Matinya Seorang Tukang Kritik
Aku masih
terbayang monolog Butet Kertarajasa yang judulnya ”matinya seorang tukang
kritik” kemarin. Aku berfikir, kapan tukang kritik itu mati? Di monolog itu di
jelaskan, matinya tukang kritik jika dunia telah damai, aman dan sejahtera.
Tapi aku fikir itu didak akan pernah terjadi. Kritik, mencari kesalahan,
implikasi kritik adalah kebenaran absolut. Jika tiap kepala melakukan kritik maka banyak
kebenaran-kebenaran absolut ditawarkan. Perbaikan terjadi namun perusakan juga
tidak akan pernah berhenti. Itulah evolusi!. Jika tukang kritik mati, evolusi
tidak akan terjadi, perusakan tidak terkendali, perubahan tidak akan terjadi.
Kapan tukang kritik mati ? Aku kira tidak pada saat dunia damai dan sejahtera karena itu sangat
mustahil terjadi! Matinya tukang kritik jika dunianya, dunia tukang kritik
sendiri yang telah damai dan sejahtera. Bisa jadi karena materi berlebih atau
mengalir sogokan tutup mulut. Karenanya, tukanng kritik dilarang kaya! Walaupun
kaya, Ia harus berbagi! Jangan sampai tenggelam dalam hipokrit-hipokrit yang Ia
bangun sendiri. Daripada menjilat ludah sendiri, lebih baik mati muda seperti
Soe Hoek Gie!
Depok, 17
Desember’o6
-Indah-
December 31st, 2006 at 2:32 am
Hahahaha…
tukang kritik memang telah mati Mbak Indah… Tidak ada lagi tukang kritik yang benar2 fresh di Indonesia akhir2 ini.
Sebenarnya, monolog itu adalah untuk kembali membangunkan para tukang kritik (mahasiswa) yang terlelap panjang sejak reformasi bergulir. Kalaupun ada pergerakan, hal itu bisa saja di shuh…. sama polisi2, Kamtib, preman…
Tukang kritik memang telah mati mbak…
hahahahaha