Akhir Puisi Sempurna
March 30th, 2007 by indah-fib-uiPuisi Sempurna
Terhunus pedang temaram
Di ujung gang pelacuran
Terkapar
Roh melayang
Puisi mati penasaran
Cibogo, 26 Maret 2007
-indah-
Puisi Sempurna
Terhunus pedang temaram
Di ujung gang pelacuran
Terkapar
Roh melayang
Puisi mati penasaran
Cibogo, 26 Maret 2007
-indah-
Dear My Friends, kau katakan aku berubah. Dari aktivis jalanan yang selalu megang toa sekarang jatuh pada dekapan puisi melankolis, sampai ada teman yang berucap "Indah, sekarang kamu ada di dimensi mana ?". Indah tidak berubah, my friends. Dia tetap seperti yang dulu hanya saja suasana sekarang memang lebih melankolis. Bagaimana tidak, sehari hanya berhadapan dengan huruf dan huruf, terpaksa merangkai hingga menjadi lukisan air realita. Mencoba mengatur huruf-huruf agar dapat ditemukan kembali di kemudian hari. Jenuh ? sangat ! aku merindukan canda-tawa dari sudut pusgiwa. Aku merindukan hingar bingar serta asap kansas. Aku merindukan dongeng dosen-dosen di kelas. Aku merindukan semua pekik dan histeria dari kampus tercinta. Dan aku tetap disini berhadapan dengan huruf-huruf yang nyaris basi !
dear my friends, coretanku bukan puisi. Ini sebuah diary dari seorang indah bodoh. Selalu bercerita tentang kesehariannya dan seseuatu yang unik dimatanya (Kau masuk dalam puisiku, kau unik dimataku :).Coretanku bukan puisi meski beberapa kebetulan berbentuk seperti puisi. Puisi bahasa tertinggi dan coretanku bukan puisi ! Puisi sangat universal sementara coretanku sangat personal. Apa lagi ? banyak ! dan seorang indah yang tidak pernah mengecap teori estetika tidak akan mungkin melakukannya. Memang, namaku indah tapi ini bukan indah! Indah yang ini masih mengeja kata i…n…d…a…h…hingga mengetahui apa arti dirinya.
Dear my friends, aku masih tetap mencari makna semesta dan hakikat aku sebagai manusia yang hidup diatasnya. Entah sampai kapan pencarian ini tapi sungguh ini adalah petualangan yang mengasikkan lebih dari sekedar pendakian alam. Dan aku percaya walau tertatih-tatih, terseok-seok, meringis hingga menangis. Di ujung senja pasti terbahak-bahak. Hahahaha
Menteng, 22 maret 2007
-indah-
SEPI (1)
Sia-sia semua lagu yang mengalun
Karna tak ditemukan keramaian
Semua berawal dari ada menjadi ketiadaan
Keabadian adalah semu, kala
Tirai pertunjukkan menutup
Perempuan muda memandang congkak
Ruang bisu dalam tabung
Akhirnya ia terbangun,
lalu menangis seketika
Hening ……
Depok’o6
-indah-
SEPI (2)
Sepi, bagaimana melukiskan kau ?
Kau udara,
hadir di setiap nafas waktu
hingga usia terhenti,
kau mati
Aku abadi tanpa sepi…
Salemba, 21 Maret 2007
-indah-
Themis pergi ke pasar
Menawar obat bagi luka berhimpitan
Zeus mengetuk palu kehormatan
Riak hambar mengalir di persidangan …..
Menteng, 14 Maret 2007
-indah-
Tarian angin, galau, gemulai Satu generasi berharap hujan hapus luka Menteng, 13 Maret 2007
Menghempas dedaunan kering, terabai
Matahari
Penuh
Mendekap bumi
Panas …
Lambat, pijar titik-titik api
Seperti neraka, kita disana !
Entah, adakah tawa tersisa ?
-indah-
Catatan Kaki :
* Judul diatas dimbil dari judul pertunjukkan teater tanggal 13-14 Maret di Gedung Kesian Jakarta (GKJ) Pertunjukkan ini merupakan hasil kolaborasi UKM Bidang Seni Universitas Indonesia yang terdiri dari Liga Tari, Teater UI, Marching Band, Orkestra Simfoni dan Paduan Suara. Sampai detik ini saya masih terpesona pada Tarian Angin dan Dramatisasi Puisi Sutardji (Tanah Air Mata) yang disajikan semalam dengan luar biasa. Bravo UKM Seni UI !
Malam mengadu rindu
Kekal, menjelma kelambu
Tak satu kata beradu padu
Pada kotak merah jambu
Aduhai cintaku diujung tandu
Dibawa angin musim haru
Pada sabit berjengger buludru
Dibawah, aku mengadu rindu
Nama terus bergema
Entah mengapa
Entah menyapa
Entah dimana
Kususuri tapak waktu lalu
Hitung pasir yang berderas jatuh
Diwaktu lalu
hingga ku merindu
Tak jua nama henti bergema
Hasrat ikuti gema nama
Dalam seribu tanya
Sedang apa kau disana ?
Kecut hati amatlah dungu
Tatkala suara tak dapat melagu
Kecut hati sisir nama itu
Pada kertas kaca, dunia maya
Sayangnya, kau tak pernah ada
Tinggalah sendiri, aku
Terus mengadu rindu
Hingga berharap pada bintang jatuh
Kian kutunggu tak pernah jatuh
Rindu dimalam itu, Rindu lirih melagu
Depok, 2007
-indah-
GOVERNMENT PC
File Download-Security Warning
Name : Dukkha * Aceh, 2,3184 giga dukkha
Type : SOS ASAP
From : 01-07
Do you want to open or save this file ?
> Cancel
Task Manager Status:
Sims City 1 (playing)…..running…..
ACEH PC
Task Manager Status:
MP3 07 Sum 41 Still Waiting (playing)…running… ………………………………………..
Menteng, 3 Maret 2007
-indah-
Catatan Kaki :
* Dukkha adalah satuan penderitaan manusia. Istilah ini dibawa oleh Professor Teuku Jacob pada acara Pidato Kebudayaan dan Seminar “Manusia,Kekerasan dan Nir Kekerasan” Tanggal 25 Februari 2000 di Gedung Pertemuan UGM Yogyakarta. Ada 9 tahapan Dukkha yaitu : tahap terasa, mengganggu, cukup mengganggu, perlu pertolongan, mengganggu kehidupan sehari-hari, amat sangat mengganggu, payah, tak tertahankan sehingga ingin mati saja. Dari satuan ini dapat dihitung berapa besar satuan Dukkha yang dialami suatu bangsa (Gross National Dukkha). Bila bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk 210 juta mengalami Dukkha dengan tahapan tertinggi maka satuan dukkha yang dialami bangsa Indonesia menurutnya dalam satu tahun mencapai 89.850 mega dukkha. Dengan perhitungan : 210 jiwa x 9 (tahapan) x 360 hari = 89.850 mega dukkha Sementara bila di Aceh terdapat 100 ribu warga yang terkena dampak DOM dengan tahapan 5 selama sepuluh tahun, maka satuan dukkha yang dialami warga aceh mencapai 1,85 giga dukkha. Ditambah lagi penderitaan sekitar 80 ribu rakyat aceh selama dua tahun pasca tsunami dengan tahapan sampai 9 tahapan. Berarti total Dukkha masyarakat Aceh hingga tahun 2007 mencapai : 2,3184 giga dukkha