ketiga tanpa air yang
tidak sehat.Terdapat sekitar 250 juta kasus dari air yang menyebabkan penyakit,
menyebabkan 10 juta orang meninggal, dan hal ini dapat terjadi setiap tahun.[9]
Air yang terkontaminasi menjadi masalah yang cukup rumit terutama bagi
perempuan yang miskin yang terpaksa harus memasak dari air yang terkontaminasi
tersebut. Akibatnya, dirinya dan keluarganya terjangkit beberapa penyakit,
hewan-hewan, ternak tidak dapat hidup, tanaman tidak dapat subur. Situasi
tersebut menyebabkan semakin banyaknya perempuan atau anak-anak yang sakit lalu
meninggal ataupun jika mereka hidup, mereka hidup dengan berbagai penyakit.
Akibatnya fungsi reproduksi akan semakin berkurang dan pada akhirnya akan
menyebabkan menurunnnya jumlah populasi manusia di daerah ini.
Permasalahan lainnya yang mengancam
kehidupan perempuan, adalah kekeringan atau kebanjiran. Kekeringan dan banjir
merupakan bencana alam (natural disaster)
yang dapat terjadi secara alami ataupun merupakan dampak atas kerusakan alam
oleh manusia. Seperti kekeringan diakibatkan tidak adanya cadangan air tanah
atau pemerintah yang tidak membuat bendungan sebagai sarana untuk menapung air
hujan agar dapat dimanfaatkan pada musim kemarau. Banjir dapat disebabakan
karena penebangan hutan secara liar yang mengakibatkan semakin berkurangnya
tanaman yang berfungsi untuk menyerap air dan menyimpannya dalam waktu
tertentu. Dampak dari dua jenis bencana ini sangat fatal yaitu dapat merusak
ekosistem dan dapat memusnahkan seluruh makhluk hidup, tak terkecuali manusia
terutama masyarakat yang miskin yang sebagian besarnya adalah perempuan dan
anak-anak. Hal demikian dapat terjadi karena sebagian besar perempuan tdi dunia
ketiga menjadi buruh dengan penghasilan sangat kecil bahkan sebagian besar
diantaranya tidak memiliki penghasilan sama sekali, hidupnya digantungkan pada
suami dan alam. Oleh karena itu tidak heran bahwa telah terjadi fenomena yaitu
80%-90% keluarga miskin di dunia merupakan keluarga yang dikepalai oleh
perempuan.[10] Terjadinya fenomena yang
demikian disebabkan karena sulitnya perempuan memiliki akses ekonomi yang lebih
luas, jika alam saja yang akrab oleh keseharian perempuan di kelola dan diatur
oleh laki-laki hingga menimbulkan berbagai bencana alam, apalagi ranah publik
yang semuanya di dominasi oleh laki-laki ?
Perempuan tidak hanya mendapat dampak dari
bencana alam, kerusakan hutan atau polusi air saja, tetapi penderitaan
perempuan khususnya perempuan di dunia ketiga terus berlangsung terutama para
perempuan yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani baik petani ladang
maupun petani di sawah.
” Pada kenyataannya, petani perempuan jam bekerja lebih lama, mempunyai
lebih sedikit aset dan upah yang lebih rendah daripada petani laki-laki, dan
mempunyai ketergantungan yang paling tinggi. sebagian besar mereka tidak
memiliki pendidikan dan kompetensi yang cukup. Petani perempuan sangat miskin
sebab akses untuk memperoleh kredit usaha sangat terbatas. Tanpa adanya kredit
perempuan tidak dapat membeli ternak, pupuk atau bibit untuk meningkatkan
produksi.”[11]
Petani perempuan bekerja lebih keras dalam
hidupnya disamping ia harus mengatasi persoalan pekerjaannya di sawah atau
diladang, bebannya semakin bertambah karena ia tidak dapat terlepas dari
pekerjaan domestiknya. Terkadang para terkadang para perempuan melakukan
keduanya tanpa upah sama sekali karena beberapa masyarakat menganggapnya bahwa
kedua hal tersebut merupakan suatu kewajiban perempuan sebagai yang
bertanggungjawab dalam rumah tangga.
Masalah yang terakhir yang harus dihadapi
perempuan di dunia ketiga adalah masalah sampah. Sampah merupakan bagian yang
tak terhindarkan dalam kehidupan, semakin besar konsumsi masyarakat maka
semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Di beberapa negara maju, sampah
diolah sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan bagi suatu ekosistem, namun
di negara-negara dunia ketiga sampah menjadi masalah yang sangat rumit hingga
masalah sampah tidak terselesaikan akibatnya sampah semakin menumpuk dan
menjadi racun . Dalam hal ini sebenarnya perempuan mempunyai peranan penting
untuk menanggulangi permasalahan sampah ini. Sebagian besar sampah tersebut di
produksi dari kegiatan rumahtangga seperti sampah sisa konsumsi, sampah
pembungkus makanan, dll. Perempuan dapat membantu menaggulangi ini dengan
membantu memilah-milah sampah kering dan sampah basah, untuk di daur ulang. Akan
tetapi hal ini tidak akan terjadi tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Di
negara-negara dunia ketiga yang sebagaian besar memiliki masalah sampah,
pemerintahnya tidak mempunyai kebijakan yang jelas mengenai sampah.
” tercatat 26 juta penduduk di Afrika, 8 juta penduduk di kepulauan
Hispanic Amerika dan setengah dari populasi penduduk di kepulauan Asia Pasifik
hidup dalam komunitas yang tidak mempunyai pengaturan terhadap sampah.”[12]
Akibatnya penduduknya hidup dengan sampah. Yang
paling menderita dari ini semua adalah penduduk miskin yang tinggal di
pemukiman dekat pembuangan sampah. Sebagian besar diantara penduduk yang miskin
tersebut adalah perempuan dan anak-anak dan yang paling mendapatkan dampak dari
sampah tersebut seperti penyaki pes, diari, dll adalah perempuan dan anak-anak
karena merekalah yang paling banyak menghabiskan waktunya di daerah tersebut
KESIMPULAN
Alam sangat erat kaitannya terhadap kehidupan
perempuan. Rusaknya alam menyebabkan peluang terhadap perempuan untuk melanjutkan kehidupannya semakin
berkurang. Hal tersebut berkaitan dengan fungsi reproduksi perempuan yang
dikaitkan dengan fungsi produksinya untuk mempertahankan hidup. Dengan demikian
perempuan memegang kunci yang paling utama dalam siklus kehidupan. Oleh karena
itu penyelamatan terhadap alam dan lingkungan menjadi teramat penting karena
secara tidak langsung dapat menyelamatkan kehidupan keseluruhan. Peranan penyelamatan ini penting dilakukan
oleh perempuan itu sendiri karena merekalah yang paling mengetahui apa yang terbaik
bagi diri mereka. Namun disamping itu semua, peranan negara juga teramat penting
dalam menciptakan kebijakan-kebijakan untuk mendorong aktivitas penyelamatan
alam dan lingkungan.
***
-Indah Survyana-
Depok, 2006