SEPI (4)
April 27th, 2007 by indah-fib-ui: fa
Siapa yang mengirim rindu sepagi ini ?
Hingga matahari beranjak sunyi
Dari rahim hati seorang putri
Lahir sebait puisi sepi
Menteng, 27 April 2007
-indah-
: fa
Siapa yang mengirim rindu sepagi ini ?
Hingga matahari beranjak sunyi
Dari rahim hati seorang putri
Lahir sebait puisi sepi
Menteng, 27 April 2007
-indah-
Malam merakit pekat. Hitam. Hanya itu yang kudapat. Namun tiba-tiba ada setitik sinar. Ia jatuh dari langit lalu menari di tepi ranjang. Sinar yang lelah …
”Dari mana ?”
”Dari sana ”
”Perjalanan jauh, ya ?”
”1000 mil dihantar angin sunyi”
Setiap malam selalu berulang. Sinar jatuh, merangkak ke ranjang. Mengecup mata malam lalu menarik selimut panjang. Ketika mata terkatup damai. Ia tidak pergi, justru mengendap masuk ke alam mimpi.
Esok pagi terkadang Ia datang kembali. Memberi secangkir canda pagi. Temaniku menelan sepi. Kemudian sepi mati tanpa usia harus terhenti.
Begitulah Ia mewarnai hari. Gemerlap seluruh hati hingga ku tak tahu lagi, bagaimana membuat puisi.
Depok, 22 April 2007
-indah-
Aku tinggal di pinggaran Jakarta dan peraturan di kantorku mengharuskan aku untuk datang awal. Satu-satunya transportasi yang memungkinkan mengejar waktu adalah kereta api. Tentunya menjadi informasi umum bahwa Pelayanan KRL di Indonesia sangat buruk terutama pelayanan KRL antar kota seperti jurusan Bogor-Jakarta sementara peminatnya banyak sekali. Harus berdesak-desakan itu ritmenya yang terkadang ada bonus-bonus lain yang tidak menyenangkan terutama bagi perempuan. Ya….pelecehan seksual. Seperti yang dialami temanku. Ketika ia keluar dari kereta yang sangat penuh dan sesak, roknya basah. Anehnya lagi air yang membasahi bukan air biasa. Kental berwarna putih. Ya…itu sperma. Di tengah penuh dan sesak ada saja yang mencuri keesmpatan onani dalam kereta. Pelecehan lainnya banyak terjadi seperti sengaja mendempet perempuan di kereta walaupun kereta tidak begitu penuh. Lalu dengan sengaja menggesek-gesekkan penisnya ke bokong perempuan tersebut. Ada lagi yang kasusnya sama di tambah dengam memegang pinggang perempuan hingga sengaja sekali meletakkan kakinya diatara dua kaki perempuan. Dan kebanyakan perempuan yang kena pelecehan tersebut hanya diam saja. Mungkin karena takut atau malu. Pernah ada yang bicara keras ”hei jangan kurang ajar !” tapi seluruh isi kereta (terutama yang laki-laki) mencemooh dia dengan mengatakan ”kalau mau lega naik taxi mbak” atau ” emang lagi openuh, protes aja” sedang perempuan lainnya kebanyakan diam. Hah, mengapa kelamin laki-laki harus di depan dan libidonya itu tidak terkendali seperti binatang. Hingga bersenggolan sedikit saja sudah terangsang lalu melakukan pelecehan. Aku berandai-andai, seandainya laki-laki memiliki kelamin lepas pakai seperti kondom yang dapat di taroh di kantong. Jadi Ia hanya dapat menggunakannya ketika berhubungan dengan pasangannya saja bukan pada orang lain yang tidak berdosa. Tentunya lebih baik. Jadi Ia bisa mengontrol libidonya dan tidak merugikan orang lain. Atau tukar saja. Laki-laki memiliki kelamin vagina sedang permpuan memiliki penis. Sementara libido tetap dalam keadaan yang sama. Tentunya keadaan akan jauh lebih baik. Perempuan dengan libidonya yang terkontrol baik tentu tidak akan menggunakan kelaminnya dengan baik. Sementara laki-laki dengan mitos keperawanan yang melekat pada vagina tentunya juga akan bertindak lebih terkontrol. Laki-laki akan menjaga sepenuh hati selaput daranya agar tak robek. Biar saja laki-laki merasakan bagaimana hidup dengan mitos seperti itu. Ini adalah angan-angan yang bodoh di tengah ke kesalanku dan keputusasaan karena terlalu banyak melihat bahkan terkadang menjadi korban pelecehan di fasilitas publik. Perempuan belum Merdeka !. Aku muak hingga ku menduga apa kelamin Tuhan ? jika Ia non gender mengapa takdir laki-laki jauh lebih indah dan mudah ? Ah…. semoga saja keadannya esok lebih baik. I hope ….
