Archive for December, 2006

Satu Hari yang menyenangkan

Saturday, December 9th, 2006

Kemarin aku bisa tidur nyenyak. Insomnia tidak lagi
menggangguku. Mungkin karena kemarin adalah hari yang sangat menyenagkan. Semua
rencana berjalan bahkan ada hal-hal yang tak terduga menghampiri, cukup
memekarkan kembali bunga di hati. Ah, Tuhan memang Maha Humoris.

 

Jadwal pertama
aku kemarin adalah LQ di MUI. Seperti biasa yang LQ hanya aku dan karjo. Kami
(aku, karjo dan mbakku) berbicara ngalor ngidul membahas topik-topik hangat.
Salah satunya adalah Aagym poligamy. Poligami adalah pembahasan yang tidak ada
habis-habisnya. Yang paling di sesesalkan adalah banyak orang yang menggunakan
Agama sebagai benteng pelegalan ini. Saya tetap pada pendapat saya bahwa
poligamy adalah haram karena berpotensi besar menimbulkan dosa. Sama seperti
merokok dan minum-minuman keras. Namun itu bertentangan dengan mbakku yang
menyatakan bahwa poligamy terdapat di Alquran, tetapi beliau juga menjelaskan
bahwa itu adalah aturan alternatif sedangkan ideal yang dianjurkan adalah
monogamy.
Aku berpendapat,
jika memang ada aturan ideal mengapa harus ada alternatif? Bukankan ajaran
agama adalah ideal. Mbakku menjawab bahwa karena lelaki mempunyai libido yang
berlebih. Aku menjawabnya bahwa jika memang lelaki itu manusia dan bukan
binatang, semestinya dia bisa mengontrol libidonya itu Tetapi Mbakku bersikeras
bahwa memang itu sudah dari sananya! Sungguh, penjelasan ”dari sananya” adalah
penjelasan yang tidak masuk di akal pikiranku! Aku tetap berpendapat bahwa jika
memang laki-laki adalah manusia dia haus dapat mengontrol libidonya, entah
dengan cara apapun! Dia harus mengontrol
dirinya untuk eksistansinya! Sama seperti perempuan yang bertoleransi dengan
menggunakan pakaian tertutup untuk membantu dirinya dalam mengontrol libidonya
dan membantu para laki-laki untuk mengontrol libidonya! Itu harga mati yang
tidak bisa ditawar!

Memang poliogamiy adalah masalah yang terus
menimbulkan pro dan kontra tetapi untuk kasus AAGYm saya hanya berkomentar
bahwa itu adalah haknya, namun dia tidak seharusnya menggunakan agama sebagai
benteng! Seharusnya yang dijadikan bentengnya adalah Hak Asasi. Banyak para
aktivis perempuan yang
mennggapi
asalah ini dengan ”panas”, mereka memberikan argumen bahwa tidakan AAGym adalah
salah. Secara tidak sadar mereka ”menjilat ludah ” sendiri.
Bagaimana tidak, pada kasus RUU APP mereka
dengan lantang mengatakan bahwa RUU APP bertentangan dengan HAM karena melarang
Hak seseorang untuk berekspresi. Namun pada kasus ini mereka menentang poligmy
tidak dengan dasar HAM yang seharusnya mereka pegang sebagai kunci tetapi pada
paranoid-paranoid yang belum terjadi!. Saya tidak akan mau ’menjilat ludah
sendiri’, saya berpendapat bahwa AAGym melakukan poligamy itu adalah Haknya,
dan mengenai paranoid tentang penindasan perempuan melalui poligamy itukan
belum terjadi. Namun, memang pencerdasan terhadap kerugian-kerugian poligmy
berikut kasus-kasus yang menyertainya memang harus tetap di laksanakan.
Tujuannya, jelas agar masyarakat memperoleh informasi yang seimbang karena
memang benar poligamy lebih berpotensi memperbanyak dosa ketimbang menumpuk
pahala. Orang yang menganggap poligamy adalah ladang amal itu bodoh besar!
Mengenai pemerintah yang ikut campur masalah ini, sungguh ini merupakan tidakan
reaktif yang amat bodoh! Setelah kemarin SBY mencoba menutup puser orang dengan
RUU APPnya, sekarang mo ngelarang orang nikah! What the fuck! Pelanggaran
privasi! Sudah lah… pemerintah lebih baik jadi anjing penjaga aja, Ga usah
lah ngatur-ngatur orang berpakaian, berekspresi sampai orang nikah! Seperti
lagunya Iwan Fals

