Dua Siluet Megapolitan
Dua Siluet bercengkrama akan telanjangi malam. Malam-malam bimbang berselimut kamuflase gemerlap megapolitan. Sinar masih berupa lampu taman, genit, menggerahkan. Jangan kau bayangkan bulan-bintang ikut berserak, manusia megapolis terbiasa ketiadaannya sebab kamuflase menggelegar sangat menyibukkan.
Dua Siluet telanjang dibawah fatamorgana megapolitan. Hentak detak dentum eforia musik malam, memecah pasang sunyi yang datang bertubi-tubi menghinggapi sela hati warga kota mati. Malam panjang, pejalang malam, berpesta, bangun dinding mimpi yang tak sempat tercicipi setelah hari-hari sesak berpeluh isak oleh kebuntuan tanya keadilan.
(Kubiarkan lagumu menjadi soundtrack malam ini hingga beberapa malam berikutnya)
Dua siluet melaju kelam, tanya-mencari ujung dunia. Segala sepi, sayu -setengah jiwaku tertinggal di sudut kota tua, sementara lainnya kau ambang dibawa angin pancaroba- tersamar. Tubuh tanpa jiwa bertutur payah :
”Selingkuh itu indah, sayang ?”
Depok, 19-21 May 2007
-indah-
May 28th, 2007 at 1:46 am
selingkuh itu indah bagi jiwa yang mati…
tapi ada yang lebih indah dari selingkuh yaitu kesetiaan…..
dan tak ada yang lebih indah dari kesetiaan meskipun ditukar dengan dunia dan segala isinya…
May 31st, 2007 at 1:24 am
Ni anak kalo dibilangin kok malah makin jadi!!!
wekekekekekkekeke…..