Depok, 21 April 2007
-indah-
Rindu
Malam mengadu rindu
Kekal, menjelma kelambu
Tak satu kata beradu padu
Pada kotak merah jambu
Aduhai cintaku diujung tandu
Dibawa angin musim haru
Pada sabit berjengger buludru
Dibawah, aku mengadu rindu
Nama terus bergema
Entah mengapa
Entah menyapa
Entah dimana
Kususuri tapak waktu lalu
Hitung pasir yang berderas jauh
Diwaktu lalu
hingga ku merindu
Tak jua nama berhenti bergema
Hasrat ikuti gema nama
Dalam seribu tanya
Sedang apa kau disana ?
Kecut hati amatlah dungu
Tatkala suara tak dapat melagu
Kecut hati sisir nama itu
Pada kertas kaca, dunia maya
Sayangnya kau tak pernah ada
Ini puisinya Indah Survyana. Dipasang di blognya. Udah pernah aku baca se dulu, tapi baru nyadar sekarang kok ternyata puisi ini bagus juga. Jadi gatel pengen ngobrolinya. MULAI!!!!!!!!
Dua bait pertama kerasa banget betapa rapinya cewek ini menata perasaanya ke kata kata puisi, 2 bait pertama yang rapi dan tempo perasaanya makin tinggi.’Malam mengadu rindu/Kekal, menjelma kelambu/Tak satu kata beradu padu/Pada kotak merah jambu’, disini Indah mulai merasa something chemistry (ceile…bahasana..sok banget mas!), dia tak bisa memadukan kata, tak bisa ngomong, karena ada sesuatu yang membatasi, sesuatu yang menjadi kelambu, dan itu terasa di kotak merah jambu (nah masalahna yang dimaksud kotak merah jambu ini apa?ini benda nyata ato cuma kiasan. aku ga tau)
Setelah dia bingung dengan kerinduanya di kotak merah jambu, perasaanya naik lebih tinggi; Aduhai cintaku diujung tandu/Dibawa angin musim haru/Pada sabit berjengger buludru. Tiga baris pertama di bait kedua ini pengen nyapa si ‘cintaku’ yang bimbang. Kebimbangan si cinta digambarkan ama kata ‘diujung tandu’, di ujung sebuah akhir. Kebimbangan buat memilih antara beberapa hal. Dan sang cinta memilih dibawa angin musim yang bikin kesedihan, kesedihan sebuah perpisahan. Sang cinta memilih dibawa pergi ke posisi bulan sabit, posisi yg ada di atas. Maksudna si cinta berada di posisi yang lebih atas dari posisi cinta sebelumnya dan posisi indah. Dimana posisi itu juga lebih baik keadaanya, yang digambarkan berjengger beludru. Beludru, kain yang sering disejajarkan dan dikonotasikan ama kemewahan. Akhirnya, indah yang ga ikut naik dan berada di bawah cuma bisa mengatakan rindu pada si cinta.
Nama terus bergema/entah mengapa/entah menyapa/entah dimana. Nama sang cinta terus terbayang, terus bergema. Entah mengapa, aku artikan si Indah ga ngerti apa dan kenapa bisa rindu. Entah menyapa, aku artikan Indah ga ngerti apa iya ada rindu, mungkin disini dia ngerasa ragu. Lanjut dengan entah dimana, disini keraguanya mulai keluar, apa benar si indah rindu, kalo iya dimana, kalo engga kenapa ada perasaan ini, mungkin itu yg ada di perasaan indah untuk bait ini.
Kususuri tapak waktu lalu/Hitung pasir yang berderas jauh/Diwaktu lalu/hingga ku merindu. Disini Indah mengenang, menyusuri masa lalu. Pasir pada jaman dulu dijadiin alat pengukur waktu, dan disini indah menyimbolkan pasir sebagai waktu dan kenangan. Pasir yang berderas jauh menyimbolkan waktu terasa deras dan kejadian kejadian indah bersama cintanya terasa makin menepi karna waktu yang berjalan terus, bahkan terasa deras. Seperti manusia pada umumnya kalo kita mengenang kejadian kejadian lampau yang terjadi adalah kangen, rindu, dibahasakan jadi ‘hingga ku merindu’.
Begitu dalamnya kerinduan si indah sampai sampai, hingga pikiran tentang si cinta tak bisa hilang, tak jua nama berhenti bergema. Pikiran pikran menjadi hasrat, emosional yang mungkin berlebihan. Berlebihan sampai menajdi seribu tanya. Dan diantara seribu pertanyaan dan penasaranya, si Indah menuju satu pertanyaan yang mewakili seribu tanyanya; ’sedang apa kau disana?’ Pertanyaan ini benar benar mewakili pikiran pikran dan hasrat si Indah, sedang apa sang cinta disana, apa sang cinta juga rindu si Indah, apa sang cinta sibuk samapi lupa sama si Indah. Gitulah pertanyaanya, ’sedang apa kau disana?’sangat mewakili hasrat rindu si Indah.