”Masalah moral,
masalah akhlak, biar kami cari sendiri. Urus saja moral mu, urus saja akhlakmu,
peraturan yang sehat yang kami mau!”. SBY…SBY… tolong deh daripada
ngutakngutik pribadi seseorang mendingan dikau urus saja lumpur Lapindo! Namun
saya berpendapat masalah poligamy ini tetap di pertegas aturannya, dan yang
melakukan ini bukan presiden melalui PP nya tetapi melalui Pengadilan Agama.
Karena poligamy adalah kasus yang khusus jadi penerapannya pun harus khusus dan
selektif pula. Administrasi mengenai pernikahan poligamy harus di perketat.
Jadi tidak melarang poligamy tetapi me-regulasi poligamy agar tidak setiap
orang melakukan itu, dengan demikian dampak negatif poligamy dapat di kurangi!

 

Setelah LQ aku ke
kampus. Aku terlebih dahulu menemui pembimbing untuk minta makalahnya mengenai
pengembangan komunitas. Untungnya beliau masih ada di ruang dosen.
Mudah-mudahan beliau segera mengirimkannya ke emailku.

 

Setelah dari
ruang dosen aku ke ged.8. Biasa…ke perpus jurusan. Aku mempelajari pola
penulisan bab kesimpulan dan saran pada beberapa skripsi anak-anak JIP.

 

Setelah dari
perpus aku menonton film Betina-nya Lola Amaria. Film yang bagus sekali. Gaya
teaterikal sangat kental dalam film itu. Aku suka sekali. Film itu mengisahkan
tentang cinta buta si Betina kepada Pendeta. Namun si pendeta ternyata bukanlah
makhluk suci seperti yang dia duga, si pendeta ternyata suka melakukan
perbuatan-perbuatan imoral yang bertentangan dengan nilai-nilai kesucian agama.
Film ini merupakan refleksi dari kehidupan saat ini. Bahwa ternyata sulit untuk
membedakan ”setan” dan ”malaikat”. Pendeta, yang dikira sesuci malaikat
ternyata lebih rendah daripada setan itu sendiri. Bagaimana tidak, setan mengakui
dirinya adalah setan dengan segala kejahatan yang ada pada dirinya, sementara
pendeta mengaku bahwa dirinya adalah suci namun melakukan perbuatan setan.
Sungguh munafik! Tidakkah itu lebih rendah dari pada setan?!!!!Aku jadi ingat
diskusi beberapa bulan lalu dengan seorang teman.

Dia berkata
”jalan mana yang kau pilih?”.

Aku berkata
”jalan yang ku pilih adalah jalan manusia”

Dia berkata lagi
” Di quran sudah jelas hanya terdapat dua jalan, jalan Tuhan dan jalan setan”

Aku berkata ”
tetapi aku adalah manusia maka aku memilih jalan manusia dengan bimbingan
tuhan., saat ini sulit untuk membedakan mana malaikat, mana setan!”

Terus pembicaraan
kami terhenti, lalu dia pergi.Entah kenapa…

Itu adalah
kata-kata spontanku, tetapi setelah menonton Betina aku semakin yakin dengan
jalan yang kupilih, yah..jalan manusia dengan bimbingan tuhan. Kalau pun itu
terlihat absurd setidaknya aku tidak menjadi orang yang munafik

 

Setelah dari
nonton film Betina, aku memutuskan untuk ngenet sebentar ke perpus pusat.
Setelah nonton Betina, perasaanku menjadi melankolik, selain itu udara di
perpust sangat dingin. Di luar hujan turun deras. Di depanku, di ruang baca,
ada seorang laki-laki yang senyum-senyum sendiri sambil melihat HP. Raut
wajahnya sangat cerah. Ah, dia pasti sedang jatuh cinta. Seketika itu juga,
ingin aku membuat puisi tentang orang kasmaran,mungkin aku juga sedang seperti
dia. Akhirnya dalam waktu 5 menit terciptalah dua puisi

 

Hey, kau yang dimabuk cinta!

