Malam-Malam Ungu

MALAM-MALAM UNGU

(1)

bunga bersabda pada ilalang, merapat

”bilakah dunia terhenti ?”

dibiarkannya kumbang berdesing mengitarinya

lalu angin ikut memainkan putik

”Tak ada yang pasti kecuali ketidak pastian”

”Tak ada yang abadi kecuali ketidak abadian”

semua terhenti

bulan pucat pasi

serigala melolong pada langit ungu.

(2)

Malam-malam ungu pada bulan merah jambu

Serasa kontras membisu

Lalu hilang jadi abu

Karena takdir adalah tabu

Untuk bicara tentang haru

(3)

Disana, pengembara melepas pakaian

Disana, di bukit waktu lalu

telanjang, hanya kulit melekat

Ia berkisah pada langit ungu :

”pakaian hanya untaian kapas,

melekat sesakkan  nafas,

ternyata telanjang itu bebas

nafas terlepas, tak lagi panas”

(4)

Malam ungu merakit pekat

Tak dibiarkannya kepastian merapat

Sungguh, Hanya meraba yang mereka dapat

Namun,

Badut-badut menyemai sesat

Sebar benih di tanah lamat

Panen sesat sepanjang abad

Hingga malam benar-benar pekat

(5)

Muda-mudi berdiri teguh

Pada langit ungu kelabu

Tangan kuat menggenggam

Sebongkah mimpi yang jadi basi

Entah di telan fantasi surgawi

Atau lelah pada janji-janji pasti

Muda mudi bernyanyi menyalak

Saat gali kubur sendiri

(6)

Dia di singgasana

Mereka yang tertawa

Pesta pora menumpuk laba

Dagang derita semesta

(7)

Malam ungu di tanah berbatu

Tak ada lagi yang melagu

Kecuali lagu-lagu palsu

Yang lain membisu

Lalu berlalu

Sekali lagi berlalu

Ini malam ungu

Setelah senja berlalu

Lalu berlalu

Sekali lagi berlalu

b   e    r    l    a    l    u …………………………   ………………………………………………… haru

   

               

Depok’07

-indah-

Leave a Reply