Satu Hari yang menyenangkan
Saturday, December 9th, 2006Kemarin aku bisa tidur nyenyak. Insomnia tidak lagi
menggangguku. Mungkin karena kemarin adalah hari yang sangat menyenagkan. Semua
rencana berjalan bahkan ada hal-hal yang tak terduga menghampiri, cukup
memekarkan kembali bunga di hati. Ah, Tuhan memang Maha Humoris.
Jadwal pertama
aku kemarin adalah LQ di MUI. Seperti biasa yang LQ hanya aku dan karjo. Kami
(aku, karjo dan mbakku) berbicara ngalor ngidul membahas topik-topik hangat.
Salah satunya adalah Aagym poligamy. Poligami adalah pembahasan yang tidak ada
habis-habisnya. Yang paling di sesesalkan adalah banyak orang yang menggunakan
Agama sebagai benteng pelegalan ini. Saya tetap pada pendapat saya bahwa
poligamy adalah haram karena berpotensi besar menimbulkan dosa. Sama seperti
merokok dan minum-minuman keras. Namun itu bertentangan dengan mbakku yang
menyatakan bahwa poligamy terdapat di Alquran, tetapi beliau juga menjelaskan
bahwa itu adalah aturan alternatif sedangkan ideal yang dianjurkan adalah
monogamy. Aku berpendapat,
jika memang ada aturan ideal mengapa harus ada alternatif? Bukankan ajaran
agama adalah ideal. Mbakku menjawab bahwa karena lelaki mempunyai libido yang
berlebih. Aku menjawabnya bahwa jika memang lelaki itu manusia dan bukan
binatang, semestinya dia bisa mengontrol libidonya itu Tetapi Mbakku bersikeras
bahwa memang itu sudah dari sananya! Sungguh, penjelasan ”dari sananya” adalah
penjelasan yang tidak masuk di akal pikiranku! Aku tetap berpendapat bahwa jika
memang laki-laki adalah manusia dia haus dapat mengontrol libidonya, entah
dengan cara apapun! Dia harus mengontrol
dirinya untuk eksistansinya! Sama seperti perempuan yang bertoleransi dengan
menggunakan pakaian tertutup untuk membantu dirinya dalam mengontrol libidonya
dan membantu para laki-laki untuk mengontrol libidonya! Itu harga mati yang
tidak bisa ditawar!
Memang poliogamiy adalah masalah yang terus
menimbulkan pro dan kontra tetapi untuk kasus AAGYm saya hanya berkomentar
bahwa itu adalah haknya, namun dia tidak seharusnya menggunakan agama sebagai
benteng! Seharusnya yang dijadikan bentengnya adalah Hak Asasi. Banyak para
aktivis perempuan yang mennggapi
asalah ini dengan ”panas”, mereka memberikan argumen bahwa tidakan AAGym adalah
salah. Secara tidak sadar mereka ”menjilat ludah ” sendiri. Bagaimana tidak, pada kasus RUU APP mereka
dengan lantang mengatakan bahwa RUU APP bertentangan dengan HAM karena melarang
Hak seseorang untuk berekspresi. Namun pada kasus ini mereka menentang poligmy
tidak dengan dasar HAM yang seharusnya mereka pegang sebagai kunci tetapi pada
paranoid-paranoid yang belum terjadi!. Saya tidak akan mau ’menjilat ludah
sendiri’, saya berpendapat bahwa AAGym melakukan poligamy itu adalah Haknya,
dan mengenai paranoid tentang penindasan perempuan melalui poligamy itukan
belum terjadi. Namun, memang pencerdasan terhadap kerugian-kerugian poligmy
berikut kasus-kasus yang menyertainya memang harus tetap di laksanakan.
Tujuannya, jelas agar masyarakat memperoleh informasi yang seimbang karena
memang benar poligamy lebih berpotensi memperbanyak dosa ketimbang menumpuk
pahala. Orang yang menganggap poligamy adalah ladang amal itu bodoh besar!
Mengenai pemerintah yang ikut campur masalah ini, sungguh ini merupakan tidakan
reaktif yang amat bodoh! Setelah kemarin SBY mencoba menutup puser orang dengan
RUU APPnya, sekarang mo ngelarang orang nikah! What the fuck! Pelanggaran
privasi! Sudah lah… pemerintah lebih baik jadi anjing penjaga aja, Ga usah
lah ngatur-ngatur orang berpakaian, berekspresi sampai orang nikah! Seperti
lagunya Iwan Fals
”Masalah moral,
masalah akhlak, biar kami cari sendiri. Urus saja moral mu, urus saja akhlakmu,
peraturan yang sehat yang kami mau!”. SBY…SBY… tolong deh daripada
ngutakngutik pribadi seseorang mendingan dikau urus saja lumpur Lapindo! Namun
saya berpendapat masalah poligamy ini tetap di pertegas aturannya, dan yang
melakukan ini bukan presiden melalui PP nya tetapi melalui Pengadilan Agama.
Karena poligamy adalah kasus yang khusus jadi penerapannya pun harus khusus dan
selektif pula. Administrasi mengenai pernikahan poligamy harus di perketat.
Jadi tidak melarang poligamy tetapi me-regulasi poligamy agar tidak setiap
orang melakukan itu, dengan demikian dampak negatif poligamy dapat di kurangi!