 

Hey, kau yang
dimabuk cinta!
ilusi menjadi asa
mengikuti jejak-jejak buta
saat waktu bersela fana
semua hanyalah fatamorgana

depok, 8 Desember ‘o6
-Indah Survyana-


Hujan

 

Hujan menderaikan
asa
tik…tik…tik…
semakin deras…..
hati menangis
mata tak berkedip
dan hujan semakin menderas

Depok, 8 Desember’o6
-indah-

 

Pusi itu aku
kirimkan ke milis penyair, tapi aneh setelah menuggu sepeluh menit kenapa tidak
muncul-muncul juga puisiku di milis.
Mungkin karena aku belum registrasi atau sistemnya yang lagi payah. Sutralah….

 

Setelah dari
perpus pusat aku menuju ged.9. Jam waktu itu menjukkan 18.30 WIB. Aku ingin
melihat maba PK. Alhamdulillah JIP juara satu. Kami semuanya senang. JIP 2002
banyak juga yang datang. Kami mengobrol bareng, becanda, saling ejek dan
menghina lalu tertawa lepas. Becanda kami tidak terputus, hingga pulang dari
sana tepatnya pukul 22.00 WIB kami masih becanda tertawa-tawa. Ah, sungguh
senang dapat tertawa lepas seperti ini. Rasanya 3 minggu berpusing-pusing ria
dengan skripsi terbayar sudah dengan tertawa lepas seperti ini. Aku senang…

 

Ya, Allah, hari
ini aku kembali melihat bintang. Rasanya senang sekali. Trimakasih atas
takdirmu hari ini. Rasanya indah sekali. Kau memang Maha Humoris. Tetapi maaf,
aku tidak bisa memanfaatkannya. Sewaktu dia melintas, aku hanya bisa tersenyum.
Memanggil saja rasanya tidak bisa. Tetapi aku berterimakasih kepadamu karena
telah menghadirkan dia secara tiba-tiba untukku. Kau telah mendengarkan
pintaku. Meski hadirnya dirinya membuatku sulit berkonsentrasi. Tetapi aku
bahagia. Di lain waktu semoga aku dapat bertemu dengannya dan berbicara seperti
waktu itu….

 

Depok, 9 Desember ‘o6

 

-Indah Survyana-

EKOFEMINISME

Saturday, December 9th, 2006

Ekofeminisme
salah satu cabang feminis gelombang ketiga yang mencoba menjelaskan keterkaitan alam dan perempuan terutama yang menjadi
titik fokusnya adalah kerusakan alam yang mempunyai keterkaitan langsung dengan
penindasan perempuan. Dalam Ekofeminisme perempuan ditempatkan sebagai “sosok
yang lain” sejajar dengan sosok yang lainnya yang diabaikan dalam patriarkhi
seperti kelompok ras berwarna, anak-anak, kelompok miskin dan alam.[1]
Budaya Patriarkhi menyebabkan adanya dominasi terhadap perempuan, kelompok ras
berwarna, anak-anak, kelompok miskin dan alam, dan menempatkan mereka sebagai
subordinate dibawah laki-laki yang
mempunyai sifat yang unggul, netral, pengelola “sah” bumi dan seisinya.

Dalam menggali keterkaitan antara
penindasan “sosok yang lain” (perempuan, kelompok ras berwarna, anak-anak,
kelompok miskin), kerusakan alam dan dominasi patrarkhi, ekofeminisme
menggunakan pendekatan analisis gender dan lebih memfokuskan keterkaitan ini
pada penindasan perempuan, kerusakan alam serta dominasi patriarki sebagai
penyebabnya. Hal tersebut disebabkan
Pertama, Ekofeminis melihat yang paling dirugikan dari kerusakan alam adalah
perempuan. Kedua, Peranan gender perempuan (sebagai pengatur dari economi
domestik) bertindihan (overlap)
dengan permasalahan kerusakan alam dan lingkungan. Ketiga, beberapa ideologi
barat berisikan konsep-konsep pendominasian alam oleh gender laki-laki.[2]

