Apresiasi puisi “Rindu” dari seorang teman
Rindu
Malam mengadu rindu
Kekal, menjelma kelambu
Tak satu kata beradu padu
Pada kotak merah jambu
Aduhai cintaku diujung tandu
Dibawa angin musim haru
Pada sabit berjengger buludru
Dibawah, aku mengadu rindu
Nama terus bergema
Entah mengapa
Entah menyapa
Entah dimana
Kususuri tapak waktu lalu
Hitung pasir yang berderas jauh
Diwaktu lalu
hingga ku merindu
Tak jua nama berhenti bergema
Hasrat ikuti gema nama
Dalam seribu tanya
Sedang apa kau disana ?
Kecut hati amatlah dungu
Tatkala suara tak dapat melagu
Kecut hati sisir nama itu
Pada kertas kaca, dunia maya
Sayangnya kau tak pernah ada
Ini puisinya Indah Survyana. Dipasang di blognya. Udah pernah aku baca se dulu, tapi baru nyadar sekarang kok ternyata puisi ini bagus juga. Jadi gatel pengen ngobrolinya. MULAI!!!!!!!!
Dua bait pertama kerasa banget betapa rapinya cewek ini menata perasaanya ke kata kata puisi, 2 bait pertama yang rapi dan tempo perasaanya makin tinggi.’Malam mengadu rindu/Kekal, menjelma kelambu/Tak satu kata beradu padu/Pada kotak merah jambu’, disini Indah mulai merasa something chemistry (ceile…bahasana..sok banget mas!), dia tak bisa memadukan kata, tak bisa ngomong, karena ada sesuatu yang membatasi, sesuatu yang menjadi kelambu, dan itu terasa di kotak merah jambu (nah masalahna yang dimaksud kotak merah jambu ini apa?ini benda nyata ato cuma kiasan. aku ga tau)
Setelah dia bingung dengan kerinduanya di kotak merah jambu, perasaanya naik lebih tinggi; Aduhai cintaku diujung tandu/Dibawa angin musim haru/Pada sabit berjengger buludru. Tiga baris pertama di bait kedua ini pengen nyapa si ‘cintaku’ yang bimbang. Kebimbangan si cinta digambarkan ama kata ‘diujung tandu’, di ujung sebuah akhir. Kebimbangan buat memilih antara beberapa hal. Dan sang cinta memilih dibawa angin musim yang bikin kesedihan, kesedihan sebuah perpisahan. Sang cinta memilih dibawa pergi ke posisi bulan sabit, posisi yg ada di atas. Maksudna si cinta berada di posisi yang lebih atas dari posisi cinta sebelumnya dan posisi indah. Dimana posisi itu juga lebih baik keadaanya, yang digambarkan berjengger beludru. Beludru, kain yang sering disejajarkan dan dikonotasikan ama kemewahan. Akhirnya, indah yang ga ikut naik dan berada di bawah cuma bisa mengatakan rindu pada si cinta.
Nama terus bergema/entah mengapa/entah menyapa/entah dimana. Nama sang cinta terus terbayang, terus bergema. Entah mengapa, aku artikan si Indah ga ngerti apa dan kenapa bisa rindu. Entah menyapa, aku artikan Indah ga ngerti apa iya ada rindu, mungkin disini dia ngerasa ragu. Lanjut dengan entah dimana, disini keraguanya mulai keluar, apa benar si indah rindu, kalo iya dimana, kalo engga kenapa ada perasaan ini, mungkin itu yg ada di perasaan indah untuk bait ini.
Kususuri tapak waktu lalu/Hitung pasir yang berderas jauh/Diwaktu lalu/hingga ku merindu. Disini Indah mengenang, menyusuri masa lalu. Pasir pada jaman dulu dijadiin alat pengukur waktu, dan disini indah menyimbolkan pasir sebagai waktu dan kenangan. Pasir yang berderas jauh menyimbolkan waktu terasa deras dan kejadian kejadian indah bersama cintanya terasa makin menepi karna waktu yang berjalan terus, bahkan terasa deras. Seperti manusia pada umumnya kalo kita mengenang kejadian kejadian lampau yang terjadi adalah kangen, rindu, dibahasakan jadi ‘hingga ku merindu’.
Begitu dalamnya kerinduan si indah sampai sampai, hingga pikiran tentang si cinta tak bisa hilang, tak jua nama berhenti bergema. Pikiran pikran menjadi hasrat, emosional yang mungkin berlebihan. Berlebihan sampai menajdi seribu tanya. Dan diantara seribu pertanyaan dan penasaranya, si Indah menuju satu pertanyaan yang mewakili seribu tanyanya; ’sedang apa kau disana?’ Pertanyaan ini benar benar mewakili pikiran pikran dan hasrat si Indah, sedang apa sang cinta disana, apa sang cinta juga rindu si Indah, apa sang cinta sibuk samapi lupa sama si Indah. Gitulah pertanyaanya, ’sedang apa kau disana?’sangat mewakili hasrat rindu si Indah.
Kecut hati amatlah dungu/Tatkala suara tak dapat melagu/Kecut hati sisir nama itu/Pada kertas kaca, dunia maya/Sayangnya kau tak pernah ada. Kecut hati gambarin ketidakberdayaan Indah mengungkapkan perasaan rindunya entah karena alasan apa. Indah ngerasa ketidakberdayaanya ini dan menyesalinya, sampae dia ngatain dirinya dan ketidakberdayaanya adalah dungu. Diantara kelemahanya itu, waktu Indah ngerasa ga bisa mengungkapkan perasaanya, ga bisa melagukan perasaanya, si Indah mencari-cari nama si cinta pada kertas kaca, dunia maya. Kertas kaca udah dijelasin Indah sebagai simbol dunia maya, dunia internet, dunia chatting. Artina si Indah ama si cinta berhubungan lewat dunia internet. Tapi Indah ga nemuin nama/nick si cinta tiap Indah ada di dunia internet, alias si cinta ga pernah online. Bait terakhir ‘Sayangnya kau tak pernah ada’ jadi akhir yang cukup sedih buat semua pikiran dan hasratnya Indah.
Puisi ini sebenernya ga perludijelasin karna puisi ini udah lumyan cukup jelas maknanya. Yang bikin bagus dari puisi ini adalah si Indah bisa bikin bait bait yang rapi, terarah, tempo perasaanya naik dangan teratur dan pasti, ga emosianal lompat lompat. Selain itu kata kata yang dipilih juga bagus dan lebih bagusnya maksudanya bisa dimengerti. Di akhir puisi ini, di bait terkhir, Indah mengkahiri kerinduanya dengan satu kalimat yang sedih dan menutup semua bait bait di atasnya dengan sempurna; mengakhiri kerinduan dengan kenyataan ga bisa ketemu cinta, kerinduan Indah ga bisa dilampiaskan dengan ketemu cintanya.
May 12th, 2009 at 6:49 am
kepakkan sayapmu tuk terus jelajahi rimba kata
ku pernah tersesat di dalamnya, karena sayapku patah