Setelah LQ aku ke
kampus. Aku terlebih dahulu menemui pembimbing untuk minta makalahnya mengenai
pengembangan komunitas. Untungnya beliau masih ada di ruang dosen.
Mudah-mudahan beliau segera mengirimkannya ke emailku.
Setelah dari
ruang dosen aku ke ged.8. Biasa…ke perpus jurusan. Aku mempelajari pola
penulisan bab kesimpulan dan saran pada beberapa skripsi anak-anak JIP.
Setelah dari
perpus aku menonton film Betina-nya Lola Amaria. Film yang bagus sekali. Gaya
teaterikal sangat kental dalam film itu. Aku suka sekali. Film itu mengisahkan
tentang cinta buta si Betina kepada Pendeta. Namun si pendeta ternyata bukanlah
makhluk suci seperti yang dia duga, si pendeta ternyata suka melakukan
perbuatan-perbuatan imoral yang bertentangan dengan nilai-nilai kesucian agama.
Film ini merupakan refleksi dari kehidupan saat ini. Bahwa ternyata sulit untuk
membedakan ”setan” dan ”malaikat”. Pendeta, yang dikira sesuci malaikat
ternyata lebih rendah daripada setan itu sendiri. Bagaimana tidak, setan mengakui
dirinya adalah setan dengan segala kejahatan yang ada pada dirinya, sementara
pendeta mengaku bahwa dirinya adalah suci namun melakukan perbuatan setan.
Sungguh munafik! Tidakkah itu lebih rendah dari pada setan?!!!!Aku jadi ingat
diskusi beberapa bulan lalu dengan seorang teman.
Dia berkata
”jalan mana yang kau pilih?”.
Aku berkata
”jalan yang ku pilih adalah jalan manusia”
Dia berkata lagi
” Di quran sudah jelas hanya terdapat dua jalan, jalan Tuhan dan jalan setan”
Aku berkata ”
tetapi aku adalah manusia maka aku memilih jalan manusia dengan bimbingan
tuhan., saat ini sulit untuk membedakan mana malaikat, mana setan!”
Terus pembicaraan
kami terhenti, lalu dia pergi.Entah kenapa…
Itu adalah
kata-kata spontanku, tetapi setelah menonton Betina aku semakin yakin dengan
jalan yang kupilih, yah..jalan manusia dengan bimbingan tuhan. Kalau pun itu
terlihat absurd setidaknya aku tidak menjadi orang yang munafik
Setelah dari
nonton film Betina, aku memutuskan untuk ngenet sebentar ke perpus pusat.
Setelah nonton Betina, perasaanku menjadi melankolik, selain itu udara di
perpust sangat dingin. Di luar hujan turun deras. Di depanku, di ruang baca,
ada seorang laki-laki yang senyum-senyum sendiri sambil melihat HP. Raut
wajahnya sangat cerah. Ah, dia pasti sedang jatuh cinta. Seketika itu juga,
ingin aku membuat puisi tentang orang kasmaran,mungkin aku juga sedang seperti
dia. Akhirnya dalam waktu 5 menit terciptalah dua puisi
Hey, kau yang dimabuk cinta!
Hey, kau yang
dimabuk cinta!
ilusi menjadi asa
mengikuti jejak-jejak buta
saat waktu bersela fana
semua hanyalah fatamorgana
depok, 8 Desember ‘o6
-Indah Survyana-
Hujan
Hujan menderaikan
asa
tik…tik…tik…
semakin deras…..
hati menangis
mata tak berkedip
dan hujan semakin menderas
Depok, 8 Desember’o6
-indah-
Pusi itu aku
kirimkan ke milis penyair, tapi aneh setelah menuggu sepeluh menit kenapa tidak
muncul-muncul juga puisiku di milis. Mungkin karena aku belum registrasi atau sistemnya yang lagi payah. Sutralah….
Setelah dari
perpus pusat aku menuju ged.9. Jam waktu itu menjukkan 18.30 WIB. Aku ingin
melihat maba PK. Alhamdulillah JIP juara satu. Kami semuanya senang. JIP 2002
banyak juga yang datang. Kami mengobrol bareng, becanda, saling ejek dan
menghina lalu tertawa lepas. Becanda kami tidak terputus, hingga pulang dari
sana tepatnya pukul 22.00 WIB kami masih becanda tertawa-tawa. Ah, sungguh
senang dapat tertawa lepas seperti ini. Rasanya 3 minggu berpusing-pusing ria
dengan skripsi terbayar sudah dengan tertawa lepas seperti ini. Aku senang…
Ya, Allah, hari
ini aku kembali melihat bintang. Rasanya senang sekali. Trimakasih atas
takdirmu hari ini. Rasanya indah sekali. Kau memang Maha Humoris. Tetapi maaf,
aku tidak bisa memanfaatkannya. Sewaktu dia melintas, aku hanya bisa tersenyum.
Memanggil saja rasanya tidak bisa. Tetapi aku berterimakasih kepadamu karena
telah menghadirkan dia secara tiba-tiba untukku. Kau telah mendengarkan
pintaku. Meski hadirnya dirinya membuatku sulit berkonsentrasi. Tetapi aku
bahagia. Di lain waktu semoga aku dapat bertemu dengannya dan berbicara seperti
waktu itu….
Depok, 9 Desember ‘o6
-Indah Survyana-