Pergerakan
ekofeminis yang pertama dimulai sekitar tahun 1974 oleh sekelompok perempuan di
utara India, mereka menamakan dirinya ”chipko Movement”. Mereka memprotes
penebangan hutan yang dilakukan oleh kolonial Inggris. Gerakan Chipko merupakan
manivestasi dari filsafat Gandhian
Satyagrahas yang mencoba menyelamatkan dan melestarikan hutan tradisional atau
”forest culture”. Hutan tradisional menjadi begitu penting bagi masyarakat
india karena dari dalamnya mengandung tanah, air dan oksigen[3]
yang sangat diperlukan bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup
terutama sangat berkaitan erat dengan keberlangsungan hidup perempuan, mengapa? Alasan yang pertama
karena sebagian besar perempuan timur dalam kehidupannya sangat bergantung pada
pohon-pohonan dan hasil hutan. Tingkat ketergantungan mereka terhadap alam
sangat tinggi yaitu tercatat 60 % di 32 negara di Afrika, 80% di 18 negara di
Asia dan 40% di Amerika Latin dan kepulauan Karibia.[4]
Ketika para laki-laki menghabiskan waktunya di ladang atau berburu, para
perempuan tinggal bersama anak-anaknya di hutan, mereka mengandalkan
pohon-pohonan serta hasil hutan untuk keberlangsungan hidup mereka.
Pohon-pohonan dan hasil hutan tidak hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan
pangan mereka tetapi dapat memenuhi hampir semua kebutuhan di ranah domestik.
Yang kedua, Ada sejumlah kebiasaan, hal yang tabu dan sah dan waktu yang menghambat
yang dihadapi perempuan sedang kan laki-laki tidak menghadapinya. Hal tersebut
seperti perempuan dan laki-laki memiliki akses yang berbeda atas sebidang
tanah. Di Tanzania, perempuan tidak memiliki hak sama sekali untuk mendiami
sebidang tanah, mereka harus meminta izin kepada suami mereka atau laki-laki
lain untuk mengolah sebidang tanah. Perempuan di sebagian besar negara
berkembang tidak memiliki dukungan hukum untuk berpartisipasi dan ikut
mengelola lingkungan lokal mereka.

”Di daerah rural (pedesaan), perempuan sebagai buruh upah yang sangat
miskin-menyiangi, mengangkut air dan kayu, dan melakukan pekerjaan rumah
tangganya. Mereka hidup tanpa pendidikan, status, organisasi untuk melindungi
atau hak kepemilikan tanah yang dapat menjadikan mereka turut serta dalam
pengontrolan lingkungan.”[5]

 

Yang ketiga, pendapat dari pendatang khususnya
pengelola hutan dari barat mengenai ketidak beruntungan perempuan di dunia
ketiga, sangat berbeda.mereka menganjurkan beberapa teknik untuk menghadapi
kekurangan pohon-pohonan. Akan tetapi hal tersebut tidaklah benar sebab mereka
hanyalah pendatang, perempuan-perempuan
itu sendiri yang mengetahui bagaimana cara mempertahankan hidupnya dalam alam
dan lingkungan yang sudah ia kenal dengan baik.[6]
Sejak produksi berskala kecil yang menjadi prioritas lokal banyak dilakukan,
peranan perempuan sangatlah penting untuk menyokong itu semua, namun jika
kehidupan alam terancam akibat munculnya komersialisasi perambahan hutan, maka
dengan demikian kehidupan perempuan akan terganggu dan implikasinya juga akan
mengakibatkan punahnya perempuan secara tidak langsung

Selain
berkonsentrasi pada penyelamatan hutan, ekofeminis juga peduli pada kondisi air
tanah dan berbagai bencana yang berkaitan dengan itu seperti kekeringan dan
banjir yang dapat merusak suatu ekosistem. Di negara-negara dunia ketiga, air
sangat penting artinya bagi perempuan dan anak-anak. Di Afrika dan Asia
tercatat perempuan dan anak-anak dapat menghabiskan sekitar 4-3 jam perminggu
untuk mengangkut air dalam memenuhi kebutuhan keseharian keluarganya.[7]
Semakin langkanya air akibat semakin berkurangnya sumber air tanah maka kerja
dari perempuan dan anak-anak semakin berat.