Kecut hati amatlah dungu/Tatkala suara tak dapat melagu/Kecut hati sisir nama itu/Pada kertas kaca, dunia maya/Sayangnya kau tak pernah ada. Kecut hati gambarin ketidakberdayaan Indah mengungkapkan perasaan rindunya entah karena alasan apa. Indah ngerasa ketidakberdayaanya ini dan menyesalinya, sampae dia ngatain dirinya dan ketidakberdayaanya adalah dungu. Diantara kelemahanya itu, waktu Indah ngerasa ga bisa mengungkapkan perasaanya, ga bisa melagukan perasaanya, si Indah mencari-cari nama si cinta pada kertas kaca, dunia maya. Kertas kaca udah dijelasin Indah sebagai simbol dunia maya, dunia internet, dunia chatting. Artina si Indah ama si cinta berhubungan lewat dunia internet. Tapi Indah ga nemuin nama/nick si cinta tiap Indah ada di dunia internet, alias si cinta ga pernah online. Bait terakhir ‘Sayangnya kau tak pernah ada’ jadi akhir yang cukup sedih buat semua pikiran dan hasratnya Indah.
Puisi ini sebenernya ga perludijelasin karna puisi ini udah lumyan cukup jelas maknanya. Yang bikin bagus dari puisi ini adalah si Indah bisa bikin bait bait yang rapi, terarah, tempo perasaanya naik dangan teratur dan pasti, ga emosianal lompat lompat. Selain itu kata kata yang dipilih juga bagus dan lebih bagusnya maksudanya bisa dimengerti. Di akhir puisi ini, di bait terkhir, Indah mengkahiri kerinduanya dengan satu kalimat yang sedih dan menutup semua bait bait di atasnya dengan sempurna; mengakhiri kerinduan dengan kenyataan ga bisa ketemu cinta, kerinduan Indah ga bisa dilampiaskan dengan ketemu cintanya.
Aku menempuh 1000 mil,
demi mencari ujung dunia
(Disana pengembara melepas surat-surat kekasihnya, dan menjatuhkan tubuhnya, bersamanya …)
Depok,
(terinspirasi dari Creed “One Last Breath”)
8 April 2007
-indah-
zaman edan
berteriak hingar
"que sera-sera"
relativitas
probabilitas ganda
mitos adalah kitab budaya
dan
peradaban dibawah sadar
adalah peradaban tanpa kemanusiaan ….
——-makhluk sunyi,
bersembunyi dibawah ketiak malam,
penonton setia teaterikal zaman
Menteng, 3 april 2007
-indah-
Untuk pertamakalinya Temis membuka kain penutup mata. Terkejutlah Ia, Api Tartar berkobar hebat. Manusia tidak berdosa menggeliat di atasnya. Zeus telah menipunya untuk kesekian kalinya. Sungai Stinks pun surut. O…itukah sebabnya hujan Stinks berabad-abad hingga manusia selalu lupa ?
Seorang anak kecil berpakaian compang-camping mendekatinya. Berbisik halus….
”Dewi ceritakan kepadaku apa itu keadilan ? ”
”Keadilan adalah kebahagiaan sosial” sahut Dewi dengan senyuman
”Dimana keadilan, Dewi ?”.
Untuk beberapa saat dewi diam, memandang Api Tartar, lalu berkata lirih, getir…
”Keadilan adalah kerinduan abadi manusia akan kebahagiaan ”
Menteng, 4 April 2007
-indah-
Petang terhirup sepi
Kubuka pintu waktu,
bulir-bulir salju mendesak,
mengendap
Kau berkata :
Tutup Pintu !
Waktu membuatmu membeku !
Berbaringlah bersamaku …..
Perapian menunggu
Sebait sajak terbakar sudah
Ada hangat mengerjap, berulang
Sederhana ….
Sementara ….
( Sajak membatu,
Aku meluruh menjadi abu )
Menteng, 2 April 2007
-indah-
Ada yang ingin disampaikan angin
Dalam desirnya yang dingin
Mengajak semua bergerak bersama
Makna dibalik irama
Bias, lepas, berhamburan
Menjadi partikel-partikel tak kasat mata
Tarian resah cabik hening
Seekor kupu-kupu hitam hinggap di beranda kayu
Tergoda tarian angin,
Ikut terbang menuju titik dini purnama
Awan hitam, mendekat serampangan
Setubuhi senja hingga pucat
Senja mendesah sejenak, menangis tanpa air mata
Tinggallah pengap nyaris berteriak !
(Aku menyambut alam dengan asa mengambang.
Satu pijar sinar hanya lampu taman di tepi kolam )
Cibogo, 26 Maret 2007
-indah-
Pagi di Cibogo tiada beda
Matahari yang sama perlahan menaiki puncak gunung
Percumbuan dini, dingin
Bermula embun, gunung mendesah
Ada gairah di pagi itu
Bulir keringat keluar dari celah bebatuan
Waktu membawa keduanya hanyut
Matahari bergerak semakin liar
Mengecup penuh tubuh gunung
Hutan-hutan hijau yang merekah,
Tak lupa disisirnya pula.
Membelai semakin dalam
Tak disangka sinar pagi itu hinggap juga
Pada lubang hitam, liang gua
Gunung di pagi itu
Tak lagi perawan
Cibogo, 27 Maret 2007
-indah-