30 januari 2007

Tiada yang paling indah dibanding menikmati sendiri keindahan sore dengan berjalan kaki, melintasi danau, mencium aroma tanah setelah hujan lalu mampir ke pidi 2000 sekedar memuaskan lidah menyentuh kare mie aceh. Hangat sekali.

Setelah dari

sana

kusempatkan ke Gramedia, ah… sangat memuakkan melihar ide-ide berserak sia-sia. Yah…sia-sia karena mereka be-harga nominal. Padahal ide sangat berharga tak peduli bentuk apapun. Namun kapitalis sepertinya tidak rela melepasnya, kapitalis selalu mencium harga, jadilah ide semacam komuditas yang harus di perjual-belikan. Yang kaya akan mendapatkan pasokan ide lebih banyak, yang miskin harus menunggu ide-ide di tongsampah si kaya. Hah…jika ide seperti makanan alangkah lebih bergunanya jika tersebar seperti rumput yang berserak, air yang menggenang atau angin yang berhembus. It’s all free. And you all can use it no metter who you are !

Terlalu naïf bego, ya memang benar. Seperti yang dikatakan si singa liar yang berdiam di negeri Deandles

sana

. Tapi salahkah aku jika mengingankan semua berbahagia ? mengapa harus ada dualitas yang tak adil ? miskin-kaya, cantik-jelek, baik-jahat, tinggi-pendek ? lama aku merenung but this is live..this is world …yang sempurna hanya ada di surga… tapi apakah surga itu ada ? Freud bilang surga adalah khayalan orang tertindas yang pada prinsipnya sama dualitas! Setelah mengalami kepahitan hidup di dunia berharap ada kenikmatan yang tak hingga. Ah…aku tak mau bertuhan pada freud. Setidaknya adanya imajinasi tentang surgaa dapat menjadi motivasi dan menjadi obat mujarap untuk bertahan pada kejamnya kehidupan. Trimaksihku pada Tuhan yang telah memberikan deskripsi indah tentang surga. Huh…aku si naïf bego kini menjelma jadi paradoksal!

Berbica tentang surga berarti bicara tentang kematian seperti film yang baru saja aku tonton malam ini. Judulnya Last Holoday. Diperankan oleh queen Latifah. Bercerita tentang seseorang bernama

Georgina

(queen latifah) dengan hidup sangat biasa dan diapun lebih banyak diam daripada berkata-kata. Suatu ketika ada peristiwa yang membuatnya harus meronsen kepalanya. Setelah kepalanya di ronsen, dokter menterjemahkan hasil ronsen tersebut. Ternyata dia menderita penyakit yang mematikan dan disatikan hidupnya hanya bersisa 3 minggu. Geogina sangat kaget dan pada akhirnya dia memutuskan untuk menikmati hidupnya yang tinggal sebentar itu. Ia membuka lembar-lembar impiannya di buku yang ia susun berjudul ”posibilities”. Ia mengeluarkan tabungannya dan berlibur di tempat yang ia benar-benar impikan. Yah pokoknya akhirnya bahagia lah ternyata mesin ronsen rusak dan diagnosa film salah dan akhirnya georgina bisa mendapatkan seseorang yang dicintainya yeah…as usually a holywood film lah….Tiba-tiba saja aku berfikir tentang kematian. Aku kira beruntung sekali si georgina dapat mengetahu kapan kematiannya (terlepas jadi atau tidak jadi mati). Jika aku mengetahui kapan kematianku aku juga akan bersiap-bersiap. Aku akan minta maaf ke semua musuh-musuh ku, memberi hadiah dan ucapan terimakasih pada sahabat-sahabatku dan orang-orang terkasihku. Aku hanya akan meninggalkan tulisanku di banyak tempat di dunia maya and it’s all free man! Sungguh, aku hanya ingin jadi angin yang sepoy-sepoy yang mendamaikan hati dan membuat nyaman bagi semua orang. Angin yang gratis bukan angin dengan freon yang cuma buat orang masuk angin lagi membuat lubang atmosfer semakin besar saja.

Hah indah …naif lagi! Mungkin benar apa yang dikatakan si Srigala liar di negeri Deandles klo aku benar-benar si naif bego. Whatever lah!

Depok, 30 Januari 2007.

–indah-

Leave a Reply