” jumlah perempuan yang hidup di daerah rural yang menjadi akibat
kelangkaan air mencapai 55% di Afrika,
32 percent di Asia, dan 45% di Amerika Latin. Walaupun air terlihat berlimpahan
banyaknya di seluruh dunia, namun demikian masih ada di daerah tertentu di
beberapa negara yang memiliki musim kering teramat panjang yang mengakibatkan
banyak peempuan menghabiskan banyak waktu untuk mengangkut dan mengumpulkan
air.”[8]

 

Kualitas air yang semakin menurun akibat
polusi air oleh limbah pabrik atau zat kimia juga menjadi masalah tersendiri.
Menurut Joni Seager, sekitar setengah populasi dunia ketiga tanpa air yang
tidak sehat.Terdapat sekitar 250 juta kasus dari air yang menyebabkan penyakit,
menyebabkan 10 juta orang meninggal, dan hal ini dapat terjadi setiap tahun.[9]
Air yang terkontaminasi menjadi masalah yang cukup rumit terutama bagi
perempuan yang miskin yang terpaksa harus memasak dari air yang terkontaminasi
tersebut. Akibatnya, dirinya dan keluarganya terjangkit beberapa penyakit,
hewan-hewan, ternak tidak dapat hidup, tanaman tidak dapat subur. Situasi
tersebut menyebabkan semakin banyaknya perempuan atau anak-anak yang sakit lalu
meninggal ataupun jika mereka hidup, mereka hidup dengan berbagai penyakit.
Akibatnya fungsi reproduksi akan semakin berkurang dan pada akhirnya akan
menyebabkan menurunnnya jumlah populasi manusia di daerah ini.

Permasalahan lainnya yang mengancam
kehidupan perempuan, adalah kekeringan atau kebanjiran. Kekeringan dan banjir
merupakan bencana alam (natural disaster)
yang dapat terjadi secara alami ataupun merupakan dampak atas kerusakan alam
oleh manusia. Seperti kekeringan diakibatkan tidak adanya cadangan air tanah
atau pemerintah yang tidak membuat bendungan sebagai sarana untuk menapung air
hujan agar dapat dimanfaatkan pada musim kemarau. Banjir dapat disebabakan
karena penebangan hutan secara liar yang mengakibatkan semakin berkurangnya
tanaman yang berfungsi untuk menyerap air dan menyimpannya dalam waktu
tertentu. Dampak dari dua jenis bencana ini sangat fatal yaitu dapat merusak
ekosistem dan dapat memusnahkan seluruh makhluk hidup, tak terkecuali manusia
terutama masyarakat yang miskin yang sebagian besarnya adalah perempuan dan
anak-anak. Hal demikian dapat terjadi karena sebagian besar perempuan tdi dunia
ketiga menjadi buruh dengan penghasilan sangat kecil bahkan sebagian besar
diantaranya tidak memiliki penghasilan sama sekali, hidupnya digantungkan pada
suami dan alam. Oleh karena itu tidak heran bahwa telah terjadi fenomena yaitu
80%-90% keluarga miskin di dunia merupakan keluarga yang dikepalai oleh
perempuan.[10] Terjadinya fenomena yang
demikian disebabkan karena sulitnya perempuan memiliki akses ekonomi yang lebih
luas, jika alam saja yang akrab oleh keseharian perempuan di kelola dan diatur
oleh laki-laki hingga menimbulkan berbagai bencana alam, apalagi ranah publik
yang semuanya di dominasi oleh laki-laki ?

Perempuan tidak hanya mendapat dampak dari
bencana alam, kerusakan hutan atau polusi air saja, tetapi penderitaan
perempuan khususnya perempuan di dunia ketiga terus berlangsung terutama para
perempuan yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani baik petani ladang
maupun petani di sawah.

” Pada kenyataannya, petani perempuan jam bekerja lebih lama, mempunyai
lebih sedikit aset dan upah yang lebih rendah daripada petani laki-laki, dan
mempunyai ketergantungan yang paling tinggi. sebagian besar mereka tidak
memiliki pendidikan dan kompetensi yang cukup. Petani perempuan sangat miskin
sebab akses untuk memperoleh kredit usaha sangat terbatas. Tanpa adanya kredit
perempuan tidak dapat membeli ternak, pupuk atau bibit untuk meningkatkan
produksi.”[11]

 

Petani perempuan bekerja lebih keras dalam
hidupnya disamping ia harus mengatasi persoalan pekerjaannya di sawah atau
diladang, bebannya semakin bertambah karena ia tidak dapat terlepas dari
pekerjaan domestiknya. Terkadang para terkadang para perempuan melakukan
keduanya tanpa upah sama sekali karena beberapa masyarakat menganggapnya bahwa
kedua hal tersebut merupakan suatu kewajiban perempuan sebagai yang
bertanggungjawab dalam rumah tangga.

Masalah yang terakhir yang harus dihadapi
perempuan di dunia ketiga adalah masalah sampah. Sampah merupakan bagian yang
tak terhindarkan dalam kehidupan, semakin besar konsumsi masyarakat maka
semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Di beberapa negara maju, sampah
diolah sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan bagi suatu ekosistem, namun
di negara-negara dunia ketiga sampah menjadi masalah yang sangat rumit hingga
masalah sampah tidak terselesaikan akibatnya sampah semakin menumpuk dan
menjadi racun . Dalam hal ini sebenarnya perempuan mempunyai peranan penting
untuk menanggulangi permasalahan sampah ini. Sebagian besar sampah tersebut di
produksi dari kegiatan rumahtangga seperti sampah sisa konsumsi, sampah
pembungkus makanan, dll. Perempuan dapat membantu menaggulangi ini dengan
membantu memilah-milah sampah kering dan sampah basah, untuk di daur ulang. Akan
tetapi hal ini tidak akan terjadi tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Di
negara-negara dunia ketiga yang sebagaian besar memiliki masalah sampah,
pemerintahnya tidak mempunyai kebijakan yang jelas mengenai sampah.

” tercatat 26 juta penduduk di Afrika, 8 juta penduduk di kepulauan
Hispanic Amerika dan setengah dari populasi penduduk di kepulauan Asia Pasifik
hidup dalam komunitas yang tidak mempunyai pengaturan terhadap sampah.”[12]

 

Akibatnya penduduknya hidup dengan sampah. Yang
paling menderita dari ini semua adalah penduduk miskin yang tinggal di
pemukiman dekat pembuangan sampah. Sebagian besar diantara penduduk yang miskin
tersebut adalah perempuan dan anak-anak dan yang paling mendapatkan dampak dari
sampah tersebut seperti penyaki pes, diari, dll adalah perempuan dan anak-anak
karena merekalah yang paling banyak menghabiskan waktunya di daerah tersebut

 

KESIMPULAN

Alam sangat erat kaitannya terhadap kehidupan
perempuan. Rusaknya alam menyebabkan peluang terhadap perempuan untuk melanjutkan kehidupannya semakin
berkurang. Hal tersebut berkaitan dengan fungsi reproduksi perempuan yang
dikaitkan dengan fungsi produksinya untuk mempertahankan hidup. Dengan demikian
perempuan memegang kunci yang paling utama dalam siklus kehidupan. Oleh karena
itu penyelamatan terhadap alam dan lingkungan menjadi teramat penting karena
secara tidak langsung dapat menyelamatkan kehidupan keseluruhan. Peranan penyelamatan ini penting dilakukan
oleh perempuan itu sendiri karena merekalah yang paling mengetahui apa yang terbaik
bagi diri mereka. Namun disamping itu semua, peranan negara juga teramat penting
dalam menciptakan kebijakan-kebijakan untuk mendorong aktivitas penyelamatan
alam dan lingkungan.


***

-Indah Survyana-
Depok, 2006


[1] Nature is Feminist Isu. Hal.1

[2] ibid hal.2

[3] ibid hal.3

 

 

[4] Nature
is Feminist Isu. Hal.4

[5] ibid hal.5

[6] ibid hal 5

 

 

[7] Nature
is Feminist Isu. Hal.7

[8] ibid hal.7

[9] Ibid hal.7

 

[10] Nature
is Feminist Isu. Hal. 9

[11] ibid hal.10

 

[12] Nature
is Feminist Isu. Hal. 13

 

Kekacauan

Sunday, December 3rd, 2006

Dalam kekacauan

 

Menjanjikan diri
selepas sepi

Berpaling pada
kebenaran hakiki

Adakah yang abadi
?

Manusia lahir tak
bertuan, tumbuh dengan kesadaran

Apakah ini tempat
bersandar ?

Pribadi-pribadi
lapar

Hanya merangkak
dalam kekosongan

Semua hanyalah
bualan

Ketika malam tak
lagi mencekam…..

 

Depok, 3 Desember
2006, Pukul; 22.00, pengantar sebelum menulis skripsi

goresan di tiang rasa

Sunday, December 3rd, 2006

goresan di tiang
rasa

 

Aku mulai bosan
dengan semua nada yang mengalun

Semua terdengar
sama namun tak menjanjikan

Adakah yang
berarti

Ternyata semua
tinggalah mimpi

Yang tak berujung
adalah tujuan

Namun apakah
lirih pantas diperdengarkan?

Satu orang sakit
jiwa melintas di jalan setapak

Satu orang gila
melintas di gedung bertingkat

Semua tampak sama

Mungkin aku telah
menjadi bagiannya

Tapi mengapa
hanya aku sendiri yang merasa,

Semua tetap sama

 

Depok, 3 Desember
2006, Pukul; 22.00, pengantar sebelum menulis skripsi

sepi…absurb…

Friday, December 1st, 2006

Hari ini akhirnya gw bisa juga ngumpulin bab V, walau agak ancur
tapi sutralah…yang penting dah ngumpulin. Urusan banyak salahnya itu urusan
nanti, lagian gw dah kebal di omelin hahaha: )

Setelah 2 minggu lainnya mendekam di rumah, hanya
bersosialisasi dengan buku, kertas-kertas ga guna ma computer, akhirnya tadi gw
ke kampus juga sekalian ngumpulin Bab V tadi sih. Rasanya senang ke kampus
lagi. Meskipun sedih juga sih coz temen-temen dah pada ga ada lagi. Tadi gw
sempet ketemu beberapa teman, pinginnya sih nge-gosip lebih lama dengan mereka (coz
gw dah bosen banget 2 minggu ini hanya bersosialisasi ma buku and computer)
tapi mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing, hiks : ( terus terang di
akhir masa-masa gw di kampus ini gw merasa kesepian…mungkin karena teman-teman
gw banyak yang dah pada ngilang dari peredaran kampus atau mungkin karena gw
enggak sibuk lagi..tapi suasana ini sungguh menyedihkan.

Tadi gw sempet debat sedikit. Temen gw bilang katanya iman gw berkurang coz dia ngeliat jilbab gw agak pendek! gw bingung naggapinnya gimana tapi yang jelas itu buat gw ketawa. Alasan yang pertama karena gw enggak ngira pikiran dia sesempit itu. dan yang kedua ternyata sekarang ini banyak orang bertuhan pada simbolitas identitas. itu menurut gw lucu banget sekaligus menyedihkan….dia heran kenapa gw ketawa padahal dia serius…gw bingung juga kenapa dia aneh gw ketawa udah jelas ini sangat lucu kok!

Hari ini berita
masih berkutat pada acara smack down. Gila, VOA ikut-ikutan ngomentarin ini,
tapi gw pikir itu bukan komentar coz yang banyak malah muji-muji AS, dasar alat
propaganda! Hari ini juga ada berita mengenai kasus pelecahan di sekolah. Ternyata
tuh guru bukan hanya ngelecehin 1 orang tapi laporan dah bertambah, 5 orang
yang dah di lecehin. Seorang pendidik dah bertindak imoral gimana anak
didiknya?. Ada lagi terbongkarnya kegiatan mesum salah satu anggota DPR. Satu
lagi, kata bokap gw AA Gym mo kawin lagi (tapi berita ini belom gw liat sih) .
Hah dunia sudah gila…nafsu kini sudah menjadi tuhan…

Gw enggak tau
akhir-akhir ini gw jadi keranjingan nulis trutama kalau gw ga bisa tidur. Tapi
apa yang gw tulis kayaknya engga guna dan enggak jelas. hUh!hIdup gw rasanya semakin
absurb!

 

Hingga hari ini
insomnia gw belom sembuh…gw tadi tidur jam 8 malem tapi bangun lagi jam 2
pagi trus enggak bisa tidur lagi…kacau nih!

 

Depok, 2 Desember
2006. pukul 02.00 (saat insomnia gw kambuh)